REMAJA DAN CITA-CITA

REMAJA DAN CITA-CITA

Pdt. Fransiskus S. Nahak

Perlu membedakan antara minat dan cita-cita. Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran perasaan, harapan, pendirian, atau kecendrungan lain yang mengarahkan individu pada suatu pilihan tertentu. Misalnya remaja berminat terhadap beberapa permainan untuk mengisi waktu luang. Sedangkan cita-cita merupakan perwujudan dari minat, dalam jangkauan masa depan, seseorang merencanakan, dan menentukan pilihan pendidikan, jabatan, teman hidup dan sebagainya. Misalnya cita-cita untuk melanjutkan sekolah, cita-cita menjadi polisi, tentara, dokter, guru, dll.

Cita-cita itu sebuah proses yang dapat berkembang atau bahkan berubah. Menjelang masa dewasa,  umumnya cita-cita itu akan tampak lebih jelas.

Tentang perkembangan cita-cita ini, Eli Ginzberg membaginya menjadi tiga, yaitu:

  1. Periode pemilihan fantasi (sebelum usia 11 tahun)
  2. Periode pemilihan sementara (antara usia 11 – 17)
  3. Periode realistis (antara usia 17 sampai dewasa)

Selain dari aspirasinya sendiri, cita-cita remaja banyak dipengaruhi oleh minat orang tua dan minat orang-oarang di sekitarnya. Persoalan sering muncul jika ada perbedaan yang tajam antara cita-cita remaja dan keinginan orang tua. Sebagai remaja perlu memahami prinsip ini agar cita-cita dan keinginan tersebut dapat dipadukan.

 

APA CITA-CITAKU? APAKAH AKU MENGENAL KEMAMPUANKU?

  1. Pengenalan Diri

Prinsip pertama adalah mengukur kemampuan diri sendiri. Kemampuan intlektual seseorang hanya dapat dikenal secara tepat oleh dirinya sendiri. Jika kurang mampu, misalnya di Fisika buanglah jauh-jauh keinginanmu untuk studi di jurusan fisika. Sendainya kita berkacamata, bermasalah dengan gigi, postur tubuh, tidak perlu bercita-cita untuk menjadi tentara atau polisi. Hedaklah masing-masing remaja menggali kemampuan dan bakat.

  1. Pengembangan Diri

Seiring dengan mengenali kemampuan diri, tugas berikutnya adalah mengembangkan kemampuan tersebut. Tanaman akan tumbuh subur bila dipelihara dengan baik. Demikian pula kemampuan kita akan berdaya guna jika kita mengembangkannya. Sebaliknya kemampuan kita akan hilang dan tidak berarti jika tidak dikembangkan.

  1. Motivasi yang Mulia dan Kuat

Anton menatap para prajurit yang sedang bebaris di depannya. “Wah, betapa gagah perkasa mereka itu. Jika sudah besar nanti aku ingin seperti mereka. Begitu gagah, berwibawa, dan pasti akan membuat orang takut padaku.”

Pengalaman Anton bisa juga terjadi pada kaum remaja saat mereka menentukan cita-citanya. Tetapi pada kasus Anton tampak ada sesuatu yang kurang pas. Bercita-cita menjadi prajurit? Bukankah menjadi prajurit adalah cita-cita yang mulia? Benar! Tetapi perhatikan motivasi Anton. Ia bercita-cita menjadi prjurit dengan suatu motivasi supaya ditakuti arang. Bercita-cita menjadi prajurit adalah hal yang mulia bila dilandasi dengan tujuan yang mulia. Kasus Anton ini hanya merupakan contoh kecil dari kekeliruan yang sering dilakukan oleh sebagian besar remaja. Sebuah cita-cita yang luhur tidak terlepas dari motivasi yang mulia.

Seiring dengan perkembanagan zaman yang begitu pesat, tingkat persaingan dalam masyarakat pun semakin ketat. Satu jabatan dapat menjadi rebutan lebih dari seratus orang. Dengan adanya persaingan yang sangat ketat ini, maka remaja mau tidak mau harus memiliki motivasi yang kaut. Motivasi yang jelas dan mulia merupakan dukungan mental yang memacu kita berjuang tarsus mewujudkan cita-cita. Selain itu kita juga harus meluruskan motivasi kita. Menjadi prajurit adalah cita-cita yang mulia jika dilandasi keingina berperan serta dalam menjaga kedaulatan Negara. Seorang akuntan yang bermotivasi ingin mendapat kekayaan adalah sangat berbahahaya. Juga seorang pemimpin bermotivasi kakayaan sangat berbahaya. Coba renungkan, apa motivasimu dalam memilih sebuah cita-cita?

Berbicara tentang cita-cita bukan hanya berbicara tentang masa depan tetapi juga tentang masa kini. Kita dapat meraih masa depan jika kita mempersiapkannya dari sekarang. Karena itu sahabat-sahabat remaja, kenali dirimu dan kembangkan kemampuan dengan motivasi yang kuat dan benar.

Sahabat-sahabat remaja ada landasan firman Tuhan untuk kita. Libatkan Tuhan Allah dalam perjuangan meraih masa depanmu. Firman Tuhan mengatakan: “Taatilah selalu kepada Allah, supaya masa mudamu terjamin, dan harapanmu tidak hilang.” (Amsal 23 : 18). Ketaatan kepada Tuhan menumbuhkan sikap yang bijaksana dalam menentuka arah hidup kita. Dalam Amsal 24 : 14 Tuhan menjanjikan kita masa depan yang cerah, “Jika engkau bijaksana, cerahlah masa depanmu.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *