CATATAN TERKAIT BULAN BUDAYA DI GMIT

CATATAN TERKAIT BULAN BUDAYA DI GMIT

Oleh : Pdt. Dr. Mery Kolimon

(Ketua Sinode GMIT periode 2015 s/d 2019 dan 2020 s/d 2023)

Beberapa waktu yang lalu, Klasis Flores mengajak saya berdiskusi melalui Zoom terkait pelaksanaan bulan budaya. Sebelum diskusi, saya sempat meminta masukan sejumlah kawan terkait refleksi mereka: setelah kurang lebih 9 tahun merayakan Bulan Budaya di GMIT, apa saja hal-hal baik dari perayaan bulan budaya di GMIT dan apa yang merupakan tantangan dan kelemahan?

Kami mencatat beberapa hal yang positif.

1. Bulan budaya membuat jemaat bersemangat: memperkuat koinonia, termasuk relasi antar generasi. Bulan budaya membangun kesadaran untuk mencari anggota-anggota yang tersiram/terserak di kehidupan kota, mengajak masuk dalam wadah suku masing2; mulai mencari dan belajar nilai, nyanyian, tarian budaya mereka, bahkan mulai mempersiapkan pemimpin dlm organisasi budaya mereka. Selain itu Bulan Budaya memperkuat ikatan relasi para perantau: berkumpul, berdiskusi, berbagi yang mereka miliki untuk kegiatan etnis, share ketrampilan bikin kue lokal, masakan, anyaman dalam budaya mereka, itu semua memperkuat kehangatan dan kerjasama memasuki ibadah

2. Melestarikan budaya lokal yang hampir punah: membuat kita menghargai budaya lokal, tidak menganggapnya kafir. Kalau dulu kebanyakan misionaris Eropa memandang budaya lokal sebagai kafir/mes okan, dan pada Tragedi anti-komunis ‘65-66 budaya lokal dihancurkan), kini ada kesadaran baru bahwa dalam budaya Tuhan juga bekerja dan penting kita semua, termasuk generasi muda, belajar bahasa dan budaya lokal. Bulan budaya mendorong kita menghargai hal-hal yang baik dalam budaya untuk mendukung pelayanan.

3. Selain itu bulan budaya juga menjadi momen belajar lintas budaya: kita kenal belajar budaya suku lain yang ada di wilayah pelayanan GMIT. Dengan demikian gereja juga mulai melihat dan mengakui identitas beragam dalam jemaat serta ada ruang untuk menyembah Tuhan dari kekayaan budaya masing-masing.

4. Mendukung para penenun dan meningkatkan nilai jual para pelaku industri (untuk hal ini GMIT pernah mendapat penghargaan dari Pemprov NTT).

Tapi juga ada sejumlah catatan kritis yang perlu kita perhatikan dan perbaiki:

1. Ada kekuatiran bahwa bulan budaya dapat memperkuat primordialisme etnis dan sub-etnis: seperti saling bersaing antara suku-suku. Jika kita tidak waspada, ibadah yang mestinya memuliakan Tuhan justeru bisa menjadi ajang penonjolan pribadi/kelompok. Bukan sembah Tuhan tapi makan puji. Di sisi lain kita bersyukur bahwa kualitas koinonia jemaat-jemaat GMIT cukup matang. Tidak pernah terdengar selepas bulan budaya lalu ada konflik dan perpecahan karena perbedaan suku.

2. Ada yang kuatir ini bisa membawa kembali pada penyembahan berhala, karena penggunaan unsur-unsur budaya seperti kepala kerbau, darah ayam, dll. Untuk itu penting sekali pendampingan para pendeta dan majelis jemaat dalam semua proses persiapan liturgi. Hal ini terkait kenyataan bahwa belum semua jemaat mempersiapkan proses belajar bersama, dalam hal berteologi tentang nilai-nilai budaya. Penting sekali ada diskusi teologi di jemaat mengenai nilai-nilai budaya yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam ibadah.

3. Menjadi ajang fashion show, dan belum sungguh-sungguh berteologi tentang makna budaya. Dalam hal ini kita semua perlu mengingat hakikat liturgi: menyembah Allah bukan manusia. Kita semua, para pendeta, majelis jemaat non-pendeta, segenap jemaat yang menyembah Tuhan dengan budaya kita masing-masing perlu mengingat bahwa dalam ibadah, kita bawa hidup dan budaya kita untuk dipersembahkan bagi Tuhan. Yang kita sembah adalah Tuhan Allah sendiri dan bukan suku kita, atau sekedar menampilkan keindahan busana dan unsur-unsur adat. Tuhan yang dimuliakan, bukan kita cari nama. Kalau selepas ibadah, buat foto dan muat di media sosial, jadikan itu suatu kesaksian tentang kebaikan Tuhan dalam budaya kita, bukan kesaksian tentang kebaikan kita atau kehebatan kita. Jangan curi kemuliaan Tuhan.

4. Keluhan bahwa ibadah menjadi sangat panjang dan tidak ada pesan yang jelas. Ini memberi kita pelajaran bahwa tidak semua unsur dalam budaya mesti dibawa masuk dalam ibadah jemaat. Cukup unsur-unsur yang sesuai dengan tema ibadah agar memperkuat penyembahan kita kepada Tuhan dan menegaskan nilai-nilai iman yang hendak kita hidupi bersama. Hindari juga tarian yang mengandung kegarangan dan kekerasan atau yang eksotis. Baik sekali kalau majelis jemaat dan tim liturgi mengembangkan koreografi tarian untuk ibadah yang benar-benar menampilkan gerakan-gerakan yang mengekspresikan rasa hormat dan cinta pada Tuhan dalam ibadah jemaat.

PPE GMIT menjelaskan kepada kita Allah juga bekerja dalam budaya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan budaya itu mendukung kita untuk hidup hormat dan mengasihi Tuhan, mengasihi sesama dan alam semesta. Jadi yang kita hargai bukan hanya unsur-unsur fisik budaya seperti pakaian adat, musik, dan makanan khas; tetapi lebih dalam dari itu adalah nilai-nilai luhur dalam budaya seperti nilai gotong-royong, hormat kepada yang lebih tua, mengasihi yang lebih muda, tidak merusak alam, dst.

Pada saat yang sama dalam budaya juga ada keberdosaan manusia. Karena itu kita juga harus bersikap kritis terhadap budaya. Misalnya pembenaran kekerasan terhadap isteri karena belis, sehingga kalau ada laki-laki di Timor pukul dia punya isteri dia bilang “au teop au bijael”. Atau orang Alor bilang “saya pukul saya punya moko gong”. Sebagai pengikut Yesus, kita lestarikan budaya yang baik, adat istiadat yg positif, dan sekaligus berani dan terbuka untuk mengkritisi serta mengubah budaya yang mengandung kekerasan atau kejahatan.

Selamat merayakan Bulan Budaya sebagai persembahan kepada Tuhan dan berefleksi tentang nilai-nilai budaya untuk kehidupan yang adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Tuhan (band. Mikha 6:8).

Salam kasih

dari Ume Halan, Kampung Bonen.

Sumber : FB Mery Kolimon II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *