AGAMA ARENA PERTANDINGAN

AGAMA ARENA PERTANDINGAN

Oleh : Drs.Yorhans S. Lopis,M.Si

(Kepala Biro AUAK Institut Agama Kristen Negeri Kupang)

 Agama adalah candu masyarakat, demikian salah satu pernyataan Karl Marx.

Jika dilihat dari konteks dimana Karl Marx menuliskan pernyataan ini kita akan menemukan sejumlah maksud positif, tetapi karena pernyataan ini adalah kalimat

terbuka maka memungkinkan adanya penafsiran terbuka sehingga makna negative

dari pernyataan ini akan lebih sering ditonjolkan. Misalnya karena agama maka terjadi berbagai konflik. Dalam konteks demikian tepatlah yang dikatakan oleh Aldous Huxley seorang penulis Inggris dalam menanggapi pernyataan Karl Marx dengan mengatakan “Karl Marx pernah berkata “Agama adalah candu masyarakat” apakah

itu benar atau salah tidak penting, tapi yang paling benar adalah bila dikatakan, “candu

adalah agama masyarakat”. Aldous Huxley memahami bahwa agama tidak salah,

tetapi yang salah adalah masyarakat menjadikan agamanya sebagai agama paling

benar, paling baik atau menjadikan agama secara eksklusif. Seperti menjadikan

agama sebagai aspirasi dalam kebijakan-kebijakan politik bernegara.

Seperti yang dituliskan oleh AFP pada Jumat 28 Pebruari 2021 bahwa “ Terjadinya amandemen undang-undang kewarganegaraan bertujuan mempercepat kejelasan status kewaganegaraan bagi penganut agama minoritas termasuk Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsis dan Kristen dari tiga negara tetangga yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di lain pihak partai-partai opisis di India mengatakan bahwa undang-undang hasil amandemen itu tidak konstitusional karena mendasarkan kewarganegaraan pada agama seseorang akan semakin diskriminatif”.

Berdasarkan argumentasi sederhana di atas mari kita lihat data penduduk di India dan Pakistan setelah pemisahan pada tahun 1947 yaitu 80 % penduduk India memeluk agama Hindu, populasi umat Islam sekitar 200 juta orang atau sekitar 14 %, 10 juta warga beragama Hindu dan Sikh terpaksa keluar dari Pakistan yang waktu itu masih terbagi menjadi dua bagian yaitu 7 juta muslim harus pindah dari India. Dan tidak sedikit juga yang pindah ke Pakistan.

Data sederhana di atas memberi gambaran bahwa agama menjadi salah satu arena paling subur mencapai kekuasaan dan paling subur mengadu domba masyarakat. Selain di India, masalah Israel Palestina yang sampai hari ini belum selesai, untuk itu Fatton mengatakan bahwa selama lima puluh tahun okupasi Israel

berlangsung tidak sedikit warga palestina yang kehilangan hak-hak hidupnya. Tak

jarang kita menemukan bukti-bukti pelanggaran HAM yang dilakukan otoritas Israel terhadap warga Palestina seperti pembatasan hak, penyiksaan, penahanan, hingga pembunuhan tanpa alasan yang jelas. Kebenaran pernyataan Fatton ini pun masih

harus disandingkan oleh kenyataan di lokasi dengan beberapa pernyataan mendasar

seperti apakah benar bahwa perang Israel Palestina karena agama ? ataukah karena

factor – factor lainnya.

Setiap lemparan isu yang bersentuhan dengan agama pasti public selalu

menghubungkan dengan kasus penodaan agama yang dialami oleh Ahok ? Misalnya

pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Agama diwanti – wanti oleh sebagian

pengamat politik mirip dengan yang diucapkan oleh Ahok. Apakah Ahok benar – benar menodai agama Islam ? Kita tidak dapat menjawab tetapi yang jelas bahwa Ahok

sudah menerima hukuman dan menjalani hukuman karena keputusan Hakim bahwa

Ahok telah menodai agama Islam ? apabila diteruskan pertanyaannya apakah tujuan

pernyataan Ahok dalam kampanye tersebut untuk menodai Agama Islam ? Jawaban dari pertanyaan ini yang tahu hanya Ahok sendiri ? Menariknya bahwa agama kembali menjadi alat untuk memenangkan keputusan.

Dari sederetan fakta dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara di atas, kita akan sampai pada pertanyaan penting benarkah agama adalah suatu arena pertandingan kepentingan ? Apakah hakekat agama yang sebenarnya sehingga masyarakat tidak lagi bersikap eksklusif dengan agama yang dianut tetapi dengan agama ini masyarakat bersikap moderat. Tujuan akhir dari tulisan opini ini adalah menolong pembaca untuk menemukan sedikit kebenaran agama sebagai arena kebaikan bersama, bukan arena kepentingan kelompok atau individu. Untuk

membantu pembaca menemukan sebagian kecil kebenaran itu maka dibawah ini

penjelasan tentang agama arena pertandingan dari sudut pandang politikus,

budayawan, cendikiawan, pemerintah akan diakhiri dengan penjelasan dari sisi Iman

Kristen tentang agama sebagai arena kebaikan bersama.

1. Pandangan politis tentang agama

Albert Hubbard seorang penulis Amerika Serikat yang hidup di tahun 1856 sampai

dengan 1915 menuliskan bahwa, “ agama yang bersifat formal dibentuk khusus untuk

para budak, yang isinya merupakan pelipur lara yang sama sekali tidak tersedia di dunia.” Hubbard membagi agama menjadi dua bagian yaitu agama non formal dan agama formal. Agama formal dibentuk oleh penguasa-penguasa untuk menguasai rakyat dengan argumentasi-argumentasi teologis. Oleh karena itu ditempat yang berbeda Hubbard mengatakan bahwa Tuhan memang baik sebab tidak menyediakan kejahatan selain ketakutan. Pertanyaannya apa demikian agama merupakan arena pertandingan politik ? seperti yang dituliskan oleh Daniel Deleon (1852-1914) seorang Sosialis Amerika bahwa “begitu agama berorganisasi dan mempunyai kredo khusus,

maka saat itulah agama menjadi kekuatan politik”. Sejak dari Musa sampai Brigham

Young, setiap penemu kredo selalu merupakan pembangun negara.”

Dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia ada berbagai kalangan menghendaki agar agama menjadi satu-satunya aturan pokok yang terbentuk dalam Peraturan daerah atau Perda. Ketua Umum Partai Nasdem berpendapat bahwa

peraturan daerah (Perda) berdasarkan hukum agama belum perlu diterapkan di Indonesia. Walaupun di beberapa daerah telah memiliki Perda Syariah. Untuk itu Surya Paloh mengatakan bahwa “kami menerima dan menghormati (Perda Syariah Aceh) itu, kalau di tanya apakah daerah lain perlu menerapkan Perda Syarih yang baru, pandangan Nasdem jelas yaitu tidak perlu ada jika tidak ada urgensinya buat apa, karena itu kita wajib menjaga Pancasila sebagai ideology kebangsaan.” Dari konteks demikian Surya Paloh mengakui bahwa agama memiliki kekuatan untuk menciptakan perdamaian dunia tetapi dalam konteks kenegaraan yang beragama, agama menjadi perangkat lunak yang dapat menciptakan perpecahan oleh karena itu agama janganlah dijadikan perangkat hukum untuk menciptakan persatuan bangsa

karena bangsa Indonesia telah memiliki Pancasila sebagai perangkat persatuan

bersama yang juga menerima dan mengakui agama sebagai salah satu perangkat penting penciptaan perdamaian dalam masyarakat. Kalau demikian apakah agama boleh menjadi arena pertandingan politik ? Surya Paloh secara sadar menempatkan agama sebagai perangkat kebaikan bersama dalam menata kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

2. Pandangan budayawan tentang agama

Salah satu budayawan yang tidak asing bagi bangsa Indonesia ada adalah Affandi

Koesoema yang lahir di Jawa Barat, 1907 meninggal 23 Mei 1990. Ia adalah seorang pelukis hebat bangsa Indonesia. Karya – karyanya banyak diakui di Indonesia dan dunia. Dengan demikian, Affandi Koesoema lebih banyak berbicara tentang agama

dari lukisannya. Seperti yang dinyatakan oleh Basuki Resobowo bahwa dalam rapat-

rapat Affandi kebanyakkan diam, kadang-kadang tidur, tetapi ketika sidang komisi

Affandi bicara secara lantang. Yang ia bicarakan dalam komisi adalah perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wiyana, kenalan Affandi

sejak sebelum revosuli. Salah satu topik pembicaraan Affandi adalah tentang

prikebinatangan, bukan perikemanusiaan yang dianggap lelucon pada waktu itu dan

sangat fenomenal pada tahun 1955. Dari konteks ini Affandi menilai bahwa agama

yang menekankan doktrin saja belum dikatakan layak, yang dibutuhkan perilaku

hidup. Bukan tentang apa yang kita Imani tetapi apa yang kita amalkan. Karena

agama berbicara tentang iman dan amal. Amal menggambarkan iman dan iman

menjadi pedoman amalnya. Kembali lagi disimpulkan bahwa agama menjadi arena

kebaikan bersama bagi seluruh ciptaan Tuhan.

3. Pandangan cendikiawan tentang agama

Albert Einstein seorang ilmuwan Swiss – Amerika, kelahiran Jerman menuliskan

bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama akan timpang, sedangkan agama tanpa

pengetahuan akan buta. Pernyataan Albert Einstein memberikan gambaran bahwa

agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua aspek yang tak terpisahkan; aspek

yang satu melengkapi aspek yang lainnya. Agama menjadi penghubung

rasionalisme dengan spiritualitas. Agama menjadi arena harmonisasi manusia

dengan sesamanya, manusia dengan Tuhannya. Einstein memahami benar bahwa

agama dan ilmu tidak boleh dipisahkan tetapi disejajarkan. Untuk saling menerang

menggunakan kelebihan masing-masing aspek. Agama mencerahkan ilmu agar

terjadi kedamaian dalam hidup bermasyarakat, ilmu membuat agama diterima dengan akal. Bagi Auguste Comte agama adalah ilusi masa kanak – kanak, yang berkembang sedemikian rupa karena pendidikan tertentu. Comte menempatkan agama sebagai proses transfer of knowledge, sesuai tingkat pengetahuan yang dimiliki atau

singkatnya Comte menempatkan agama sebagai suatu proses pendidikan menjadi

baik. Itu berarti bahwa perilaku agamanya baik apabila memiliki pengetahuan yang

baik. Pada titik ini pun kita akan sampai pada kesimpulan yang sama bahwa agama kembali

menjadi arena pertandingan pengetahuan dengan perilaku hidup atau dengan kata lain agama menjadi pertarungan antara iman dan amal. Walaupun demikian masih ada banyak orang berilmu belum beriman dan sebaliknya orang beriman juga masih sedikit yang berilmu. Hal ini terlihat dari amal dan iman yang tidak selalu sama, masih saja ada kejahatan yang dilakukan oleh orang beragama menggunakan nama agama

sebagai alasannya ?

4. Pandangan pemerintah tentang agama

Beberapa bulan lalu ada sebuah video cukup viral tentang Menteri Agama RI Yaqut

Cholil Qoumas, saat memberikan ucapan selamat merayakan hari raya Nawruz

kepada komunitas Baha’i. Selain itu ada video yang dibuat oleh Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas berkaitan dengan perayaan hari ulang tahun Reformasi ke 504 dan HUT GMIT ke 74. Pada konteks ini tentunya kita selalu bertanya apakah yang dipahami oleh Menteri Agama Yaqut Qoumas tentang Agama ?

Yaqut Cholil Qoumas memahami agama sebagai inspirasi bukan aspirasi. Yaqut Cholil Qoumas memandang bahwa agama selalu harus memberikan inspirasi kebaikan bagi seluruh umat manusia yang berada sekitarnya. Dengan demikian agama selalu harus dijadikan arena kebaikan bersama seluruh umat masyarakat.

Agama menjadi tempat orang belajar tentang kebaikan-kebaikan bersama. Kebaikan-

kebaikan tersebut dijadikan inspirasi perbuatan-perbuatan baik di masyarakat. Orang baik yang beragama agama adalah orang beriman. Orang baik tanpa agama adalah

orang beramal.

5. Pandangan orang Kristen tentang agama

Pada kesempatan ini saya hanya akan menguraikan secara sederhana mengenai

pandangan orang Kristen tentang agama. Saya mohon maaf bagi yang beragama lain

anggap saja ini motivasi kepada teman-teman yang beragama lain untuk menuliskan

pokok yang sama dari sudut pandang agama teman-teman. Salah satu pernyataan yang sangat familiar bagi orang Kristen dan selalu menjadi inspirasi bagi kehidupan orang Kristen adalah iman tanpa perbuatan adalah mati.

Pernyataan ini dituliskan oleh Yakobus yang dapat di baca pada Kitab Yakobus 2:26

yang lengkapnya tertulis demikian “ sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati,

demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. Pesan tulisan ayat ini

(Yakobus 2:26) jelas bahwa iman dan amal merupakan dua hal yang tidak

terpisahkan. Kembali agama menjadi arena kebaikan Bersama.

Dari uraian – uraian sederhana di atas sampailah kita pada suatu kesimpulan umum

bahwa orang beragama adalah orang yang membawa kebaikan bersama bagi seluruh kehidupan di dunia ini, orang beragama adalah orang yang membawa kebaikan bagi lingkungan hidup, sesama manusia dan alam semesta, sesuai dengan akar katanya agama yang berarti tidak kacau. Tidak kacau dengan diri sendiri yang berdampak pada orang lain dan lingkungan hidup. Agama adalah arena kebaikan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *