ALLAH BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU – Kisah Para Rasul 27:33-28:10

ALLAH BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU

Kisah Para Rasul 27:33-28:10

PENGANTAR

Pada tahun 1871 seorang komponis bernama Edward Hopper menulis syair bagi sebuah lagu yang akrab bagi kita saat ini: “Yesus, Kau Nakhodaku.” Yesus sebagai Nakhoda merupakan sebuah peran yang asing bagi jemaat mula-mula.

Lagu ini ditulis pada zaman di mana orang-orang Eropa melakukan penjelajahan samudra untuk menemukan benua-benua baru bagi kebutuhan industri dan perdagangan. Pelayaran-pelayaran besar, lama dan penuh resiko harus dilakukan oleh para pelaut. Bahaya selalu siap mengancam kapal dan para awak kapal. Kitab-kitab Injil menggambarkan Yesus sebagai yang berkuasa atas lautan. Ia juga siap menolong orang-orang yang dihantam badai dan nyaris tenggelam dan membawa mereka sampai kepada pelabuhan dengan selamat. Terinspirasi dengan itu Hopper memberi interpretasi baru bahwa Yesus adalah Nakhoda. Kemudian seorang pelaut Inggris yang termasyhur, Sir Humhrey Gilbert, mengatakan bahwa aku selalu dekat dengan Tuhan baik di darat maupun di laut. Ke mana pun ia pergi , ia tahu bahwa tak ada satu pun yang memisahkan dia dari Tuhan.

Salah seorang petani dari pedalaman Timor bercerita juga tentang bencana alam, seroja, tahun 2021. Hujan yang tidak berhenti membuat dia bersama istrinya harus bermalam di kebun. Pukul 21.00 WITA mereka merasa tanah seperti bergeser dan terjadi bunyi yang sangat hebat di sekitar mereka. Ketika pagi harinya, mereka melihat bahwa tanah di sekitar mereka telah bergeser karena longsor. Ia mengatakan bahwa Tuhan menolong mereka karena malam itu Tuhan bersama mereka di kebun.

Namun ada juga cerita yang sebaliknya, bencana membuat banyak orang yang kehilangan segala-galanya dalam hidup mereka termasuk orang-orang yang dikasihi.

Di minggu ketiga Bulan Lingkungan tema khotbah kita adalah Allah bekerja dalam segala sesuatu.

PEMBAHASAN TEKS

Cerita ini adalah pelayaran Paulus ke Roma sebagai tahanan untuk menghadap kaisar. Dalam pelayaran mereka diterpa angin badai yang dahsyat, yang disebut angin “Timur Laut” (27: 14). Paulus sebagai seorang tahanan mengingatkan mereka (27:10), namun orang yang di dalam lebih percaya kepada nakhoda dari pada Paulus (27:11). Ketika mereka diterpa badai yang dahsyat itu, mereka sama sekali tidak berdaya, mereka menyerah. Nakhoda yang dapat dipercaya pun tak berdaya (27:15).

Sudah beberapa hari mereka tidak makan, lalu Paulus berdiri di tengah-tengah mereka. Sebab hanya dialah yang tenang di kapal itu. Dengan suara yang mantap ia berkata kepada mereka. Mula-mula diingatkannya apa yang sudah dikatakannya tentang kejadian ini (27:21). Paulus, si tahanan ini, bukan nakhoda, namun ia meyakinkan mereka bahwa walaupun mereka dalam bahaya tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka di atas kapal ini binasa kecuali kapal ini (27:22).

Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang makan. Ia seperti seorang nakhoda dan merangkap kepala pasukan. Sekali lagi dengan keyakinan penuh ia menegaskan bahwa tidak ada diantara mereka yang mati, ia menggunakan istilah “tidak kehilangan sehelai rambut dari rambut kepalanya” (27:13). Penegasan ini penting bagi mereka yang ada dalam ancaman maut itu.

Paulus mengambil roti mengucap syukur (berdoa). Kita melihat bahwa Paulus merasa seolah tak ada ancaman. Ada penafsir yang mengatakan bahwa Paulus seorang pemimpin yang mengucap syukur di tengah badai lalu memberi mereka makan dan kuatlah hati mereka (27:35,36, 38). J.H. Banvinck, mengatakan bahwa contoh yang diberikan oleh seseorang dalam situasi yang tak ada harapan bagi orang lain merupakan Mujizat. Hal itu terjadi dalam cerita ini.

Mereka membuang seluruh muatan gandum ke laut sehingga kapal itu dapat berlayar di atas gelombang. Jalan untuk menyelamatkan diri adalah mereka harus sekuat tenaga mencapai pantai dan mendamparkan kapal itu di situ. Waktu mereka dibawa gelombang, mereka tidak terhempas oleh batu karang. Kapal itu terkandas di pasir, pinggir pantai. Masing-masing orang berusaha menyelamatkan dirinya. Perwira serta para prajurit bersepakat untuk membunuh semua tahanan kecuali Paulus, karena takut para tahanan melarikan diri, namun niat itu tidak terlaksana. Mereka semua berenang dan naik ke darat (27:42-44).

Ada hal yang sangat menonjol dari cerita ini. Pada saat yang paling genting dan paling berbahaya, pemimpin kapal mengakui Paulus sebagai pemimpin mereka walaupun dia adalah seorang tahanan. Semua orang tahu bahwa dia adalah seorang penjahat yang dalam perjalanan ke pengadilan di Roma. Meskipun demikian semua penumpang bahkan juga Yulias sang perwira pasukan dan prajurit-prajurit Roma, menaati dia sebagai pemimpin. Barclay, mengatakan bahwa manusia itu ada dua golongan, yaitu mereka yang dikuasai oleh keadaan dan mereka yang menguasai keadaan. Ada orang yang selalu bersandar kepada orang lain dan ada pula yang menjadi sandaran bagi orang lain. Paulus adalah termasuk orang yang menguasai keadaan dan menjadi sandaran bagi orang lain di saat situasi yang mencekam. Kemudian selama badai menerpa mereka dalam kapal itu, ia tidak pernah merasa takut.

Mereka di Malta (28:1). Banyak penduduk yang berdatangan sebab kapal yang kandas adalah perwira Romawi dengan banyak pasukannya. Mereka membawa berkas-berkas kayu untuk menyalakan api besar, lalu mengajak semua orang untuk duduk di situ. Orang-orang yang kedinginan itu pun berdianglah sambil mengeringkan pakaian yang sudah basah kuyup. Paulus selalu cekatan dan suka menolong. Menurut Barclay, itulah jiwa Paulus, spiritualitas Paulus, yang selalu ingin membantu orang. Ia turut pula memungut ranting-ranting kayu dan meletakan di atas api. Lalu keluarlah seekor ular dan menggigit tangan Paulus (28:3-4). Namun seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi pada Paulus. Dikibaskannyalah ular itu ke dalam api.

Peristiwa itu mengundang perhatian penduduk pulau itu karena bayangan mereka adalah bahwa Paulus orang jahat dan berbahaya, yang lepas dari bahaya di laut, tetapi tidak terlepas dari Dewi keadilan yang mau membunuh dia dengan pagutan ular. Namun setelah mereka melihat bahwa tangan Paulus tidak bengkak, ia duduk dengan tenang, berubahlah prasangka mereka bahwa Paulus adalah seorang Dewa (28:5-6).

Setelah itu Lukas menceritakan bahwa kurang lebih tiga bulan mereka tinggal di situ (28:11). Mereka disambut dengan ramah Publius, seorang Gubernur. Ayahnya sakit dan Paulus menyembuhkan dan banyak orang yang datang untuk dilayani dan disembuhkan (28 : 7 9).

PENUTUP

Renungan :

Pertama, Paulus berjiwa besar di tengah-tengah angin badai. Tidak takut. Mengapa dia berjiwa besar seperti itu? Karena ia tahu bahwa Allah yang mengutusnya ke Roma. Bukan lari dari pengutusan seperti si Yunus dalam PL. Yang mengutusnya adalah Allah Pencipta Dunia. Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma “sebab” kata Paulus “segala sesuatu adalah dari Dia, dan kepada Dia” (Rom. 11:36). Karena itu Dia, Tuhan, yang berkuasa atas badai.

Ketika musim penghujan tiba kita bersyukur bersama para petani karena bisa menanam, mata-mata air kembali hidup sehingga membuat masyarakat tidak kesulitan mendapatkan air. Namun ada ketakutan tentang banjir dan tanah longsor. Akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan gempa bumi yang berturut-turut.

Ada ancaman bagi para nelayan dan juga yang berlayar. Namun dari firman Tuhan ini kita belajar, Tuhan yang mengutus kita sebagai hamba-hamba-Nya untuk berkarya, entah kita mencari nafkah di tengah laut, berlayar, bekerja di kebun, tukang, pegawai, dll. Tuhan sendiri akan menyertai kita dari ancaman banjir, gelombang, angin badai dan tanah longsor. Paulus sangat berani dan menguatkan orang-orang dalam kapal karena keyakinan itu.

Kedua, gereja seperti Paulus yang berani dan menguasai keadaan. Gereja (kita) menjadi tempat sandaran bagi mereka yang ketakutan karena bencana yang mengancam kehidupan. Gereja tidak harus terus mencari sandaran.

Gereja berani berdoa dan bersyukur di tengah badai dan memberi mereka makan, menguatkan mereka yang tidak berdaya, dalam situasi apa pun. Jika Paulus tidak menjadi tempat sandaran, tidak meyakinkan mereka dan memberi mereka makan, ketika kapal terdampar maka mereka tidak bisa berenang ke pulau tersebut.

Kita akan segera memasuki musim penghujan, kita mengantisipasi bencana, namun menjadi peluang untuk kita menanam (ancaman dan peluang). Para pelayan berinisiatif menggunakan kesempatan ini (menguasai keadaan) untuk menanam sehingga ada lumbung, yang akan menjadi tempat sandaran saat kesulitan ekonomi. Dengan menanam kita mencegah bumi dan manusia dari bencana.

Ketiga, gereja yang meyakinkan tentang keselamatan tetapi juga memperingatkan tentang bahaya yang mengancam keselamatan. Paulus meyakinkan bahwa dalam kapal tidak ada yang akan kehilangan sehelai rambut dari rambut kepala. Ia tidak berdiri di atas kebimbangan, abu-abu, karena dia tahu tentang masa depan, yakin akan keselamatan. Bagi Paulus, Yesus adalah Tuhan yang menemaninya setiap hari, memberikan bimbingan, nasehat dan kekuatan. Paulus tahu kepada siapa ia percaya, bukan dia tahu apa yang dia percaya (2 Tim.1:12).

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahaya yang mengancam pelayaran. Di bulan lingkungan kita diingatkan bahwa krisis lingkungan menjadi bencana yang mengancam kehidupan umat manusia. Gereja menjadi garda terdepan untuk bekerja untuk mencegah bencana tersebut. Lakukan hal-hal kecil dalam lingkungan rumah kita.

Keempat, Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Tuhan bekerja melalui Paulus seorang tahanan, melalui bahaya di laut, ular yang memagut, kesembuhan ayah dari Publius dan orang banyak yang disembuhkan untuk menyatakan kemuliaan bagi bangsa-bangsa lain. Dalam situasi apa pun kemuliaan Allah dinyatakan melalui peristiwa tersebut.

Gereja terus bersaksi dalam situasi apa pun karena di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan. Kita juga belajar dari kesaksian mereka yang ditolong Tuhan dari bencana dan juga mereka kehilangan segalanya karena bencana. Amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *