BARU TIDAK SELALU BERMUTU KALAU OBYEK MISI YANG SAMA

BARU TIDAK SELALU BERMUTU KALAU OBYEK MISI YANG SAMA

Pdt. Frans Nahak

Kita hidup di dunia yang penuh dengan variasi. Rupa-rupanya dunia tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya. Selalu perlu sesuatu yang baru untuk menghidupkan semangatnya, apakah itu mutlak penting atu tidak. Ada beraneka makanan dari bahan yang sama, dibuat dengan maksud mengatsi kejemuhan manusia. Pakaian pun bermacam-macam bahan dengan potongannya; yang baru dihasilkan tidak selalu bermutu dari pada yang dulu, tetapi menjadi pilihan hanya karena sudah waktunya untuk ganti.

Adakah sesuatu pendorong istimewa bagi hasrat mengadakan variasi yang berkelanjutan? Kalau mencari kesempurnaan dapat dimengerti, tetapi hanya ingin pembaharuan untuk menunjukan manusia sedang bergerak ke tongkat zaman yang berikut, apa maknanya? Dihubungkan hasrat itu pada peristiwa yang disebut pembangunan, sampai di mana pembangunan itu mempunyai arti yang hakiki dalam rangka peningkatan manusia ke tujuan akhir. Namun mari kita tinggalkan filsafah yang tak akan berkesudahan dan merenungkan segi lain dari kehidupan.

Sudah sejak lama di pulau timor banyak aliran agama dan gereja yang muncul. Katakanlah ini manefestasi-manefestasi baru manusia menyatakan dan menghayati kepercayaannya. Untuk tetap tinggal dalam dunia Kristen. Entah berapa banyak gereja baru dan misi baru yang diilhamkan dari luar ke mari. Banyak yang mendapat pengikutnya bukan dari kalangan yang belum mengenal Tuhan tetapi yang dapat diyakinkan dari jemaat dari gereja-gereja yang sudah ada pula. Seperti kita memukat ikan peliharaan di kolam orang. Apa maksud dari pelayanan mereka? Biarkan saja pada hati nurani mereka yang terpanggil baginya. Pada akhirnya kita semua akan memberi pertanggungjawaban kepada Allah yang Esa.

Namun agaknya menarik untut diteliti dari kesadaran kita sebagai anggota gereja yang ada pengakuan imannya. Bagaimana sikap kita terhadap pandangan-pandangan yang baru tentang hubungan kita dengan Allah. Sebenarnya cara menyatakan iman itu yang memberi bentuk ritual kepadanya, dapat berkembang menyesuaikan diri dengan tata hidup zaman. Akan tetapi perubahan asasi, apalagi yang sudah berakar teguh pada persepsi manusia yang bergereja mempunyai konsekwensi yang  peka. Oleh karena itu harus dipikirkan dengan  tetliti dan harus digumuli dalam doa.

Marilah kita tinjau gejala dengan sisi positif dan negatifnya.

Pertama, Persekutuan Doa (PD). PD yang menggembirakan karena merupakan persekutuan dengan Tuhan dan sesamanya. Anggota PD pada umunya memiliki komitmen yang kuat kepada keyakinannya dan sangat militan untuk melayani serta bersaksi. Dalam PD saling menguatkan dalam doa bersama. Namun perlu diingat bahwa PD hanya salah satu pernyataan iman bukan satu-satunya. PD bukan ujud baru yang dapat menggantikan gereja. Tak ada dasar bahwa PD mengantikan gereja. Fenomenanya adalah rajin ibadah di PD namun gereja setiap hari minggu tak pernah hadir. Tidak hadir dalam kumpulan ibadah rumah tangga dan ibadah kategorial  lainnya. Hendaklah kita sadar bahwa ada persekutuan lain juga yang lebih menyeluruh dan hakiki yakni jemaat Kristus dalam ujudnya yang legetim, gereja. Kelembagaan formal buatan manusia, tetapi dibangun di atas kasih ilahi, yaiutu Yesus Kristus. PD dalam Gereja Masehi Injili di Timor sebagai unsur fungsional dalam gereja.

Kedua, Kebaktian Penyegaran Iman atau Kebangunan Rohani. Hal ini perlu mendapat sambutan yang baik, meskipun terkadang bergiat di luar rangka pelayanan dan tak atas nama gereja mana pun. Asal saja, janganlah kiranya gerekan itu mengidentifikasi diri suatu kekuatan di samping gereja dan berpretensi dapat menghakimi gereja.

Pembangunan rohani umat Allah pada hakekatnya adalah tugas gereja yang dalam kepercayaan kita diteguhkan untuk pekerjaan itu, alangkah baiknya, kebangunan rohani itu adalah penjelmaan kesadaran umat Allah yang berhimpun di dalam gereja. Walaupun diakui bahwa ada yang tidak puas dengan pelaynan gereja sebagai lembaga karena kekurangan-kekurangan gereja dalam pelayanan namun tetap dalam persekutuan sebagai warga gereja di mana kita berdiri dan mengungkapkan pengakuan iman kita.

Ada anggapan yang keliru bahwa ia keluar dari pesekutuan yang lama ke persekutuan yang  baru dia baru bisa menolong orang. Apa maknanya pula membentuk identitas baru, lembaga baru, kalau untuk melakukan misi gereja yang sama? Subyek misi itu tidak lain, yakni  manusia yang diselamatkan oleh Allah. Baru tidak selalu bermutu kalau obyek misinya sama.

Barang siapa yang dapat berbuat sesuatu bagi kehidupan, baiklah lakukan hal itu dalam persekutuan dalam gereja yang melambangkan keesaan sosial umatnya. Kita percaya kepada satu Gereja yang Am dan Kudus. Baginya kita mau bekerja dengan talenta yang dikaruniakan kepada kita oleh Tuhan, Kepala Gereja, namun kita percaya juga persekutuan orang-orang kudus.

Marilah kita setia kepada gereja kita sebagai mana adanya, dan percayakan kepada para pejabat gereja yang ditetapkan oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan bergerja. Mari kita perbaiki dari dalam jika ada yang salah dan tidak relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *