BEKERJA DENGAN TULUS – Matius 20:1-16

BEKERJA DENGAN TULUS

MATIUS 20:1-16

PENGANTAR

Kita pernah mendengar idiom “Tidak ada makan siang yang gratis” atau “No free lunch”? ungkapan ini merupakan gambaran bahwa hal-hal yang tampak gratis selalu memiliki biaya yang harus dibayar oleh seseorang. Apalagi di tahun Politik. Adakah politikus yang memberi secara gratis? dst.

Awal ungkapan “No free lunch” telah ada tahun 1800-an di New Orleans, Amerika Serikat, di mana banyak bar yang menawarkan makan siang gratis. Tetapi jika mereka ingin minum, mereka harus membayar. Penjaga bar menawarkan makan siang gratis, karena biaya makanan tersebut ditanggung oleh biaya minuman. Anda dengan saya tentu pernah berbelanja di toko, ada barang jualan yang bertuliskan “beli dua gratis satu”. Padahal harga barang yang gratis tersebut telah ditanggung oleh barang yang dibayar. Dari contoh-contoh ini mau mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam hidup ini yang benar-benar gratis. Dalam segi bisnis dan psikologi pasar, hal ini dianggap wajar.

Demikian juga terjadi dalam dunia kerja. Di mana segala sesuatu nyaris diukur dengan materi, kerja dengan tulus menjadi sesuatu yang langkah. Jika ada yang bekerja dengan ikhlas, maka akan dikatakan bodoh, dst.

Apakah salah jika orang bekerja menuntut upah? Tidak.

Bukan hanya di dunia kerja sekuler tetapi di gereja pun orang menuntut upah. Dapat apa jika saya jabat ini dan jabat itu, layani ini dan layani itu. Tidak akan melayani kalau tidak dibayar atau tidak cukup dibayar.

Tema khotbah kita dalam minggu ini adalah bekerja dengan tulus. Kata tulus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sungguh dan bersih hati atau benar-benar keluar dari hati yang jujur. Tulus juga diartikan sebagai sikap jujur, tidak berpura-pura, ikhlas.

PEMBAHASAN TEKS

Perumpamaan ini merupakan kelanjutan dari bab sebelumnya. Yesus memulai perumpamaan dengan pemilik kebun anggur yang mencari pekerja. Pemilik kebun anggur ini menunjukkan pada diri-Nya, di mana kehadiran Yesus yang mencari murid untuk menjadi pengikut-Nya. Berbeda dengan rabi-rabi Yahudi yang dicari oleh pengikut untuk menjadi murid. Setelah mencari dan menemukan pemilik kebun anggur membuat kesepakatan perjanjian bahwa upah kerja dibayar per hari bukan perjam, satu hari satu dinar.

Kelompok pertama jam 6 pagi. Mereka bekerja selama 12 jam. Rupanya kebun cukup besar sehingga banyak yang harus dikerjakan, sehingga jam 9 pagi ia keluar lagi untuk mencari dan bertemulah sekelompok orang yang menganggur di pasar. Mereka diajak bekerja dengan perjanjian yang sama seperti sebelumnya, maka kelompok kedua masuk bekerja mulai dari pukul 9. Pukul 12 siang dan pukul 3 sore ia melakukan hal yang sama. Pukul 5 sore ia keluar lagi mencari dan menemukan beberapa yang menganggur lalu diajak untuk bekerja.

Timbul persoalan ketika muncul rasa tidak puas, tidak adil, karena mereka semua mendapatkan upah yang sama. Pekerja-pekerja yang masuk terakhir mendapatkan upah masing- masing satu dinar. Melihat hal itu, mereka yang bekerja sejak pagi berpikir bahwa mereka pasti akan mendapat upah lebih banyak dibanding pekerja yang baru bekerja pada petang hari. Namun ternyata jumlah yang mereka dapatkan sama.

Pemilik kebun anggur berpegang pada janji kesepakatan bahwa satu hari satu dinar (ay. 13). Kemudian pemilik kebun anggur menegaskan tentang kebebasannya untuk memberi (ay. 15).

Kecemburuan ini muncul karena kelompok terakhir yang masuk bekerja sudah jam 5 sore. Selama sehari mereka menganggur, duduk saja di pasar, tidak ada tujuan hidup, tidak bisa hidup karena tidak ada sumber penghasilan yang menghidupi mereka. Tetapi ketika pemilik kebun anggur ini mencari dan menemukan mereka lalu memperkerjakan mereka dalam waktu yang singkat. Kemudian mereka menerima upah yang sama.

Dari perumpamaan ini kita menemukan beberapa hal:

Pertama, kelompok yang bekerja dari awal tidak gembira dan bersyukur melihat para penganggur juga bekerja dan mendapat upah. Mereka yang menganggur bisa hidup dengan pekerjaan ini. Dari sikap kelompok pertama, kita mendapat kesan orientasi mereka tentang upah, bukan pelayanan. Mereka bekerja untuk duit satu hari satu dinar. Mereka kerja bukan dengan ketulusan hati. Namun pemilik kebun tidak berpikir rugi dan untung, tetapi menolong mereka yang tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki kepastian hidup.

Kedua, bekerja di ladang Tuhan tidak ada tempat untuk bersungut-sungut; tidak ada tempat untuk merasa tidak puas, tetapi bekerja dengan syukur sebab pekerjaan yang dipercayakan adalah pemberian Tuhan semata. Yesus mengatakan bahwa bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu (Yoh. 15:16). Dalam perumpamaan ini, tuan kebun yang pergi mencari mereka dan memberikan mereka pekerjaan.

Ketiga, Tuhan itu adil. Keadilan Allah tidak jatuh persis dengan rasa keadilan bagi manusia. Bagi manusia keadilan sesuai dengan apa yang manusia rasakan dan dapat, namun keadilan Allah untuk melayani dan menghidupi orang yang membutuhkan penghidupan. Keadilan Allah itu tergerak dari kemurahan hati Allah yang penuh belas kasihan (ay. 15). Allah adil dalam menepati janji-Nya. Hal ini terlihat dalam perkataan tuan kebun, “bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?.”

Keempat, Allah mempunyai kedaulatan penuh untuk memilih dan memberi kepada siapa yang Ia kehendaki.

PENUTUP

Renungan :

1. Bekerja karena panggilan Tuhan berarti bekerja dengan tulus hati. Bekerja bukan karena upah melainkan pelayanan kepada sesama. Pelayanan itu untuk menolong mereka yang perlu ditolong, melayani mereka yang perlu di layani. Orientasinya adalah pelayanan kepada sesama. Hal ini dilihat dari apa yang dilakukan pemilik kebun anggur. Dia tidak memikirkan untung rugi ketika memperkerjakan mereka. Berkat dan rezeki adalah akibat dari ketulusan kita dalam melayani. Bukan melayani menuntut upah, kalau tidak ada upah tidak mau melayani.

2. Bekerjalah di ladang Tuhan dengan kegembiraan dan syukur sebagai pendeta, penatua, diaken, pengajar dan para pelaku pelayanan lainnya, karena pekerjaan pelayanan ini bukan didapat dengan kerja keras, belajar keras atau sogok, dll., melainkan Allah memanggil kita secara gratis untuk kerja di ladang-Nya demi keselamatan kita dan keselamatan ciptaan yang lainnya. Oleh karena itu bekerjalah dengan tulus.

3. Tuhan memberkati kita dengan tidak menghitung lamanya Anda melayani, golongan apa, pangkat apa, namun berdasarkan kemurahan hati-Nya. Pangkat dan golongan diatur dalam lembaga di mana Anda dan saya bekerja, tetapi Allah memiliki kebebasan dalam diri-Nya. Dengan demikian, meskipun sudah lama kita melayani Tuhan, tetapi kita tidak bisa menyogok Allah untuk menunjukkan kemurahan hati-Nya sebab Allah itu murah hati.

4. Kita hidup di dalam dunia dengan tuntutan hidup yang begitu tinggi, persaingan di dunia kerja tidak bisa dihindari, tetapi melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tetap melayani dengan tulus. Kita masing-masing orang perlu menyadari bahwa pekerjaan kita masing-masing adalah panggilan Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk melayani melalui pekerjaan kita masing-masing karena itu kerjakan dengan tulus.

5. Dalam dunia yang “tidak ada makan siang gratis,” masih adakah orang-orang mau menyerahkan dirinya kepada Tuhan untuk melayani dengan sukarela? Di tahun Politik: adakah politikus yang melayani masyarakat secara gratis? (FN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *