BERALIH MENGIKUTI TATALAKU DALAM SITUASI BARU

BERALIH MENGIKUTI TATALAKU DALAM SITUASI BARU.

Pdt. S. V. Nitti

Beta baca-baca alkitab tentang orang/ bangsa Israel. ( Lalu beta tulis cerita ini sebahagian berdasarkan data alkitab dan sebahagian bisa dianggap sebagai pengembangan imajinasi saya.) Bangsa Israel pernah diperbudak di Mesir dengan kerja paksa tanpa upah. Hal itu membuat mereka meratap mengharap suasana baru. Di Keluaran 1:11-15 tertulis: “Pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa,” dan dengan kejam memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, serta para bidan yang menolong persalinan perempuan Ibrani harus membunuh anak laki-laki yang dilahirkan atas pertolongan mereka. Derita bertubi-tubi yang dipaksakan kepada mereka membuat mereka berkesah merindu kebebasan. Dan Allah mendengar keluh-kesah mereka dan mengirim pembebas untuk membebaskan mereka (Keluaran 3: 7 – 10). Pada mulanya mereka menyambut hari pembebasan mereka dengan penuh semangat dan kegembiraan yang meluap (Keluaran 12:31-39). Namun kemudian ternyata bahwa peralihan dari status sebagai bangsa tertindas menjadi bangsa pengembara membawa banyak masalah yang tidak kalah rumitnya seperti ketika mereka masih di Mesir, sehingga banyak orang yang kembali merindu kehidupan di Mesir: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang.” (Keluaran 16:3). Selama 40 tahun menjalani hidup sebagai bangsa pengembara kesah sedemikian selalu terulang dengan berbagai cara. Ternyata tidak mudah hidup sebagai bangsa pengembara, sekali pun TUHAN tak kunjung lelah, walau sering menghukum mereka dengan keras, memimpin dan menolong mereka dengan cara-cara yang luar biasa.

Akhirnya generasi pengembara dengan segala suka-duka kehidupan yang keluar dari Mesir dan yang masih sering merindukan kemudahan hidup di Mesir meninggal di negeri pengembaraan tanpa kembali mengecap nikmat hidup di Mesir dan tanpa sempat mengecap “susu dan madu” yang melimpah di negeri terjanji. Tetapi mereka yang terlahir di negeri pengembaraan, yang tidak mengenal kehidupan di Mesirlah, yang Tuhan izinkan untuk masuk Kanaan, negeri terjanji, negeri berlimpah susu dan madu. Tetapi justru ketika generasi itu, yang lahir sebagai generasi pengembara, beralih menjadi penetap dan penggarap tanah, mereka mengalami tantangan yang lebih sulit. Mereka punya banyak pengalaman dengan TUHAN yang menolong mereka menjalani dan mengalami hidup mengembara. Tetapi ketika mereka beralih menjadi bangsa penetap dan petani pengolah tanah, mereka berhadapan dengan dua kenyataan serius. Pertama, sebagai bangsa pengembara mereka tidak punya tetangga tetap, tetapi sebagai bangsa penetap mereka memiliki tetangga-tetangga (baca: suku-suku yang berdiam di Kanaan) yang membawa tantangan sekaligus peluang bagi mereka. Mereka bisa belajar dari suku-suku itu yang lebih dahulu menetap dan punya pengalaman mengolah tanah. (Baca: 1 Samuel 13 : 19-21 yang menerangkan bahwa orang Israel belum penya pengalaman dengan alat-alat tani yang terbuat dari besi. Ada yang kemmudian bisa memiliki alat-alat itu namun untuk mengasahnya mereka harus meminta jasa orang Filistin untuk mengasah dengan bayaran). Tantangan kedua yang lebih kompleks adalah tentang peranan TUHAN. Apakah TUHAN yang telah terbukti sanggup menolong mereka selama masa pengembaraan akan tetap sanggup menolong mereka ketika mereka mulai bertani dan beternak. Apalagi ketika mereka belajar bertani dari para tetangga, ternyata proses bertani proses bertani para tetangga itu teringrasi dengan praktek beragama suku mereka. Mereka menyembah dewa kesuburan dan sembahan lain yang berhubungan dengan bertani yang mereka sembah dalm proses bertani. Sanggupkah Israel yang baru beralih dari hidup mengembara dan mulai belajar bertani memilah antara ibadah kepada dewa kesuburan dan teknologi bertani ? Ternyata tidak mudah. Lalu mereka meniru cara beribadah tetangga mereka, ketika mereka meniru cara bertani mereka. Demikianlah penyembahan berhala merebak dalam situasi baru itu, yaitu ketika mereka beralih dari situasi sebagai bangsa pengembara menjadi bangsa penetap sekali bangsa petani – peternak. (Sebagai catatan pembanding bacalah 1 Raja-Raja 20 : 23 – 25 di mana ada anggapan bahwa Allah Israel adalah Allah gunung yang jago di gunung tetapi pasti tidak berdaya, tidak jago, di tanah rata.)

Beta tulis cerita ini ketika melihat bahwa kita tidak mudah mengubah tatalaku hidup kita dari tatalaku hidup di era normal menjadi tatalaku hidup di era new normal. Dalam tatalaku di era new normal kita belajar memakai masker. Ternyata banyak orang salah pakai: ada yang menutup mulut tetapi hidung tidak ditutup, dengan alasannya. Ada yang tidak bisa menutup mulutnya karena dalam tatalaku normal mereka biasa mengunyah sirih-pinang. Ada yang menutup mulut dan hidung ketika mengendarai sepeda motor di jalan, tetapi mereka segera melepas masker ketika mereka masuk rumah orang, karena rupanya mrnganggap tidak sopan berbicara dengan orang dengan mulut tertutup masker. Ada yang melihat ember, air dan sabun serta tisue tersedia di depan rumah orang yang hendak dimasuki, tapi mereka tidak mampir mencuci tangan. Dalam tatalaku di era new normal kita belajar menjaga jarak fisik antar orang, namun tatalaku di era normal yang membiasakan kita untuk merangkul orang lain (terutama ketika kakek dan nenek ketemu cucu-cucu atau sebaliknya) nampak amat sulit kita lepaskan. Dan banyak kegagalan lain lagi dalam proses beralih dari era normal ke new normal. Saya menduga ketika ibadah di gedung gereja dibuka kembali akan terjadi banyak masalah karena kita secara fisik memasuki era new normal tetapi tatalaku kita masih mengikuti tatalaku normal yang seharusnya sudah ditinggalkan. Kegagalan-kegagalan itu dapat saja menjadi faktor perpindahan virus korona dari orang ke orang.

Saya yakin kita semua amat membutuhkan kesadaran diri dan kewaspadaan diri yang tinggi untuk meninggalkan tatalaku di era normal yang adalah tatalaku sopan-santun dan penghormatan dengan tatalaku baru di era new normal tanpa kehilangan sopan santun dan penghormatan. Bila kita gagal mengubah tatalaku kita maka kita akan menuai banyak kecelakaan.

Salam New Normal dari Oebufu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *