BERDOA DAN BEKERJA UNTUK KESELAMATAN BANGSA – Kejadian 18:16-33

BERDOA DAN BEKERJA UNTUK KESELAMATAN BANGSA

Kejadian 18 :16-33

PENGANTAR

Dalam tradisi Calvinisme, doa adalah kata-kata manusia yang ditujukan kepada Tuhan. Kata-kata yang diucapkan pun terbatas. Alasannya, pertama, karena jawaban Tuhan kepada manusia sudah ada di dalam Alkitab. Kedua, manusia memiliki kata-kata yang terbatas saat berbicara dengan Tuhan maha tahu.

Bagi Calvin, doa bukan perwujudan iman melainkan perbuatan dan tindakan aktif di dalam kehidupan, itulah yang secara kongkrit menunjukan kehidupan iman seseorang sehingga munculah istilah “etos kerja Calvinisme” yang menyebabkan Eropa Barat maju pesat dalam perekonomiannya.

Calvin menekankan tentang berdoa dan bekerja menjadi ciri-ciri orang Kristen. Doa baru berhasil kalau dilanjutkan dengan karya dan itu kalau Allah berkenan mengabulkan! Patokan bagi Calvin, “biar kehendak-Mu jadilah” yakni doa Yesus di taman Getsemani sebelum Ia diserahkan.

Bulan Agustus ditetapkan oleh GMIT sebagai bulan kebangsaan. Tema perenungan kita adalah Berdoa dan Berkarya untuk Keselamatan Bangsa.

PEMBAHASAN TEKS

Kisah ini terjadi setelah Allah berbicara kepada Sara tentang janji keturunan. Kemudian ketiga orang tamu pamit untuk pergi, lalu Abraham mengantarkan mereka. Tindakan ini merupakan sebuah penghormatan yang ditunjukkan Abraham. Abraham melaksanakan hukum “hospitality” (keramah-tamahan terhadap orang asing) yang waktu itu berlaku mutlak di Asia Barat Daya kuno. Abraham ikut berjalan sampai ke tepi tanah pegunungan. Dari sana terlihat tanah datar terdapat kota-kota yang hendak dimusnahkan. Tuhan mau memusnahkan namun Ia tidak mau menyembunyikan kepada Abraham. Mengapa? Abraham orang pilihan Allah (ay. 17-19) dan kedekatan Abraham dengan Tuhan Allah. Tuhan tidak menyembunyikan kasih maupun hukuman bagi orang-orang pilihanNya.

Abraham tampil ke muka memohon karunia Allah untuk Sodom. Mengapa Tuhan hendak memusnahkan Sodom? Mengapa Abraham meminta belaskasih Tuhan kepada Sodom? Apakah hanya karena ada Lot, kemenakannya? Mari kita memperhatikan latar belakang teksnya.

Pertama, dalam Kejadian 14, kita membaca tentang peperangan di antara raja-raja Kanaan. Kota Sodom dikuasai oleh musuh yang dipimpin oleh raja Kedarlaomer, sedangkan raja Sodom melarikan diri. Lot, kemenakan Abraham yang tinggal di Sodom, ikut tertawan bersama penduduk Sodom lainnya. Abraham, yang ternyata berbakat militer, mengkoordinasikan pasukan untuk membebaskan Sodom dan Lot, dan upayanya berhasil. Kedarlaomer kalah dan meninggalkan Sodom. Ketika Abraham kembali dari perang ini, raja Sodom menyongsong dia di Lembah Syawe. Episode mengenai penyelamatan Sodom ini penting bagi kita untuk menduga alasan Sodom dihukum dalam Kejadian 19. Artinya, bahwa Abraham mengasihi masyarakat Sodom, ia pernah berjuang bersama mereka untuk keamanan. Bukan hanya karena Lot tinggal di Sodom, tetapi keberpihakan Abraham kepada mereka yang terjajah, tertawan.

Doa syafaat Abraham kepada Tuhan mengenai adanya orang benar yang bisa membatalkan hukuman Sodom, dari 50 orang menyusut menjadi 10, mengandaikan bahwa tidak semua penduduk Sodom adalah dursila. Memang hukuman tidak dibatalkan, dan itu bisa berarti bahwa tidak ada cukup 10 orang benar di Sodom. Tetapi setidak-tidaknya, ada negosiasi di antara Tuhan dan Abraham, yang tahu situasi dan kondisi Sodom. Karena itu ia berani memberi pertimbangan kepada Tuhan, agar menghukum dengan adil.

Kedua, Tuhan hendak memusnahkan Sodom karena mayoritas masyarakat hidup dalam kejahatan. Mayarakat Sodom tidak memedulikan hukum hospitality. Jika kita membaca ay. 20 “sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora…dst”. Keluh kesah para korban yang mengalami kekerasan dari masyarakat Sodom. Keluh kesah karena penderitaan itu didengar oleh Tuhan. Penderitaan orang-orang kecil, orang yang tertindas merupakan doa. Doa tanpa kata. Oleh karena itu, Tuhan hendak melihat langsung (ay. 21). Gambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan seperti seorang manusia dan juga tidak sembarangan menghukum manusia.

Ketiga, doa Abraham sebagai seorang bapak yang penuh kasih dan perhatian. Abraham yakini bahwa Allah itu mahapengampun yang mau mengampuni dan memberikan pembebasan sepenuhnya; “tidakkah Engkau mengampuninya……” (ay. 24), sekalipun mereka itu jahat, namun Allah itu adil dalam melaksanakan hukuman. Hal ini terlihat dari perkataan Abraham “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (ay. 25).

PENUTUP

Renungan

Pertama, kita terus berdoa untuk bangsa dan negara kita. Bangsa dan negara merupakan salah satu pokok doa, baik dalam ibadah keluarga, di rayon, maupun kebaktian minggu. Tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik. Media sosial menyajikan berita-berita, baik berita yang benar maupun hoax yang menyesatkan masyarakat. Kampanye “hitam” untuk saling menjatuhkan. Selain itu, politik indentitas yang memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai warga gereja, teruslah berdoa dan menyampaikan suara kenabian. Pengikut Kristus yang sekarang menjadi wakil rakyat, mencalonkan diri, harus menjadi panutan dalam berkampanye yang sehat. Kita belajar dari kisah Abraham. Ia berdoa karena ia mengasihi masyarakat Sodom, dan bukan hanya berdoa, namun ia pernah berjuang membebaskan Sodom dari penindasan, yakni tawanan peperangan.

Kedua, kita berdoa dan bekerja bagi anak-anak kita yang adalah generasi masa depan bangsa, agar bermoral mulia serta takut akan Tuhan. Generasi yang memedulikan hukum hospitality.

Globalisasi membawa dampak positif dan juga dampak negatif, membawa peluang dan juga tantangan bagi anak bangsa. Karena itu kita perlu berdoa sambil berkarya. Doa dalam aksi nyata, yakni pembetukan anak-anak kita. Pembentukan dimulai dari rumah yaitu pendidikan di  dalam rumah. Jika orang tua rajin berdoa dalam rumah, anak pasti rajin berdoa, orang tua rajin belajar dan bekerja demikian juga anak, sebab anak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Selain keluarga, gereja dan lembaga pendidikan menjadi tempat pembentukan generasi anak bangsa.

Ketiga, Tuhan tidak sembarangan menghukum umat-Nya. Ia tidak akan menghukum bangsa Indonesia, daerah ini, karena ada saya, anda dan mereka yang terus berdoa dan bekarya untuk kebaikan bangsa ini. Lalu ada yang bertanya, bagaimana dengan bencana alam, virus, kegagalan, sakit, kelaparan, dll. yang terjadi saat ini: apa itu bukan hukuman Allah? Itu merupakan ulah manusia, karena itu tugas kita ialah berdoa sambil memperbaiki (bertobat) hidup kita.

Keempat, orang beriman adalah orang yang berdoa dan bekerja. Rajin bekerja dan berdoa adalah wujud iman kita. Kemajuan sebuah bangsa atau daerah ditentukan juga oleh etos kerja yang dilahirkan oleh spirit sebagai pengikut Tuhan dan sebagai orang-orang pilihan Allah. Di sinilah kita belajar dari Abraham, tentang alasan mengapa dia berperang membebaskan Sodom dan Gemora dan berdoa serta memberi pertimbangan kepada Tuhan.

Kelima, Tuhan tidak menyembunyikan rencana-Nya, baik kasih-Nya maupun hukuman-Nya bagi orang-orang yang dekat dengan-Nya. Karena itu dekatlah dengan Tuhan dalam doa dan belajar kehendak-Nya di dalam Alkitab. Amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *