BERHATI-HATI DENGAN KATA-KATA – YAKOBUS 3:1-12

BERHATI-HATI DENGAN KATA-KATA

YAKOBUS 3:1-12

PENGANTAR

Kita semua pernah dengar peribahasa ini, “lidah lebih tajam daripada pedang”. Artinya bahwa segala sesuatu yang keluar dari mulut seseorang, memiliki kemungkinan besar untuk membunuh seseorang baik itu secara fisik, mental atau jiwa. Lidah merupakan anggota tubuh yang kecil dari tubuh manusia namun sangat vital, di mana digunakan sebagai perasa, menelan makanan atau minuman, dan juga merupakan alat utama untuk berkata-kata. Namun demikian, lidah dapat mengakibatkan kerusakan dengan jangkauan jauh dan daya ledak yang kuat. Sepatah kata yang dilontarkan bisa keluar sampai ke ujung negeri yang mengakibatkan membawa luka pada orang lain dan memecah belah keadaan.

Di era digital tajamnya lidah terbaca di dinding media sosial, status di FB, WA, instagram, dll. Ada istilah yang mengatakan bahwa di era digital manusia menunjukkan “dua wajah“ yakni di dunia offline, senyum, tertawa, dengan orang yang ia benci namun di media sosial (Online) menyindir, mencaci, mengancam.

Kita juga sering mendengar istilah pembullyan bersifat verbal di sekitar kita. Pembullyan adalah suatu tindakan agresif dalam bentuk ucapan yang dilakukan secara sengaja dan berulang dengan tujuan menguasai, menunjukkan kekuatan, menyakiti, atau hanya untuk kesenangan. Pembullyan verbal memang tidak menggunakan kekerasan secara fisik, namun hal itulah yang lebih menyiksa seseorang karena seperti ada pepatah tersebut, “lidah lebih tajam daripada pedang”. Bekas luka secara fisik mungkin dapat memudar seiring berjalannya waktu dan rasa sakit itu bersifat sementara. Namun rasa sakit karena bully secara verbal menyiksa perasaan, mental dan jiwa seseorang akan sulit disembuhkan

Di kebaktian minggu ini kita belajar dari surat Yakobus 3:1-12

PEMBAHASAN TEKS

Dalam bacaan ini, Yakobus memberikan nasihat kepada orang-orang yang menjadi guru dalam jemaat agar berhati-hati dalam pengajarannya. Guru mempunyai peranan penting, sama seperti ahli-ahli hukum Taurat dalam Sinagoge. Namun seorang guru bisa saja berada dalam bahaya untuk bersalah dengan lidahnya yakni alat utama untuk memberikan pengajaran. Dalam hal ini, Yakobus mengingatkan agar hati-hati dalam mengajar sebab setiap ucapan dipertanggungjawabkan dalam penghakiman (ay. 1). Di ayat ini, Yakobus tidak melarang untuk menjadi guru, pengajar, namun ia memberi sebuah peringatan agar mempersiapkan diri sebelum memberi pengajaran, sebab murid-murid akan mengikuti apa yang diajarkan oleh gurunya. Jika pengajaran yang disampaikan salah maka akan merusak sebuah generasi yang diajar. Dari perikop bacaan ini kita dapat membaginya dalam beberapa bagian:

Pertama, gambaran tentang bahaya negatif saat berkomunikasi menggunakan lidah.

Lidah adalah “pembual yang memegahkan perkara-perkara yang besar” (ay. 5). Artinya orang yang berbicara semaunya, sombong, tanpa berpikir panjang. Berbicara secara berlebihan dan kata-katanya tidak bijaksana. Lidah seperti sebuah api kecil namun dapat membakar hutan jika tidak berhati-hati dalam berucap. Ia membakar dan merusak persekutuan dalam jemaat, merusak persahabatan. Ucapan melalu lidah dapat menghancurkan roda kehidupan (ay. 6). Kata-kata seseorang menunjukkan siapa orang itu sesungguhnya. Yakobus melihat lidah secara negatif, bahwa lidah merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh manusia sebagai sesuatu yang menodai seluruh tubuh. Memiliki pengaruh jahat yang menghancurkan kemurnian moral jika kita salah mengucapkan.

Kedua, mampu mengendalikan lidah.

Mampu mengendalikan lidah bagaikan kekang di mulut kuda yang mengendalikan tubuhnya atau seperti kemudi yang dipakai seorang nakhoda untuk menyetir kapal yang besar. Yakobus mengakui bahwa lidah sulit dikendalikan, sebab seseorang dikatakan “hidup” jika lidahnya masih berfungsi saat ia berbicara, makan, yang menggunakan lidah. Kesulitan mengendalikan lidah dilukiskan dengan membandingkan binatang yang dapat dijinakkan oleh manusia, namun manusia tidak dapat menjinakkan lidahnya sendiri. Dalam bacaan ini bukan berarti manusia tidak mampu mengendalikan lidahnya. Ayat 3 Yakobus mengatakan bahwa manusia bisa mengendalikan lidahnya. Yakobus tidak memisahkan tubuh dari lidah melainkan lidah adalah bagian dari tubuh, jika seseorang dapat mengendalikan lidah maka ia dapat mengendalikan tubuh. Demikian juga ketika seseorang mengendalikan tubuhnya dari hawa nafsu maka bisa mengendalikan lidah. Artinya bahwa jika tubuh ini dikuasai oleh kuasa Ilahi, Roh Kudus, maka manusia bisa mengendalikan tubuhnya. Oleh karena itu penekanannya utamanya kepada disiplin hidup untuk mengendalikan lidah.

Ketiga, lidah satu dari mulut yang satu.

Air pahit dan air tawar tidak dapat keluar dari mata air yang sama, dan air asin tidak menghasilkan air tawar. Pohon ara tidak dapat menghasilkan buah zaitun atau pohon anggur tidak dapat menghasilkan buah ara. Tetapi manusia memakai lidah yang sama untuk mengutuk dan memberkati. Lidah seharusnya mengeluarkan hal-hal yang menyenangkan yang bisa menjadi berkat. Yakobus mengingatkan agar lidah digunakan sesuai dengan fungsi yang baik, yang berguna untuk tubuh sendiri dan sesama saat berucap. Yakobus mengingatkan orang Kristen tentang kekudusan hidup yang dinyatakan melalui tutur kata yang baik. Kekudusan hidup itu terlihat dari kata-kata yang diucapkan.

PENUTUP

Renungan :

Pertama, hati-hati berbicara. Sebelum mulut dibuka lalu lidah bergerak dan mengeluarkan kata-kata harus menimbang dengan baik. Jangan sampai apa yang saya dan anda ucapkan membuat kerusuhan, merusak persekutuan dalam jemaat. Membuat orang panas hati. Kita biasa mengatakan “dia itu tukang kompor”.  Supaya kata-kata tidak membuat orang lain panas hati, maka sebelum bicara mempertimbangkan dengan saksama kata-kaya yang hendak diucapkan. Sebelum lidah berbicara melalui jari menekan setiap huruf di HP android untuk upload status di FB, WA, instagram, menyaring dengan baik sebab setiap kata-kata yang ditulis dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan sesama. Kata-kata kita akan menjadi hakim bagi diri kita sendiri.

Menarik kita kutip perkataan Petrus “siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat” (1 Petrus 3:10).

Kedua, kita bisa mengendalikan lidah kita, caranya ialah hati-hati berkata-kata. Kuda bisa dikendalikan oleh kekang, kapal bisa dikendalikan oleh juru mudi, binatang buas dijinakkan apalagi lidah kita sebagai orang Kristen. Roh Kudus memampukan kita untuk menguasai diri dan menjadi kekang bagi kita sehingga kita dapat mengendalikan lidah kita. Daud dalam Mazmur 39:2 mengatakan pikirku, “aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang……” Apabila tubuh ini dapat kita kendalikan dari hawa nafsu yang jahat maka kita dapat mengendalikan lidah. Lidah kita akan menghasilkan perkataan yang membangun dan perkataan yang memberkati.

Ketiga, sebagai orang – orang yang dipanggil oleh Allah untuk melayani maka seluruh anggota tubuh kita “dikhususkan” untuk mengucapkan pujian, berkat kepada sesama kita. Sebagai orang Kristen harus menjaga kekudusan hidup melalui tutur katanya.

Keempat, jadilah pengajar, pengkhotbah,  pembicara, penulis status di media sosial dengan kata-katanya membangun dan membawa berkat bagi semua orang. Sebab dari ucapan menunjukkan kedalaman hati anda dan saya serta menunjukkan kepribadian kita. Amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *