BERIMAN DI TENGAH GEMPURAN BUDAYA POPULER – DANIEL 1:1-21

BERIMAN DI TENGAH GEMPURAN BUDAYA POPULER

Daniel 1:1-21

PENDAHULUAN 

Budaya populer dikenal dengan budaya pop (cultural popular). Budaya populer adalah serangkaian hiburan serta produk yang diperdagangkan untuk kepentingan materi dan secara sengaja dihasilkan oleh media masa dan digemari oleh masyarakat pada umumnya. Wujud budaya populer seperti model pakaian, film Korea, musik, makanan, dst. yang tidak lepas dari campur tangan industri dan hiburan.

Budaya populer menjadi salah satu ancaman dalam penguatan identitas keagamaan dan keimanan umat masa kini. Dan juga mampu menghilangkan kerangka acuan tradisional masyarakat seperti etnis, agama, suku, budaya, dan nilai-nilai iman Kristen. Budaya populer menumbuhkan sikap hedonisme, konsumerisme, dan pragmatis dalam diri dalam jemaat dan masyarakat urban.

PEMBAHASAN TEKS

Kitab Daniel adalah salah satu kitab yang dikategorikan ke dalam kitab nabi-nabi besar. Tentunya kitab ini lebih banyak membahas tentang Daniel. Sosok Daniel diceritakan sebagai pahlawan. Menurut Daniel 1:1-21, bawah dia adalah seorang keturunan raja Yehuda, yang atas perintah raja Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia ia dibawa ke dalam istana raja untuk dilatih menjadi pelayan raja Nebukadnezar. Namun menurut Daniel 2:25, ia adalah orang Yahudi yang tidak dikenal di antara banyak orang Yahudi yang tertawan di Babilonia. Barulah sesudah ia membuka tabir mimpi raja Nebukadnezar dengan tepat, maka dia mendapat jabatan terhormat di istana raja (Siahaan dan Paterson 2012:11). Daniel juga dikenal karena wataknya. Ia juga terkenal karena hikmatnya (Daniel 1:4), ia juga dianggap seorang yang tidak bercacat cela. Daniel bukanlah imam, tetapi ia mewakili kesetiaan kaum awam terhadap hukum Musa. Ia sangat memahami hal-hal yang berhubungan dengan peraturan makanan (Daniel 1:8-16).

Tahun ketiga dari pemerintahan Yoyakim adalah tahun 605 SM. Tahun ini dicatat di dalam Alkitab sebagai permulaan dari zaman bangsa-bangsa (Luk 2:24), yaitu suatu masa nubuatan di mana Yerusalem berada dibawah kekuasaan bangsa lain. Dalam Daniel 1:2 dituliskan, bahwa “Tuhan menyerahkan Yoyakim….”, suatu pernyataan yang jelas menyatakan bahwa Allah itu berdaulat atas kerajaan dunia ini. Akibat dari kekerasan hati bangsa Yahudi, akhirnya mereka dibawah ke Babel untuk ditawan.

Dalam ayat 3-7 dikatakan bahwa adanya perubahan nama yang dilakukan oleh pegawai istana dalam rangka memberi pendidikan kepada mereka. Ayat 4, orang cakaplah yang dicari untuk bekerja di istana raja. Ketika Allah memberikan kemenangan atas Yoyakim kepada Nebukadnezar pada tahun 605 SM, raja Babel ini membawa beberapa perkakas rumah Allah dan juga beberapa bangsawan pilihan. Sejak kehancuran Niniwe 7 tahun sebelumnya, kerajaan Babel berkembang demikian pesat sehingga mereka kekurangan terpelajar dari bangsanya sendiri untuk menjalankan pemerintahan, karena Nebukadnezar memilih pemuda-pemuda tampan, sehat, dan terpelajar dan membawa mereka ke Babel untuk mengajarkan kebudayaan dan bahasa Babel kepada mereka sehingga dapat dipakai dalam melayani kerajaan termasuk Daniel dan kawan-kawannya.

Pada Daniel 1:7, adanya perubahan nama kepada Daniel dan kawan-kawannya. Hal ini dilakukan supaya Daniel dan kawan-kawannya diterima sebagai pegawai raja dan juga mereka memerlukan kewarganegaraan Babel. Bangsawan muda Daniel (Allah adalah hakimku) dinamai Beltsazar yang mana Bel artinya dewa tertinggi Babel yang melindungi hidupnya. Hananya (TUHAN menunjukkan kasih karunia), dinamainya Sadrakh yang artinya hamba Aku. Misael (siapa yang setara dengan Allah?), dinamainya Mesakh yang berarti bayangan pangeran. Dan Azarya (TUHAN menolong) dinamainya Abednego yang artinya hamba dewa hikmat atau bintang. Sebagai penduduk Babel mereka kini mempunyai tanggung jawab resmi, sekalipun memperoleh nama-nama baru, para pemuda Yahudi ini menetapkan bahwa mereka akan tetap setia kepada Allah yang Esa dan benar.

Ayat 8-11 “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada oran-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja. Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pegawai istana itu untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa Daniel dan teman-temannya berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya.

Makanan dan anggur yang diberikan kepada mereka adalah sama dengan yang disajikan kepada raja. Makanan dan anggur yang mungkin telah dipersembahkan kepada berhala. Memakan makanan itu berarti melanggar hukum Allah, minum anggur itu berarti menumpulkan pikiran mereka karena pengaruh yang memabukkan.

Daniel telah berketetapan sejak semula untuk tidak menajiskan dirinya; ia tidak akan mengorbankan pendirianya sekalipun itu berarti kematian. Kasihnya kepada Allah dan hukumNya telah begitu tertanam dalam diri Daniel sejak anak-anak sehingga ia ingin melayani Allah dengan sepenuh hatinya.

Mereka yang berketetapan untuk tetap setia kepada Allah ketika diperhadapkan dengan pencobaan akan diberikan kekuatan untuk tetap tabah demi Allah. Begitu juga sebaliknya, mereka yang sebelumnya tidak memutuskan untuk tetap setia kepada Allah dan firmanNya akan menemui kesulitan untuk menolak dosa atau mengelak mnyesuaikan diri dengan cara-cara dunia.

Ayat 12-16, “adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk di makan dan air untuk di minum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu. Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.

Dengan berkata adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini…,berarti Daniel melakukan suatu tantangan iman dalam menghadapi peraturan raja. Untuk itu ia meminta waktu sepuluh hari, supaya ia dan kawan-kawannya dibebaskan dari peraturan. Setelah itu, ia meminta perawakan mereka dinilai. Hal ini jelas merupakan suatu pernyataan yang berisi keberanian iman.

Dalam ayat tersebut ada beberapa pokok yang menjadi alasan Daniel meminta waktu sepuluh hari kepada penjenang istana yaitu:

1. Daniel menginginkan adanya waktu untuk Allah bekerja dalam dirinya.

2. Daniel pasti menggunakan sepuluh hari itu sebagai waktu bergumul dalam doa.

3. Daniel bersedia untuk diuji sepuluh hari sebagai pernyataan tentang kesediaan mengalami ujian.

Dalam ayat selanjutnya (17-21), Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian kepada mereka berempat karena mereka mengabdi kepada Allah, dan Allah mewajibkan diriNya untuk menolong mereka. Pada ujian terakhir, Daniel dan kawan-kawan berdiri dalam keadaan sehat dan tidak gentar di hadapan raja.Mereka tetap setia kepada Tuhan, dan melalui hikmat dan pengetahuan yang ditunjukkan, mereka memberi kesaksian tentang kuasa Allah.

KESIMPULAN

Dari penafsiran perikop di atas (Daniel 1:1-21), dapat dikatakan bahwa orang yang tetap mempertahankan imannya adalah orang yang memiliki nilai-nilai kekristenan (jujur, berkomitmen, taat dan lain sebagainya) yang benar-benar diimplementasikan dalam kehidupannya. Daniel memiliki integritas dalam dirinya sehingga ia tetap patuh terhadap apa yang ia jadikan pegangan (contohnya: tidak menajiskan diri dengan makanan dan minuman raja) sehingga, membuatnya semakin diberkati oleh TUHAN.

Jika hal tersebut dikaitkan dengan kehidupan sosok Daniel, relevan untuk dijadikan teladan hidup dalam gempuran budaya populer. Hidup dalam gempuran demikian, maka yang dibutuhkan adalah iman dan integritas. Iman dan integritas tumbuh karena kita terus menanamkan nilai-nilai kristiani dalam diri, kelompok persekutuan dan anak-anak kita sejak dini sehingga pengaruh apapun mereka tetap menyatakan kesetiaan kepada Allah. Mereka tetap berpegang kepada keyakinan dan budayanya. Walaupun mereka harus sekolah atau berkerja di daerah lain dan pengaruh-pengaruh budaya populer sangat kuat, namun mereka akan setia kepada Tuhan melalui imannya. Banyak contoh anak-anak dari keluarga Kristen karena penanaman nilai kekristenan dalam rumah yang kuat sehingga di mana pun mereka berada mereka tidak kehilangan identitas. Penanaman nilai-nilai kekristenan itu dengan cara membangun persekutuan beribadah dalam rumah bersama anak-anak dan semua anggota keluarga dalam rumah.

Kehidupan yang ugahari harus dibudayakan dalam keluarga dan dalam gereja. Maka dengan demikian gempuran budaya pupuler dalam bentuk apapun, pakaian yang jauh dari kesopanan busana ketimuran, film Korea yang sangat membangkitkan emosi anak-anak masa kini, konten-konten video di gadget yang gratis ditonton, musik pop yang bertebaran di mana-mana, makanan pizza yang kelihatan rasanya lebih enak di lidah dari pada makan ubi dan pisang yang ditanam dan diolah sendiri. Dalam gempuran yang demikian mereka tidak kehilangan identitas kekristenan dan budayanya. Daniel adalah salah satu tokoh Alkitab yang menjadi teladan dalam perenungan bulan budaya. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *