BERJALAN BERSAMA SANG RAJA DAMAI

BERJALAN BERSAMA SANG RAJA DAMAI

Matius 21:1-11

PENGANTAR

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan kawan angkatan saya waktu di SMA. Dia bekerja di salah satu instasi dan cukup berprestasi. Banyak rekan-rekannya dalam kantor yang membencinya karena jujur bekerja. Namun karena beda pilihan politik maka dia dimutasikan jauh dari kota. Ia menceritakan bagaimana tempat tugas yang baru, kesulitan yang dialaminya, baik itu akses transportasi dan kebutuhan lainnya. Walaupun kesulitan yang dia alami karena “korban politik” tetapi ia merasakan penyambutan dan kasih sayang dari masyarakat setempat. Menurutnya Tuhan juga ada di sana dan memakai masyarakat untuk membantunya dalam berbagai kesulitan.

PEMBAHASAN TEKS

Bukit Zaitun adalah tempat orang Yahudi mengharapkan Mesias yang akan datang dan Betfage (rumah pohon ara) terdapat di sebuah lereng di bukit tersebut (D. Guthrie : 1980). Sebelum Yesus masuk ke Yerusalem Ia berhenti sejenak di situ. Menurut Welliam Barclay, kedatangan Yesus sudah direncanakan. Tindakan-tindakan dramatis yang dilakukan di Yerusalem merupakan bagian akhir dari kisah kehidupan Yesus. Untuk masuk ke Yerusalem membutuhkan keberanian besar, sebab Ia memasuki kota yang memusuhiNya. Kota di mana menurut Yesus sendiri adalah kota yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu (Luk. 13:34-35, Mat. 23:37-39). Di bukit pengharapan akan Mesias dan di “rumah ara” itu Yesus mempersiapkan diri sebagai Mesias yang akan mengorbankan diriNya bagi umat manusia.

Di bukit itu Yesus berpesan kepada beberapa murid-murid untuk pergi ke desa yang terletak di depannya mengambil keledai betina dan dua anaknya yang tertambat lalu dibawa kepadaNya. Menurut beberapa penafsir, induk keledai dibawa juga untuk menjinakkan anak keledai. Dengan menyebut kedua anak keledai itu, mau menunjukan bahwa keledai-keledai itu belum pernah ditunggangi oleh manusia. Menurut J. H. Bavinck, seperti dulu dalam Perjanjian Lama seekor lembu yang hendak dipersembahkan kepada Allah tidak boleh yang sudah kena kuk (Bil. 19:2). Stefan Leks menafsirkan bahwa itu sebagai tanda binatang itu sakral dan juga merupakan kiasan kerendahan hati, lemah lembut dan keyakinan. Berbeda dengan kuda yang merupakan kiasan ketangkasan dan yang suka meringkik, maka kuda merupakan lambang kekuatan dan ketangkasan manusia (Maz. 33:17).

Ayat 7, murid-murid menaruh jubah pada pundak keledai-keledai itu yang hendak dinaiki Yesus. Menurut Guthrie, menghamparkan pakaian dan ranting adalah tanda sambutan Kerajaan (bnd. 2 Raj. 9:13). Maksudnya, ketika Yesus masuk ke Yerusalem mengendarai keledai itu juga merupakan penggenapan Zakaria 9:9, di mana Yesus masuk ke Yerusalem disambut oleh Putri Sion. Putri Sion adalah sebuah ungkapan yang menunjuk kepada penduduk Yerusalem. Yesus hendak berkata Ia datang sebagai raja yang lemah lembut. Raja yang tidak seperti yang diharapkan bangsa Yahudi.

Putri Yerusalem bersorak dengan nyanyian: Hosiana! Kata Hosiana berasal dari bahasa Ibrani, hosyiana yang berarti berilah kiranya keselamatan. Selain sorakan dan pujian kepada Yesus, ada juga penyebutan gelar Anak Daud. Gelar ini adalah gelar Mesianis. Menurut Bavinck, mereka yang bersorak-sorak itu juga nanti berteriak, salibkan Dia, salibkan Dia, Yesus Mesias diganti dengan Yesus Barabas, kebenaran diganti dengan kejahatan saat harapan tidak tercapai. Orang dekatNya menjualNya, murid kepercayaanNya menyangkalNya dan murid-murid yang lainnya melarikan diri.

Kejadian yang dialami Yesus dalam perjalananNya menuju ke Yerusalem oleh Barcley disimpulkan demikian; pertama, peristiwa ini menunjukan keberanian Yesus menyongsong sengsara yang akan dialamiNya di Yerusalem. Proklamasi kedatanganNya merupakan kesiapan menapaki jalan-jalan sengsaraNya. Proklamasi ini membuat Yesus berani memasuki Yerusalem dengan terus terang, bukan dengan sembunyi-sembunyi. Apakah dengan demikian Yesus mencari-cari kesengsaraan? Tidak. Ia masuk memberi pesan bahwa setiap orang harus berani menghadapi penderitaan karena melaksanakan misi Allah. Mereka yang berani menghadapi penderitaan adalah mereka yang siap menyongsong keberhasilan, kemenangan dan kehidupan. Untuk mengupayakan kebenaran dan kehidupan butuh keberanian, ketaatan, konsisten dan kerendahan hati. Kedua, kedatangan Yesus ke Yerusalem merupakan klaimNya sebagai Mesias yang diurapi. Di Yerusalem klaim Yesus itu akan ditanggapi dengan penerimaan dan penolakan. Ketiga, kisah ini mengungkapkan himbauanNya tentang pengakuan kerajaan. Tetapi Ia tidak mengklaim takhta kerajaan duniawi melainkan takhta di dalam hati manusia untuk menyambut Dia sebagai Raja. Ia datang dengan rendah hati, mengendarai keledai. Di dunia timur keledai adalah binatang yang anggun. Seorang raja yang naik keledai adalah raja yang membawa pesan perdamaian, sedangkan raja yang datang menaiki kuda adalah raja yang membawa gempita peperangan. Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah raja yang rendah hati dan membawa pesan perdamaian.

APLIKASI

1. Berjalan bersama Sang Raja damai adalah berjalan dalam kerendahan hati, kelemah-lembutan dan membawa pesan perdamaian. Minggu ini merupakan minggu terakhir perenungan kita akan kesengsaraan Yesus. Hari Jumat nanti kita memperingati Jumat Agung, mari kita menanggalkan dosa keangkuhan, kesombongan dan belajar dari Yesus serta memandang kepada Yesus yang menderita dan mati untuk kita. Berita yang harus kita bawa baik secara lisan maupun tertulis pada status di media sosial adalah berita perdamaian bukan berita peperangan, kekerasan. Jangan “menunggangi kuda yang meringkik membawa pesan peperangan”.

Renungan ini menjadi relevan karena tahun ini kita akan memilih pemimpin-pemimpin gereja (MKH dan MSH). Warga jemaat berefleksi sambil membuka mata dan menimbang dalam hati calon pemimpin gereja yang menunggangi kuda dan menunggangi keledai. Yang menunggang keledailah berjalan bersama-sama Sang Raja damai.

2. Untuk mengupayakan kebenaran dan kehidupan butuh keberanian dan konsisten walaupun berbagai resiko akan dialami. Ada orang yang konsisten memperjuangkan kebenaran dan kehidupan, lalu mereka ditolak dibully bahkan diancam dan dianiaya. Dia dianggap pengkhianat oleh kelompok itu, jika dia dalam sebuah sistem kelembagaan maka dia dimutasikan di daerah “pembuangan”. Kelompok itu adalah mereka yang memiliki kepentingan politik seperti orang-orang Yahudi termasuk murid-murid di dalamnya

Yesus sadar bahwa Ia akan mengalami penderitaan bahkan sampai mati, Ia tahu bahwa melalui jalan tersebut kehidupan baru akan muncul. Yesus telah melewati jalan itu, karena itu Ia akan bersama-sama dengan kita berjalan mengahadapi penderitaan dan memampukan kita untuk berani serta konsisten menolak ketidakbenaran, melawan kekuatan-kekuatan memusnahkan kehidupan.

3. Yesus telah menderita, mati dan bangkit untuk kita, janganlah nyanyian sukacita hosiana diganti dengan salibkan Dia, salibkan Dia, atau menjualNya hanya karena harta, makanan, pakaian, uang saat harapan kita tidak tercapai. Yesus telah menggenapi semua di atas kayu salib. Mari kita berada dalam perenungan kesengsaraan Yesus dan perayaan dengan nyanyian hosiana. FN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *