BERJUMPA DENGAN TUHAN DALAM DIRI SESAMA – MATIUS 25:31-46

BERJUMPA DENGAN TUHAN DALAM DIRI SESAMA

MATIUS 25:31-46

Suatu sore, saya dengan ibu (isteri) di Pastori. Saya di belakang rumah memberi maka kepada ayam peliharaan kami, sedangkan ibu membersihkan bunga di halaman depan. Tiba-tiba ada seorang bapak yang sudah cukup umur jalan menuju ke arah ibu sementara kerja. Orang ini kami tidak kenal dan kelihatan dia dari perjalanan yang cukup jauh. Lalu dia berdiri dan berkata kepada ibu:

“Ibu pendeta, saya lihat gereja, lalu saya masuk ke sini dan mau minta air minum.” Kemudian ibu mempersilahkan masuk duduk di ruang tamu. Ibu mengambil air minum untuk memberikan kepadanya. Ia minum beberapa gelas. Lalu ibu memanggil saya untuk bercerita dengan orang asin ini. Saya mencoba menanyakan asal usul dan hendak ke mana, namun ceritanya tidak jelas. Karena matahari hampir tenggelam, dia berkata kepada kami, “pak dan ibu, terima kasih, saya terus sudah karena sudah mau gelap.”

Setelah jalan, ibu berkata kepada saya, “pak, saya takut dengan orang itu, sebab dia orang baru.”

Lalu saya bilang kepadanya, “tadi kalau ada makanan kita persilakan dia makan, dia lapar dan karena jalan jauh. Tuhan hadir melalui orang-orang seperti itu. Kadang Tuhan menguji kita yang selalu omong tentang kasih lewat kehadiran orang-orang seperti ini.”

Matius 25:31-46 merupakan teks yang menggambarkan dengan unik konsep Yesus tentang akhir zaman. Jika kita baca teks ini dengan saksama, maka kita akan diperlihatkan bahwa sepertinya iman bukanlah hal yang penting pada akhir zaman, melainkan sikap dan perbuatan.

Dalam narasi penghakiman terakhir muncul narasi bahwa seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan Allah dan akan dibagi dalam dua kelompok, yaitu domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri Allah. Allah yang sebagai Raja menghakimi kedua kelompok tersebut melalui apa yang telah mereka perbuat. Mereka yang berada di sebelah kanan Allah disebut sebagai orang-orang benar, mereka sendiri “tidak menyangka” bahwa apa yang selama ini mereka perbuat bagi Allah. (ay. 37-40). Mereka yang berada di sebelah kiri Allah disebut sebagai orang-orang terkutuk dan mereka “terkejut” bahwa ternyata mereka belum melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah (ay. 44-45). Menariknya, dimensi yang hadir dalam narasi ini adalah “ketidaktahuan” yang ditunjukkan, baik oleh kelompok yang di kanan (domba) maupun kelompok yang kiri (kambing). Kedua kelompok ini tidak tahu tentang apa yang telah mereka lakukan.

Dalam renungan ini kita akan memperhatikan beberapa hal.

Pertama, semua bangsa akan dikumpulkan (ay. 32)

Semua bangsa yang dimaksud di sini merujuk pada semua manusia. Seluruh orang yang tidak dipisahkan oleh pemisah tertentu, baik itu orang Kristen maupun yang bukan Kristen. Di sini menekankan dimensi ke-Tuhanan atas segala bangsa dan umat. Hal ini berarti sisi universal dari penghakiman terakhir yang ditunjukkan oleh Matius, sebab seluruh ras, orang asing sekalipun, akan dikumpulkan bersama-sama ketika hari penghakiman terakhir. Menurut cerita ini, Anda dan saya, tidak mendapat perlakuan yang istimewa.

Kedua, di sebelah kanan dan kiri (ay. 33)

Sebuah gambaran muncul dalam perikop ini, yaitu ketika pemisahan domba dan kambing, tidak digambarkan dengan pemisahan yang merujuk pada surga atau neraka, namun lebih kepada sisi kanan dan kiri Allah. Artinya , kedua kelompok tersebut berada di satu tempat dengan sang Raja. Tampaknya proses pemisahan terjadi di suatu tempat sebelum mereka tiba di tempat kehidupan maupun siksaan kekal.

Pemisahan kelompok yang dilakukan sang Raja antara kanan dan kiri, bukan dipisahkan menurut ras, etnik, bahkan iman, melainkan atas dasar bagaimana mereka merespons Yesus secara tidak langsung. Respons yang diberikan oleh orang-orang benar, termasuk juga respons orang-orang tidak benar, menunjukkan bahwa mereka membantu Yesus secara tidak langsung. Perilaku yang dilakukan kepada mereka yang “paling hina ini” dikenakan pada diri Yesus secara langsung. Yesus mengidentifikasi bahkan mengungkapkan diri-Nya melalui mereka yang hina.

Gambar pemisahan kambing dan domba ini diambil tradisi kuno saat para gembala Yahudi dalam menggembalakan domba di padang. Bruner menyampaikan bahwa gambaran pemisahan domba dan kambing ini bersumber dari kebiasaan para gembala Palestina yang akan memisahkan domba dan kambing pada malam hari. Di mana domba di sebelah kanan melambangkan tempat yang baik, beruntung, dan terhormat (lih. 1 Raj. 2:19; Mzm 110:1), sedangkan sebelah kiri melambangkan tempat yang buruk, malang, dan tidak terhormat. Itu sebabnya dalam cerita ini, Raja memutuskan untuk menempatkan orang-orang benar di sebelah kanan-Nya, di tempat yang terhormat.

Ketiga, saudara-Ku yang paling hina ini (ay. 40)

Siapa yang sebenarnya dituju sang Raja dengan “saudara- Ku yang paling hina ini”? Hal yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang sedang dituju oleh sang Raja, sebab di hadapan-Nya hanya ada dua kelompok? Apakah ada kelompok ketiga yang tidak tercatat dalam narasi penghakiman tersebut yang mana “saudara-Ku yang paling hina ini” ada di sana? Logikanya, jika sang Raja menghadap ke depan dan berbicara dengan dua kelompok yang telah dibagi- Nya, kemudian berbicara “saudara-Ku yang paling hina ini”, seharusnya ada seseorang atau suatu kelompok yang sedang sang Raja tunjuk, bukan? Cukup aneh melihat bahwa “kelompok” itu tidak muncul.

Dalam perikop, narasi “saudara-Ku yang paling hina ini” hanya muncul pada ayat 40. Keener menyebutkan bahwa “saudara-Ku” di sini merujuk pada murid-murid Yesus. Artinya, pesan dari perikop ini adalah mereka yang membantu para murid juga telah melakukannya kepada Yesus. Pandangan ini diterima dalam sejarah gereja, meskipun diskusi tentang “siapa” yang lebih spesifik perihal siapa “saudara-Ku” yang dimaksud Yesus masih belum jelas. Carter juga menyampaikan hal yang serupa, bahwa “saudara-Ku yang paling hina ini” merujuk pada komunitas murid yang terpinggirkan.

Namun perlu diingat bahwa Yesus tidak sedang berbicara mengenai murid-murid-Nya ketika menarasikan “saudara-Ku yang paling hina ini”. Jika kita melihat Matius 24:1 dan Matius 24:3, maka jelas bahwa Yesus sedang menyampaikan khotbah-Nya hanya kepada kedua belas murid-Nya. Frasa “salah satu dari yang hina ini” justru sedang menunjukkan Yesus yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai bagian dari yang terkecil bahkan menjadi satu dengan mereka, yaitu pengungkapan diri Yesus dalam laku dan perbuatan manusia kepada sesama manusia yang membutuhkan. Membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang lain. Konsep “melayani Yesus” yang tampak dalam pelayanan kepada orang lain, mengutip apa yang tertera dalam Amsal 19:17 yang berbunyi, “Siapa berbelas-kasihan kepada orang miskin, memberi piutang kepada Tuhan yang akan membalas perbuatannya itu”.

Benarkah orang-orang yang terkutuk (sebelah kiri) tidak melakukan apa-apa? (ay. 44) dalam ayat tersebut mengatakan, “Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara, dan kami tidak melayani Engkau?” Dari ayat ini, muncul sebuah kemungkinan bahwa sesungguhnya orang-orang terkutuk mungkin saja telah melakukan sesuatu kepada orang lain, bahkan bukan tidak mungkin orang-orang yang diberi bantuan oleh orang-orang terkutuk sama dengan orang-orang yang dibantu orang-orang benar. Mereka juga menganggap aneh pernyataan sang Raja, pada ayat sebelumnya bertanya, “kapan kami tidak melayani Engkau?” Namun perlakuan apa yang telah mereka lakukan, sampai-sampai perlakuan tersebut tidak dianggap melayani Yesus? Mungkinkah frasa “kapan kami tidak melayani Engkau” hanya merupakan perasaan orang-orang terkutuk saja, bahwa mereka merasa telah membantu, padahal tidak? Atau memang ungkapan tersebut merupakan ungkapan sungguh-sungguh dari mereka bahwa mereka telah merasa membantu?

Di sini kita menemukan dimensi ketidaktahuan sangat jelas ditampilkan dalam teks ini. Bahkan setelah Raja menyampaikan secara panjang lebar mengenai orang-orang benar ( ay. 34-36), mereka masih bertanya “kapan kami melakukannya?” (ay. 37-39). Hal yang juga menarik adalah bahwa orang-orang terkutuk juga tidak mengetahui apa yang “telah” atau “akan” mereka lakukan. “Kapan kami tidak melakukannya…?” (ay. 44).

Jika kita mengimani bahwa pertanyaan yang dihadirkan orang-orang benar adalah murni merupakan sebuah ketidaktahuan, maka kita harus mengimani pula bahwa pertanyaan orang-orang terkutuk ini juga murni merupakan sebuah ketidaktahuan. Bahkan, ketidaktahuan ini tampak dalam respons yang berbeda yang dilontarkan orang-orang terkutuk pada akhir pertanyaan mereka, “kapan kami tidak melayani Engkau?”. Itu artinya bahwa orang terkutuk sekalipun, tidak tahu-menahu “sesungguhnya” tentang apa yang diucapkan Raja kepada mereka (ay. 41-43). Orang di sebelah kiri terkejutnya dengan orang-orang benar ketika mengetahui bahwa Yesus hadir dalam kehidupan orang-orang miskin dan hina; untuk menantikan seseorang menunjukkan kasih Allah kepada mereka. Mereka memilih tidak melakukan apa-apa, padahal kesempatan untuk menunjukkan sikap tolong-menolong itu sudah di depan mata. Mereka membantu dengan memilah-milah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dibantu.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, bacaan ini tidak berbicara tentang masa depan atau parousia, melainkan apa yang “kini” dapat dilakukan manusia. Narasi penghakiman terakhir menunjukkan bahwa Yesus berpihak kepada yang lemah dan kecil, bahkan mengidentifikasikan diri-Nya sebagai bagian atau salah satu dari mereka. Tugas kita sebagai orang Kristen adalah menolong mereka yang membutuhkan pertolongan tanpa memandang latar belakang etnis, suku, denominasi gereja, dll,. Bacaan kita saat ini merupakan refleksi bagi gereja tentang diakonia gereja. Apakah diakonia gereja hanya sebatas untuk warga gereja, dst..? atau diakonia?

Kedua, kerajaan surga tentang keutuhan sosial dan bukan tentang kemurnian sebuah ritual. Melayani Yesus bukan hanya karena Anda dan saya menjadi pengkhotbah, pemain musik, pemimpin pujian dalam gereja, dst….. Namun Anda dan saya hadir membebaskan dan menegakkan keadilan serta melindungi orang-orang yang lemah. Karena Yesus ada bersama mereka yang menderita, lemah, bahkan Dia mengidentifikasi diri-Nya sebagai yang menderita itu. Melayani dengan menolong mereka adalah melayani Yesus.

Ketiga, orang-orang di sebelah kanan adalah mereka yang menolong sesamanya tanpa menghitung pertolongannya. Atau seperti yang Yesus katakan, “jika engkau memberi sedekah, jangan diketahui tangan kirimu, apa yang diberikan tangan kananmu” (Mat. 6:3-4). Artinya bahwa memberi lalu melupakan. Menolong jangan menuntut balasan.

Keempat, supaya kita tidak bertanya-tanya dan terkejut, maka dari Firman Tuhan ini kita belajar bahwa Yesus hadir melalui orang susah yang membutuhkan pertolongan dari kita. Jika Anda dan saya melayani dan menolong mereka maka kita sementara melayani Yesus. Itu adalah sebuah kepastian iman, sebab iman Kristen mengajarkan tentang kepastian keselamatan. Iman kepada Yesus yang membuka mata hati kita untuk melayani sesama kita. Amin. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *