BERSAKSI BAGI KRISTUS

BERSAKSI BAGI KRISTUS

(Lukas 24:48)

(Pdt. Elisa Maplani)

Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Untaian kalimat sebagaimana mengemuka merupakan sebuah penegasan Yesus kepada para murid dalam moment penampakan diri-Nya kepada semua murid. Lukas, selaku penulis Injil Lukas menempatkan kalimat yang dicapkan Yesus itu dalam rentetan kisah yang bertepatan dengan kenaikan-Nya ke Surga (Luk 24: 36-53).

Apa arti bersaksi ? Secara sederhana bersaksi artinya menyatakan kebenaran. Apa yang kita ketahui dan alami sebagai kebenaran, kita nyatakan (tampakkan) baik melalui kata-kata, sikap terutama melalui perbuatan. Sehingga orang lain turut mengetahui dan mengalaminya pula seperti kita.

Bersaksi bagi Kristus adalah panggilan kita sebagai orang kristiani, baik secara individu maupun sebagai persekutuan. Setiap orang yang sudah menerima karya kasih dan anugerah-Nya, mengalami “Kabar Baik” Tuhan Yesus Kristus, sehingga hidupnya berubah dari hidup yang sia-sia ke dalam hidup baru yang bermakna dipanggil untuk berbagi dengan orang lain.

Dengan nada lain, setiap orang percaya yang mengalami kasih dan anugerah keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus hendaknya meresponi kasih dan anugerah itu dengan cara memberi diri untuk bersaksi bagi sesama. Tujuannya adalah tidak membiarkan kasih dan anugerah Allah itu jadi milik individu, tapi menjadikan kasih dan anugerah Allah itu dialami oleh banyak orang. Dengan memberi diri bersaksi tentang Kristus bagi sesama , tanda orang tersebut tidak membiarkan kasih dan anugerah Allah itu berlalu secara cuma-cuma dalam hidup.

Kita tentu pernah membaca kisah hidup John Newton. Jhon Newton adalaah sosok yang menulis lagu: AMAZING GRACE (Kidung Jemaat NO.40). Perjalanan hidup John adalah perjalanan hidup dengan masa adalah lalunya yang penuh kelam bahkan menjijikkan. Meskipun di masa kecil, Jhon diajari kedua orangtuanya dengan pengetahuan Alkitab namun John kemudian bertumbuh sebagai seorang anak muda yang memiliki hidup yang keji dan bekerja di kapal dagang.

Yang dijual bukanlah barang-barang seperti kain, keramik, piring, gelas dan sendok atau rempah-rempah tapi manusia. Dengan teman-teman mereka ke Afrika pergi membeli laki-laki, perempuan dan anak-anak lalu dijual sebagai budak di berbagai negara dengan harga yang mahal. Sering para budak itu dipaksa kerja, dilecehkan secara seksual dan dipekerjakan secara paksa.

John dan teman-teman memperlakukan para budak dengan kasar, memaki-maki, dilecehkan secara seksual dan dipekerjakan secara paksa. Ia sering mabuk-mabukan dan terlibat dalam seks bebas. Segala sumpah serapah kepada para budak bahkan kepada Allah di lakukan oleh John. Injil dijadikan bahan tertawaan oleh John.

Pada tahun 1748 John mengalami kejadian yang sangat menakutkan. Kapal yang ditumpangi mengalami hantaman badai laut yang sangat ganas yang akan menenggelamkan dan membinasakan hidup John bersama teman-teman. Tiba-tiba John sadar bahwa ia tidak lagi berdoa kepada Tuhan sejak masa ia bekerja di kapal. Ia ragu apakah saat ia berdoa, Tuhan mau mendengarkan karena hidupnya begitu jahat dan keji serta sering menghujat Tuhan. Namun tanpa berpikir panjang lagi John berseru:”Tuhan kasihanilah kami”.

Tujuh hari berlalu, kapal itu terus terbawa arus sehingga tidak kelihatan daratan. Persediaan makanan hampir habis dan banyak orang di dalam kapal itu mulai marah dan menuduh Jhon sebagai sumber malapetaka karena sering menghujat nama Tuhan. John dihinggapi rasa takut kalau orang-orang di dalam kapal akan melemparkan ia ke laut yang ganas untuk menenangkan badai sementara ia sendiri tidak bisa berenang. Dalam keadaan kalut John mulai berdoa lagi kepada Tuhan demikian: Ya… Tuhan, Jika benar Engkau pasti menepati janji-Mu, sucikanlah hatiku yang kotor ini dan selamatkanlah kami dari kebinasaan.

Empat minggu kemudian kapal yang ia tumpangi dengan susah payah memasuki pelabuhan Irlandia. John Newton mengambil keputusan pergi ke gereja dan di situ ia memberi diri (Bertobat) dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat hidup. Beberapa waktu kemudian, John dipercaya sebagai nakhoda kapal. Walau masih menjual manusia tapi ia perlakukan para budak dengan sopan, lemah lembut dan penuh kasih. Ia setiap hari minggu memimpin ibadah dan melayani pemberitaan Injil untuk ketiga puluh anak buahnya dan para budak yang ada di kapal. Ia jadikan hidup dan karyanya sebagai anak Tuhan yang baik dan dapat diteladani.

John kemudian dalam perjalanan waktu sadar bahwa menjual manusia sebagai budak adalah perbuatan jahat yang sangat tercela karena para budak juga diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Para budak ini adalah manusia yang harus dikasihi karena Allah mengasihi semua manusia tanpa membeda-bedakan. John kemudian berhenti dari pekerjaan-Nya dan mencari pekerjaan lain. Ia kemudian mempelajari Alkitab secara mendalam dalam bahasa Yunani, Ibrani dan Latin. Namun saat melamar untuk ditabiskan jadi pendeta, John di tolak karena masa lalunya yang kelam dan keji.

John tidak berputus asa. Ia terus belajar Alkitab dan berkali-kali memasukkan permohonan untuk jadi pendeta meski ditolak. Akhirnya di usia John yang ke tiga puluh sembilan (39) tahun, permohonan John diterima dan ia ditabiskan selaku pendeta yang melayani di Olney, sebuah kota di Inggris. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Allah dalam Yesus Kristus yang telah menyelamatkan hidupnya dari kebusukan, John menulis sebuah syair lagu yang berjudul: Amazing Grace (Ajaib Benar atau Sangat Besar Anugrah-Nya).

Kata-kata lagu itu sungguh menyentuh hati karena mengungkapkan kasih karunia Allah tidak saja bagi dirinya sebagai mantan penjual manusia. Melalui lagu Amazing Grace, John berkata: Dari hilang, buta dan bercela menjadi sembuh. Anugerah Tuhan bukan untuk kita nikmati sendiri, melainkan untuk kita bagikan dan sebarkan kepada orang lain.

Anugerah Tuhan haruslah disaksikan pada dunia ini. Untuk apa? Tentunya bukan supaya kita dipuji dan dikagumi orang. Juga bukan supaya orang menganggap kita sebagai orang saleh yang tingkat rohaninya sudah tinggi. Sama sekali bukan. Akan tetapi, supaya orang lain turut mengalami “Kabar Baik” itu, dan memuliakan Allah.

Oleh karena itu, aneh kalau ada orang yang katanya bersaksi demi Kristus, tetapi malah lebih menonjolkan dirinya sendiri; keberhasilannya, kemampuannya, atau bahkan kerohaniannya. Pasti ada sesuatu yang salah dalam diri orang itu. Sebab jangan-jangan ia bukan bersaksi bagi Kristus, melainkan bagi dirinya sendiri. Kita bersaksi tidak untuk membawa orang lain kepada diri kita, tetapi membawa mereka kepada Allah. Kita bersaksi bukan untuk kebanggaan diri, melainkan untuk keagungan Allah.

Motif kesaksian kita, sebagaimana juga motif seluruh pelayanan kristiani, adalah supaya DIA semakin besar, dan kita semakin kecil (Yohanes 3:30). Supaya orang lain (dunia) percaya bahwa di dalam nama Yesus, setiap orang yang mau bertobat mendapat pengampunan dan keselamatan. Itu juga yang ditekankan dalam Kisah Para Rasul 4:12: ”bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

Jadi motif utama kesaksian kita adalah banyak orang percaya pada Yesus, nama Yesus di sembah dan dimuliakan serta Anugerah keselamatan Allah dalam Yesus Kristus dialami semua orang. Itu sebab, seorang yang memberi diri bersaksi bagi Kristus kepada sesama, harus rela untuk dilupakan, harus rela untuk tidak disanjung dan dipuja-puji. Jika itu terjadi, tidak apa-apa. Yang penting dan yang terutama adalah nama Tuhan semakin dipuji dan dimuliakan.

Memang bersaksi tidak selalu gampang. Banyak tantangan yang kerap harus kita hadapi.

Pertama Ketidak-pedulian terhadap yang lain (Tantangan internal).

Manusia umum nya memiliki kecenderungan, kalau sudah mendapat sesuatu yang baik bagi dirinya, lantas menjadi cuek terhadap sekelilingnya. Asyik dengan kepentingan dan dunianya sendiri. Atau seperti para murid yang begitu takjub ketika melihat Tuhan Yesus terangkat ke surga. Tetapi cuma sebatas takjub. Selesai. Tidak berbuat apa-apa (Kisah Para Rasul 1:9-11).

Gejala serupa ini tampak misalnya pada gereja-gereja yang eksklusif; gedungnya bagus dengan menara yang menjulang tinggi serta perlengkapan fasilitas yang mewah; Program pelayanannya banyak dengan aneka kegiatan tetapi hanya dinikmati oleh para anggotanya. Jadinya seperti menara gading yang bagus, tetapi cuma untuk dilihat, tidak untuk dirasakan. Atau, seperti pohon ara yang berdaun lebat; rimbun sekali, tetapi tidak berbuah apa-apa sehingga membuat Yesus kesal dan mala mengutuknya (Band. Matius 21: 18-22 dan Markus 11: 12-14).

Kedua, Hambatan dan kesulitan yang harus ditanggung (Tantangan eksternal).

Hambatan dan kesulitan biasanya mengemuka sebagai tanggapan atas kesaksian kita.Tidak semua orang senang dan merasa nyaman dengan kesaksian kita tentang Kristus. Ada yang tidak senang, lalu menjadi sinis. Ada yang sangat fanatik dengan keyakinan ajaran aagama yang dianut lalu membenci, menekan, menghambat dengan berbagai cara.

Tidak sedikit orang Kristen karena kesaksiannya tentang Yesus harus diejek, menderita dipenjara, disiksa, susah naik pangkat, disingkirkan dari jabatan tertentu bahkan jadi martir (mati) karena kesaksiannya tentang Tuhan Yesus Kristus. Tentang kesulitan dan tekanan yang timbul, kita tidak perlu heran. Sebab Tuhan Yesus sendiri sudah memperingatkan jauh-jauh hari sebelumnya, bahwa dunia memang membenci Dia. Karenanya dunia juga akan membenci para pengikut-Nya (Yohanes 15:18, 19).

Dan tidak perlu kecil hati juga. Toh kuasa untuk bersaksi bagi Kristus itu tidak datang dari diri kita sendiri, tetapi dari Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8). Kalau Roh Kudus sudah memberi kuasa untuk kita bersaksi, Dia juga tentunya akan memberi kita kelengkapan untuk kita melaksanakannya dengan baik dan benar. Yang penting kita menyediakan diri untuk dipakai Roh Kudus.

Apa yang dibutuhkan untuk bersaksi?

Pertama, ketulusan.

Kita bersaksi karena memang kita ingin berbagi dengan yang lain tentang karya kasih Kristus. Dan dasarnya adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Bukan, untuk mengejar pujian dan kepentingan pribadi. Ketulusan dalam bersaksi akan menghindarkan si penyaksi dari pandangan dan orientasi yang berpusat pada diri ke arah vukos kepada Yesus sebagai pribadi yang disaksikan.

Kedua, kejujuran.

Kita bersaksi apa adanya; tidak melebih-lebihkan, tetapi juga tidak mengurangi. Jadi, tidak sekadar supaya orang tertarik. Atau tidak sekedar cerita humor (melucu) yang kemudian membuat orang lebih ingat homurnya/cerita lucunya lalu lupa menangkap inti berita (Kerugma) dari kesaksian itu. Sebab kalau begitu apa bedanya dengan seorang pelawak atau iklan ?

Ketiga, keberanian.

Salah satu hambatan untuk bersaksi adalah rasa malu dan takut. Orang tidak mau membayar harga yang mahal untuk tugas bersaksi. Padahal bersaksi dari kata Yunani Marturia, dekat dengan kata Martyr (mati sahid). Bersaksi harus menerima resiko terburuk yakni kematian jika itu terjadi karena Iman kepada Yesus.

Untuk itu, keberanian untuk bersaksi penting. Akan tetapi, keberanian ini tentunya harus diiringi dengan kebijaksanaan pula. Sebab keberanian saja tanpa kebijaksanaan bisa jadi tindakan nekat atau membabi-buta. Bijaksana berarti tahu cara yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Itu yang disebut oleh Yesus, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10:16). Selamat bersaksi bagi Kristus.

Empat, Berdoa mohon pertolongan Roh Kudus (yang terutama).

Untuk bersaksi tentang Yesus, kita harus tahu bahwa kekuatan, kemampuan dan pengetahauan kita terbatas. Kita adalah orang-orang yang lemah dan tak sanggup menghadapi beratnya berbagai tantangan dan kesulitan. Akan ada kenyataan sukar, sulit dan pahit kita alami bahkan mati sebagai martir. Karena itu, kadang diperlukan waktu untuk kita tinggal diam dalam doa dan sujud, memohon Yesus memperlengkapi kita dengan Roh Kudus sebagai sumber kekuatan yang berasal dari Allah sendiri.

Roh Kudus itulah jaminan yang memberi kekuatan, keberanian dan sukacita bagi setiap orang yang memberi diri bersaksi tentang Yesus. Yesus sendiri telah berjanji kepada para murid saat Ia hendak naik ke Sorga dengan bersabda:”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujun bumi (Kisah Para Rasul 1:8).

Ya… sumber kekuatan dan kuasa untuk bersaksi bukan pada diri kita tapi pada Roh Kudus yang dicurahkan Allah Bapa bagi kita. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Berdoalah memohon pertolongan Roh Kudus untuk bersaksi. Selamat bersaksi.

SOLI DEO GLORIA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *