BERTAMBAH BELUM TENTU BERTUMBUH

BERTAMBAH BELUM TENTU BERTUMBUH

Pdt. Frans Nahak

Jemaat Besnam ada lima mata jemaat yakni Mata Jemaat Paulus Taebone jumlah Kepala Keluarga (KK) 84, Mata Jemaat Ebenhaezer Besnam 62 KK, Mata Jemaat Yegarsahaduta Polen 54 KK, Mata Jemaat Elim Nekana 30 KK dan Mata Jemaat Silo Besnam 28 KK.

Karena lima mata jemaat maka setiap minggu pendeta harus mengatur waktu sedemikian agar setiap hari minggu memimpin dua kali kebaktian. Tujuannya ialah agar dalam sebulan semua mata jemaat mendapat pelayanan kebaktian minggu.

Semangat baru karena pendeta baru membuat jemaat begitu bersemangat. Setiap kali dari mimbar atau kursi majelis jemaat memperhatikan dan menghitung kehadiran jemaat beribadah. Lama kelamaan jumlah kehadiran setiap hari minggu semakin meningkat, di beberapa mata jemaat setiap minggu ruangan tak bisa menampung. Tentunya sebagai seorang pelayan senang dan bangga.

Namun ada dua gejala yang ditemukan. Pertama, mereka hadir apabila pendeta yang memimpin kebaktian. Mereka ingin dengar cerita khotbah yang disiapkan dengan baik oleh pendeta. Pendeta menyiapkan  khotbah-khotbah yang tidak membosankan, tidak selalu berkhotbah secara monoton. Karena  khotbah itu adalah “ilmu pergaulan” atau “ilmu bercakap-cakap” dari kata sifat Yunani homiletika yang dihubungkan dengan kata techne, jadi techne homiletika. Istilah ini menitikberatkan percakapan antara dua pihak (dialog). Jadi khotbah itu sendiri adalah “dialog”. Untuk itu, pendeta membiasakan dalam khotbah ada dialog antara jemaat dan pendeta. Hal ini tergantung kepada persiapan seorang pelayan dalam menyusun khotbah dan menyampaikannya. Sebuah khotbah bisa diawali dengan pertanyaan kepada jemaat dan memberi kesempatan kepada jemaat untuk menjawab.

 Dalam ibadah rumah tangga bisa diadakan sharing bersama agar jemaat terlibat dalam pemberitaan firman. Dalam sharing tersebut seorang pelayan menjadi fasilitator agar sharing tidak terlepas dari firman yang dibahas dan terhindar dari penonjolan diri seseorang.

Kedua, jika liturginya kreatif. Jemaat sementara merayakan Bulan Keluarga sehingga semua terlibat. Di mata jemaat tertentu satu minggu satu rayon yang mengisi liturgi. Tanpa dikomando, dicari, diminta, mereka sendiri yang berinisiatif. Jemaat mengungkapkan imannya lewat ibadah yang diekspresikan di dalam dan melalui symbol-symbol yang dengannya diharapkan hubungan antara Tuhan dan jemaat dapat diungkapkan. Mengapa? Karena ibadah merupakan wahana di mana jemaat berjumpa dengan Tuhannya, maka ibadah yang dimaksud mesti ditata sedemikian rupa agar dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya. Usaha untuk menata ibadah ini tidak dimaksud untuk mengurung ekspresi kerohanian jemaat dalam rumusan-rumusan liturgi yang kaku, tetapi sebaliknya agar ibadah jemaat dapat berlangsung dengan teratur dan sebaik-baiknya.

Dari dua hal ini sebagai seorang pendeta berefleksi.
Pendeta menyuguhkan khotbah dan tata ibadah tidak boleh asal laku, melainkan perlu bermutu, memacu pertumbuhan, dan menghasilkan pembaharuan.
Apakah mereka bertumbuh? Ya, tetapi hanya dalam arti jumlah, alias bertambah. Bertambah belum berarti bertumbuh.
Ataukah mereka hanya mencari kepuasan batin? Menghilangkan rasa jenuh, dst..?

Sebelum pendeta datang setiap hari minggu yang hadir beribadah sedikit tetapi sekarang yang betibadah banyak. Tak bisa dari tempat duduk hitung, harus berdiri dan berjalan untuk menghitung, gedung gereja tak bisa menampung. Namun apakah mereka bertumbuh?  Apa indikator pertumbuhan itu?
Dalam teori pembangunan jemaat; ada dua tujuan dari Pembangunan Jemaat, yakni pembangunan internal dan pembangunan eksternal.
Pembangunan internal yakni jemaat dinamis dan partisipatif. Dinamis artinya jemaat bergerak maju, bukan jalan-jalan di tempat apalagi mundur. Sedangkan partisipatif jemaat berpartisipasi aktif dalam dinamika bergereja. Sedangkan pembangunan eksternal, melalui pelayanan pemberitaan firman Allah nampak tanda-tanda kerajaan Allah.

Jemaat yang dilayani bukan suatau “badan” yang statis tetapi dinamis, hidup, ia hidup dan selalu ada dalam gerak. Surat Efesus pasal 4 mengatakan bahwa “belum mencapai kedewasaan yang penuh” masih banyak lagi yang dikerjakan. Karena itu tidak boleh merasa puas. Harus sadar bahwa dalam pertumbuhan jemaat ke depan tiap-tiap kali ditempatkan dalam situasi-situasi yang baru dengan kemungkinan-kemungkinan dan tantangan-tantangan yang baru. Untuk menenuaikan tugas dalam situasi dan tantangan yang baru tidak hanya mengusahakan cara-cara dan bentuk pelayanan yang baru tetapi juga bahan-bahan pembangunan yang relevan. Hal itu banyak meminta pikiran, tenaga dan waktu. Itulah sebabnya dalam Perjanjian Baru sangan kuat ditekankan pentingnya pembangunan jemaat. Selain dari Efesus 4 masih terdapat nas yang berbicara tentang hal itu; Bdk I Kor. 12:25; I Tes. 5:11; Ibr. 10:24; Rm. 14:19. Menurut nas-nas ini dapat disimpukan bahwa supaya jemaat sebagai tubuh Kristus dapat berfungsi

Pembangunan jemaat adalah pekerjaan Roh Kudus. Dalam pekerjaan itu Ia secara khusus memakai pelayan-pelayan gereja sebagai alat-Nya. Pekerjaan pelayan gereja  diarahkan pada pengaktifan anggota-anggota jemaat. Pelayan gereja tidak membuat anggota jemaatnya menjadi pasif atau nonaktif. Maka dengan demikian pelayan gereja harus lebih banyak berada dan berlangsung di jemaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *