BUKAN APA JENIS TANAHNYA TAPI SIAPA PETANINYA?

MATIUS 13: 1-9

BUKAN APA JENIS TANAHNYA TAPI SIAPA PETANINYA?

Pdt. Frans Nahak

Alam dan geografis daerah di Timor ini menakutkan bagi orang baru datang di Pulau Timor. Kawan saya dari pulau Jawa datang berlibur dan jalan-jalan di pulau Timor lalu dia bilang kepada saya, tidak ada yang bisa diharapkan dari pulau ini. Batu banyak, curah hujan tipis. Alamnya keras. Orang timor sendiri secara tidak langsung mengakui hal itu. Di mana 75 % nama-nama yang diberikan kepada kampung tertentu di pulau ini, nama depannya air dan batu. Misalnya, air = OeEkam, Oeusapi, Oebesa, dst. Batu = Fatukopa, Fatumnasi, Fatumetan, dst. Pemberian nama tempat itu menggunakan air dan batu menunjukan kerinduan akan air dan kenyataan Alam di Pulau timor. Namun di alam keras itu nenek moyak kita hidup dan sampai sekarang kita hidup.

Kemungkinan alam dan geografis turut membentuk watak kita orang Timor. Kita omong dengan seseora (anak, suami, isteri) mesti kuat, kasar, namun hati kita baik.

Dalam bacaan perumpamaan tentang penabur yang menjadi sorotan adalah tanahnya (hati manusia) yang menerima firman Tuhan. Tapi kita mesti menyoroti juga penabur karena seorang penabur harus menyiapkan lahan untuk menanam dan merawat tanaman yang ada. Sebagai seorang petani tidak bisa menanam benuh di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, belukar, tapi di kebun yang telah dipersiapkan.

Khotbah saya tidak menyoroti tanahnya tapi petaninya. Karena zaman sekarang bukan apa jenis tanahnya, tapi siapa orangnya? Zaman modern orang menggunakan teknologi moderen bisa menanam di atas atap rumah, atas pasir, dll. Tentu orang-orang bisa melakukan hal-hal itu adalah seorang petani yang handal dan terlatih.

Pertanyaan kita bukan siapa jemaatnya? Mayoritas jemaat yang akan saya layani dari suku mana? Medan pelayanan di Amanuban Timur seperti apa? Itu bukan pertanyaan seorang pelayan Tuhan. Jemaat adalah milik Kristus, anda dengan saya diutus untuk melayani mereka menggunakan keahlian, keterampilan dan karunia yang Tuhan beri.

Dalam perumpamaan ini penabur tersebut adalah Yesus tapi sekarang IA mengutus anda dan saya untuk melayani. Melengkapi kita dengan talenta-talenta. Anda dengan saya adalah petani yang diutus Tuhan untuk bekerja di kebun Tuhan di Klasis Amanuban Timur.

Karena itu saya akan menceritakan ulang perempumaan Yesus ini dengan versi baru:

Ada empat orang petani:

Petani pertama, saat musim tanam dia pergi tanam tapi setelah tanam ia pulang rumah. Ia tidak pergi lagi ke kebun melihat dan membersihkan kebun. Jagung tumbuh namun mati kembali karena tidak terawat.

Petani kedua, saat musim tanam ia juga pergi tanam setelah itu pulang ke rumahnya. Empat hari kemudia ia pergi ke kebun. Melihat tanaman jagung tumbuh dengan subur. Ia begitu gembira. Ia pulang rumah bercerita untuk setiap orang tentang jagung yang tumbuh. Karena saking gembiranya dia lupa untuk kembali ke kebun untuk mengurus jagung yang tumbuh di kebun. Semak, rumput, melilit anakan jagung sehingga mati semua. Tak ada satu pun yang hidup.

Petani ketiga, sehabis tanam dia tidak segera pulang ke rumah tapi membersihkan kebun sampai jagung tumbuh. Batu-batu dijauhkan, pagar diperbaiki. Sehabis kerja dia pulang. Sampai di rumah karena ada pekerjaan lain sehingga ia bekerja di tempat lain. Lama baru kembali ke kebunnya. Sampai di sana jagung mati karena dimakan babi hutan. Rumput dan semak kembali tumbuh.

Petani keempat, setelah menanam ia tidak pernah pulang ke rumah. Bersihkan kebun. Ketika jagung tumbuh dia mengenal setiap jenis tanaman. Malam ia beryanyi bersiul di dalam kebun. Jagung yang tumbuh merasa terhibur. Tidak kesepian. Pagar yang rusak diperbaiki. Sampai panen hasilnya melimpah. Semua orang melihat heran. Petani pertama, kedua dan ketiga datang mengabil bibit di petani keempat.

Petani yang baik adalah petani yang selalu tinggal di kebun.

Dari keempat petani ini, anda dan saya termasuk petani yang mana?

Apakah kita petani pertama? Yang hari minggu habis khotbah meninggalkan jemaat. Prinsipnya bahwa saya sudah memberitahukan dia. Entah dia mau ikut atau tidak bukan urusan saya! Pelayan tipe pertama adalah pelayan yang tidak tau bertanggungjawab dan malas tahu.

Ataukah petani kedua? Habis melayani, memberitakan injil dia eleng-eleng kepala. Pergi bercerita kepada orang tentang kehebatannya dalam pelayanan. Karena saking bangganya dia lupa pulang urus jemaat. Tipe pelayan seperti ini adalah pelayan yang cari pujian untuk pelayanannya.

Petani ketiga? Semangat pelayan awal-awal setelah terpilih jadi Majelis, Ketua Klasis, tapi karena banyak pekerjaan sehingga dia kerja lain. Tipe pelayan seperti ini tidak tahu tugas pokok sebagai seorang pendeta.

Petani keempat? Setelah melayani hidup di tengah-tengah jemaat. Senang dan susah tinggal bersama jemaat. Iman jemaat bertumbuh dan berbuah. Tahu kehidupan jemaat dengan pergumulannya. Tipe pemimpin keempat ini melayani dengan cinta kepada jemaatnya. Ketika hidup dengan mereka maka mereka akan mengasihi pelayan mereka. Di situlah terjadi pertobat dalam jemaat. Jadi bukan siapa jemaatnya tapi siapa pelayannya.

(Renungan ini refrensinya dari buku Pemberita Firman Pencinta Budaya tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo. Saya khotbahkan saat sidang istimewa Klasis Amanuban Timur thn. 2020 di Jemaat Nazareth Oe’ekam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *