CALEG BERTOPENG

CALEG BERTOPENG

Rajin berjalan dan menebar kebaikan untuk mengambil simpati bahkan empati masyarakat. Makin banyak perkunjungan-perkunjungan yang dilakukan, dengan menyebar senyum kepada setiap orang yang ditemui. Masyarakat yang tadinya tidak pernah ditemui, sekarang dikunjungi, dan tiba-tiba menjadi fokus perhatian. Yang paling “laris manis” ialah para ketua RW dan RT yang memiliki rakyat. Ini ibarat angin badai yang datang tiba-tiba, yang
ketimbang membawa berkah, menyejukan sengatan panas teriknya matahari. Coba saja simak di surat-surat kabar atau media televisi akhir-akhir ini, tiba-tiba saja Calon Anggota Dewan (caleg) si A membagi ini dan membagi itu. Tetapi ketika rakyak, misalnya membutuhkan pupuk, makanan, atau beasiswa untuk anak sekolah bukan pada musim kampanye, di manakah mereka? Ada lagi caleg si B yang berpura-pura menjadi pembela rakyat kecil, ada berdiri di jalan rusak atau jembatan rusak sambil mengambil gambar, tetapi ketika ia masih duduk di kursi yang terhormat nyaris tidak kedengaran. Akhir dari semua pendekatan yang dilakukan ialah, menghimbau kepada masyarakat yang dibantunya untuk jangan lupa mencomblos dirinya pada pemilu tanggal 17 April mendatang. Kalau kita memperhatikan dengan saksama, hampir tidak ada yang baru dikatakan oleh juru kampanye ini, baik dalam caranya maupun dalam isi. Semuanya ini hanya sekedar alat atau topeng yang dipakai untuk mendongkrak perolehan kursi sang caleg. Para caleg memakai topeng untuk menutupi wajah mereka yang sesungguhnya untuk suatu masa tertentu, guna menarik simpati.

MEMAKAI TOPENG POLITIK
Topeng berasal dari kata “taweng” berarti tertutup atau menutupi, yang mengandung pengertian sebagai penutup muka atau kedok. Di Indonesia, ada tari topeng yang berasal dari Cirebon yang secara spesifik menggunakan penutup muka berupa topeng. Unsur dari seni tari topeng mempunyai arti yang simbolik dan penuh pesan-pesan terselubung. Tarian topeng juga merupakan alat untuk penyebaran agama di Jawa, setelah media dakwa kurang mendapat respon dari masyarakat.
Topeng biasanya dipakai dalam dunia teater. Seorang aktor menggunakan topeng untuk memainkan sejumlah peran yang berbeda. Selain itu, topeng memiliki fungsi yang lebih luas lagi, baik untuk mementaskan tragedi maupun komedi. Dalam teater-teater moderen justru topeng makin diterapkan. Menurut ahli-ahli anthropologi-budaya, topeng adalah alat yang hampir sama tuanya dengan usia manusia. Alat ini ditemukan pada hampir semua kebudayaan manusia dengan berbagai variasi menurut zaman dan tempatnya. Topeng tertua yang selama ini ditemukan adalah topeng binatang, yang sudah muncul pada zaman es. Dalam kebanyakan masyarakat, khususnya di masyarakat non-Barat, topeng menyimbolkan hakekat dunia atas (Ilah, iblis, kekuatan alam), dan karena itu juga mempunyai bobot dunia atas. Maka dengan demikian, topeng juga merupakan benda kudus. Dalam fungsi magis religious ini, topeng dipakai pada upacara-upacara inisiasi, ritus-ritus pemakaman, pesta-pesta penghormatan terhadap leluhur, ritus kesuburan, penolakan terhadap sakit dan penyakit dan dalam persiapan untuk berburu dan perang. Pada akhirnya topeng dipakai untuk kontak dengan dunia atas dan sedapat mungkin mempengaruhinya. Jelas bahwa di sini topeng mempunyai fungsi agamani. Tetapi dengan fungsi ini, topeng memiliki fungsi politik juga, apalagi ia berada di tangan pemimpin masyarakat (baca: pemimpin politik) untuk mempertahankan kedudukannya. Ketika menjadi fungsi politik maka topeng digunakan untuk menutupi wajah aslinya dan memperlihatkan wajah yang tidak lazim, yang tidak biasa orang melihatnya. Pemimpin politik banyak yang memakai topeng pada musim kampanye untuk menutupi keaslihan mereka selama ini. Para caleg yang memakai topeng pada masa kampanye memberikan pesan kepada masyarakat tentang ke-MUNAFIK-an (Muka Nabi Fikiran Kotor) selama ini. Pada masa kampanye memainkan peran yang berbeda dengan saat ia duduk di kursi terhormat. Masyarakat pemilih harus selektif dan kritis, karena jangan sampai yang datang dengan menabur senyum, membagi-bagikan sembako, memberikan janji-janji yang manis itu bukan wajah aslihnya, memainkan peran yang lain. Wajah aslinya dan peran sesungguhnya sementara tertutup. Masyarakat jangan terbius dengan adegan mereka.
Saya menduga, bahwa inilah yang dilakukan oleh caleg kita dalam masa-masa kampanye ini. Bermain topeng di atas pentas politik, yang dalam banyak hal tidak lucu tetapi membosankan bahkan menjengkelkan. Mereka mahir membela orang kecil, mengutuk para korupsi, dll. Pada saat yang lain memperlihatkan wajah memelas seakan-akan bersimpati dengan yang sedang menderita. Pada saat lain lagi tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan para pemain lain, kecuali dirinya sendiri. Konsep publisitas politik pejabat publik yang kian hari kian insentif yang mengatasnamakan program kementrian dalam berbagai iklan di surat kabar media telivisi, dll. Tujuan ialah juga untuk pencitraan karena selama ini rekam jejak yang jelek, ketika mereka duduk di kursi terhormat itu. Tanggung jawab politis seorang politikus partai adalah memenagkan partainya tetapi tanggungjawab moralnya ialah memenaggkannya dengan wajah yang lazim, yaitu jangan memakai topeng. Para caleg menggunakan topeng untuk mendapat respons dari masyarakat. Namun perlu diingat, bahwa masyarakat kita tidak lagi pasif dan muda dimobilisasi, melaikan masyarakat semakin selektif, menuntut dan karitis. Masyarakat memiliki banyak saluran komonikasi dan informasi. Masyarakat sadar punya banyak pilihan politis, termasuk pilihan tidak memilih mana kala dihadapkan kepada kelangkaan caleg yang memiliki rekam jejak yang jelek di mata masyarakat. Ada sebuah kalimat bijak yang menarik, “seorang budayawan menyampaikan kebohongan untuk menutupi kebenaran, tetapi seorang politikus menyampaikan kebenaran untuk menutupi kebohongan”.

 

Pdt. Fransiskus Seran Nahak, S.Th

Pendeta di Jemaat Besnam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *