CATATAN TENTANG PENDIDIKAN RASUL PAULUS

CATATAN TENTANG PENDIDIKAN RASUL PAULUS

Pdt.  Frans Nahak

Hari ini Minggu, 4 Juli 2021 merupakan minggu pertama bulan pendidikan yang ditetapkan oleh Gereja Masehi Injili di Timor.
Khotbah di mimbar-mimbar gereja baik secara online maupun offline tentang pendidikan. Bacaan Alkitab terambil Ulangan 6:1-9.
Para pengkhotbah menafsir teks tersebut lalu menarik implikasi untuk pergumulan pendidikan kekinian.
Di sini saya tidak membuat penafsiran tentang teks tersebut tetapi menceritakan sedikit gambaran pendidikan (pendidikan agama) orang Israel pada masa Perjanjian Baru yakni Rasul Paulus. Jika dibandingkan dengan teks Ulangan sangat jauh berbeda konteksnya. Ribuan tahun yang lalu setelah bangsa Israel menetap di tanah yang dijanjikan baru muncul Rasul Paulus. Jika kita sepakat bahwa Ulangan 6 adalah perkataan Musa kepada bangsa Israel di Padang Gurun berbeda jauh dengan masanya Rasul Paulus.

Bangsa Israel sangat teliti tentang pendidikan. Ada sebuah pepatah, “bumi ini disanggah oleh nafas anak-anak dalam gedung sekolah. Kota yang tak ada sekolah pasti binasa. Nafas anak-anak sekolah lebih berharga daripada harusnya kurban persembahan.”

Anak-anak umur enam tahun orang tua membawa ke sekolah. Belajar membaca. Setelah itu diberi gulungan kitab yang berisi ayat-ayat suci agama untuk menghafal. Setiap anak-anak menyelidiki kitab suci. Itu berlangsung sampai umur dua belas atau tiga belas tahun dan akan menjadi “Anak Hukum Taurat.” Itu pun melalui ujian. Pada hari sabat yang jatuhnya mendekati ulang tahun kedua belah atau tiga belas anak itu diuji oleh alim ulama dengan berbagai pertanyaan. Jika jawabnya memuaskan dinyatakan lulus dan akan dinyatakan menjadi anak yang telah dewasa.

Ada anak-anak yang selesai pendidikan pada tahap itu, tetapi ada yang melanjutkan pendidikan untuk menjadi seorang Rabi, yakni guru besar pada perguruan tinggi. Di perguruan tinggi seseorang tekun belajar Kitab Suci. Diajar oleh guru besar untuk mencari arti-arti tersembunyi dalam Taurat yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa.
Ada empat arti:
1. Peshat, yaitu arti harafiahnya.
2. Remaz, arti yang terkandung di dalamnya dan yang meliputi segala hal yang ditunjukkan ayat itu untuk bahan pertimbangan seorang pembaca yang arif.
3. Derush, yaitu arti yang diperoleh setelah bagian itu diselidiki dan tata bahasa, ilmu kalimat, referensi-referensi serta sejarah yang diteliti.
4. Sod, yaitu arti simbolis, arti khusus yang bisa ditafsirkan dari bagian itu.
Singkatannya PRDS, membentuk kata Ibrani yang berarti Firdaus. Hanya orang-orang yang menemukan arti itu yang telah masuk ke dalam Firdaus.
Itulah sebabnya Rasul Paulus salah satu orang yang membenci dan menganiaya pengikut Kristus, karena ada orang-orang mengajarkan jalan lain.Di sinilah kita lihat Rasul Paulus sangat radikal dan fanatik sebagai seorang Yahudi. Namun karena rahmat Tuhan ia diubah.

Cara belajar yang intensif berlangsung terus sampai umur dua puluh satu tahun baru memenuhi syarat menjadi seorang guru besar.

Seorang Rabi dilarang untuk menerima bayaran sebagai imbalan pengajaran.
Karena memiliki dua keyakinan, bahwa seorang guru tidak boleh menerima uang dari murid-murid-muridnya. “Janganlah membuat murid-muridmu sebuah kampak untuk alat pencarian nafkahmu. Buatlah mereka mahkota yang memberi kemuliaan kepadamu.” Bangsa Israel berpendapat bahwa seorang sarjana yang paling pandai pun harus memiliki ketrampilan. “Orang yang tidak mengajarkan suatu ketrampilan kepada anaknya mengajarkan dia untuk merampok.”
Setelah menyelesaikan pendidikan pada perguruan tinggi, Paulus belajar menjadi tukang tenda. Tinggal di Tarsus Propinsi Kilikia. Di daerah itu dipelihara kambing yang mempunyai bulu khas. Bulu binatang itu dijadikan wol untuk membuat tenda, kain gorden, dll. Ketrampilan saya membuat saya merasa bangga karena itu tiga menyusahkan seorang pun. Itu saya sampaikan di Korintus ( 2 Kor. 11: 9 ) dan di Tesalonika ( 1 Tes. 2:9 ).”

Catatan kita adalah: pendidikan agama orang Yahudi tidak hanya pelajaran agama namun ketrampilan. Pendidikan yang tidak hanya membetuk seseorang duduk di belakang meja, di atas mimbar, tetapi pendidikan yang memberi semangat kepada seseorang untuk bekerja, kreatif menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan bagi sesama.

Paulus menjadi seorang yang sangat radikal sebelum dirubah oleh Tuhan Yesus tetapi setelah menerima Yesus, Ia menjadi Rasul untuk bangsa-bangsa lain yang sangat majemuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *