CATATAN TENTANG YESUS SEBELUM UMUR TIGA PULUH TAHUN

CATATAN TENTANG YESUS SEBELUM UMUR TIGA PULUH TAHUN

Pdt. Frans Nahak

Setelan peristiwa Yesus berusia dua belas tahun di Bait Allah (Lukas2:41-50), Alkitab tidak mencatat kehidupan Yesus sampai Yesus berusia tiga puluh tahun. Jadi delapan belas tahun merupakan tahun-tahun yang penuh rahasia. Selama delapan belas tahun Yesus tinggal bersama kedua orang tuanya.

Tapi sebelum umur dua belas tahun Alkitab juga tidak mencatat masa-masa Yesus jadi bayi, kanak-kanak. Hanya tiga kali masa kecil Yesus disebutkan, Yesus masih bayi berbaring di palungan, kemudian disunat dan berumur dua belas tahun.

Masa-masa ini menurut beberapa catatan, Yesus mengalami pertumbuhan dan pergaulan sebagai anak-anak pada umumnya. Ia mengikuti pendidikan formal, kurikulum pendidikan orang Yahudi pada waktu itu: pada usia lima tahun belajar Mikra (membaca Taurat), kemudian pada usia sepuluh tahun belajar Mishna (catatan tulisan dari hukum lisan Taurat dari orang-orang Yahudi dari generasi ke generasi), usia tiga belas tahun belajar Tamlud (catatan tentang diskusi para nabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah), usia dua puluh tahun belajar Midrash (cara mengajar kitab suci secara homiletika).

Setiap tahun Ia bersama kedua orang tua-Nya ke Yerusalem merayakan Paskah. Karena sudah terbiasa datang di Bait Allah, maka Bait Allah tidak lagi menjadi asing bagi Yesus. Bait Allah dijadikan rumah bagi-Nya sejak masa kecil.

Pada usia tiga puluh tahun baru Ia tampil di depan umum untuk mengajar (Lukas 3:23).

Keseharian Yesus sebelum umur tiga puluh tahun, Ia hidup bersama ayah dan ibu-Nya.

Lukas 2:51-52 mencatat “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Ayah-Nya adalah seorang tukang kayu dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Dalam Injil Matius 13:55 dikatakan Yesus anak tukang kayu tapi dalam Markus 6:6 “bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria”. Yesus keseharian berkerja sebagai tukang sebelum umur tiga puluh tahun. Yesus dilatih dan belajar menjadi seorang tukang kayu.

Juga Ia memiliki saudara dan saudari (Mat. 13:55-56). Sebagai Putra sulung Ia bertanggungjawab untuk orang tua dan adik-adik-Nya.

Martin Hengel mengatakan bahwa Yesus berasal dari kelas menengah penduduk Galilea yakni para pekerja yang terampil. Justinus Martir, sekitar pertengahan abad kedua menegaskan dalam tulisannya Dialogue with Trypho, a Jew bahwa Yesus tadinya membuat bajak dari kuk. Selain alat-alat pertanian tampaknya Dia juga belajar membuat dan memperbaiki perabot rumah tangga seperti meja, kursi, tempat tidur dan lemari. Pekerjaan tukang dianggap sebagai tugas religious. Karena dalam Talmud berkata, orang yang tidak mengajarkan kemahiran kepada anak-anaknya sendiri, telah mengajarkan menjadi pencuri.

Ada beberapa lukisan yang menarik di pertengahan abad kesembilan belas tentang masa kecil Yesus. J. E. Millais, menyelesaikan lukisan yang berjudul Christ in the home of His parents. Dalam lukisan itu menunjukkan bahwa Yesus sedang terluka oleh sebuah paku; ayah-Nya sedang membungkuk untuk memeriksa luka-Nya. Ibu-Nya sedang menghibur anak-Nya dengan sebuah ciuman. Yohanes Pembaptis sementara membawa air di sebuah mangkuk untuk membasuh luka tersebut. Yesus sedang bersandar pada sebuah bangku kerja yang seperti melambangkan sebuah mezbah kurban.

Dua puluh tahun kemudian sahabat Millais yang bernama Holman Hunt menyelesaikan lukisan yang berjudul The Shadow of Death. Lukisan itu menggambarkan Yesus sudah dewasa bertelanjang dada, Ia berdiri di sisi sebuah kuda-kuda kayu. Dia merentangkan badan-Nya, mengangkat kedua lengan-Nya ke atas, dan tampak mengarah ke langit, saat dia melakukan ini ada bayang-bayang salib yang nampak.

Dari lukisan-lukisan tersebut tidak menunjukkan fakta yang pasti tentang kehidupan Yesus sebelum umur tiga puluh tahun. Namun kita dapat menyimpulkan bahwa masa sebelum tiga puluh tahun Dia mengalami masa-masa seperti anak manusia pada umumnya. Mengikuti pendidikan formal, belajar dari ayah-Nya bertukang, sebagai seorang anak sulung bertanggungjawab menjaga dan memperhatikan adik-adik-Nya, membantu ibunya, dan seterusnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *