CERITA SI ANU DARI KAMPUNG YANG MENGIKUTI JAMBORE PAR

CERITA SI ANU DARI KAMPUNG YANG MENGIKUTI JAMBORE PAR

Dalam masyarakat anak-anak tidak mendapat tempat. Mungkin tidak hanya di masyarakat tapi di gereja juga, tapi itu bukan di gereja kami.

Namaku si Anu, bukan nama yang sebenarnya.

Begini cerita saya:

Ketika bapak dan mama bercerita di ruangan tamu kami duduk di situ, mereka akan bilang kepada kami, “kamu anak-anak ke belakang sana. Atau, ayo, main dengan temam-teman di luar sana karena orang tua ada mau baomong.”

Apalagi kegiatan dalam lingkungan kami. Kami tak boleh mendekat karena dianggap mengganggu. Kami dipanggil setelah semua yang hadir sehabis makan.

Di gereja kami nomor dua. Setelah orang besar beribadah baru kami disuruh masuk, toh, itu untung sehabis ibadah tak ada pertemuan para pemimpin gereja, kalau tidak kami akan menunggu kapan mereka habis berdebat pukul meja, sentak kaki, suara keras, dalam ruangan itu selesai baru kami dipersilahkan masuk.

Masuk dalam ruangan, menyanyi, tepuk tangan, pak guru atau bu guru berkhotbah untuk kami, dikasih tugas ayat hafalan lalu pulang. Disuruh baca sendiri. Setiap hari Minggu Itu-itu saja. Sebenarnya tak mau ke sekolah minggu, tapi nanti bilang tidak masuk sorga. Neraka itu ancaman.

Apalagi guru sekolah minggu kerja sama dengan pak guru Josep atau ibu guru Marta di sekolah.

Hemmmm,, esok ke sekolah pak guru Josep atau ibu guru Marta, si guru agama itu, akan tanya, “siapa yang tak pergi sekolah minggu?” Pak guru Josep angkat kacamata tatapan matanya saja sudah menakutkan.

Siap kena sangsi dari mereka.

Baru ditertawai oleh temam-teman. Ah, biar bosan sekolah minggu tapi terpaksa pergi.

Kami seperti dipaksa makan makanan yang keras. Belum bisa kunyah. Baru yang disajikan tidak enak.

Tetapi biarlah itu di gereja kami bukan gereja kamu, sahabat.

Sekarang kami senang. Bisa berkumpul bersama temam-teman, yakni anak-anak perwakilan dari jemaat -jemaat di Klasis ini.

Biarkan kami berekspresi, bergembira bersama. Ini masa-masa yang paling menyenangkan bagi kami.

Semoga kegiatan ini tidak membuat kami patah semangat hanya karena “dia” yang istimewa dan juara.

Toh ada yang juara juga karena permainan dan perlombaan yang membuat kami mengeluarkan kreatifitas dan kemampuan kami baik secara perorangan maupun kelompok, tapi itu harus memotivasi kami, bukan kami melihat “dia” sebagai saingan.

Kegiatan ini bukan kompetisi melainkan kompetensi. Kami semua diberi applaus. Kami di sini menemukan diri kami.

Kami semua yang hadir adalah sang juara. Anak-anak hebat yang lahir dari rahim GMIT.

Sekarang kami dipanggil untuk berkumpul di rumah bersama yang bernama GMIT.

Terima kasih buat Gereja yang  menyelenggarakan kegiatan ini. Gereja menaruh perhatian kepada kami ketika kami tak mendapat tempat di lingkungan sosial kemasyarakatan.

Kami tidak mau dinomorduakan. Kami mau ketika pulang ke gereja kami masing-masing sekolah minggu tidak lagi membosankan.

Itu sedikit cerita dan harapan si Anu salah seorang anak sekolah minggu dari kampung yang mengikuti jambore tahun ini.

Selamat mengikuti Jambore! (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *