CINTA TAK BISA DIPADAMKAN

CINTA TAK BISA DIPADAMKAN

KIDUNG AGUNG 8:6-7

(Khotbah Pemberkatan Nikah)

 Hari ini kita membawa kedua anak kita ke rumah Tuhan. Rumah tangga mereka dikukuhkan dan diberakti oleh Tuhan menjadi rumah tangga Kristen yang baru. Karena cintalah yang membuat mereka disatukan, sehingga ada ungkapan: “cinta bukan aku, bukan engkau, tetapi kita. Itulah cinta. Cinta membawa seorang laki-laki “aku” untuk menemukan pasangan hidup (suami dan isteri) yaitu “dia” sehingga menjadi ”kita”. Pasangan suami isteri bukanlah “aku” dan “kau” yang masing-masing mempertahankan egoisme, melainkan “aku” adalah “kau” yang adalah “kita” dalam satu ikatan pernikahan suci.”

Oleh karena itu, firman Tuhan yang hendak kita renungkan pada saat ini terambil dari Kidung Agung 8:6-7. Saya sengaja memilih Firman ini karena banyak orang yang tidak nyaman membaca kitab Kidung Agung. Menurut mereka ungkapan-ungkapan di dalam kitab ini tidak pantas ditulis dalam kitab suci.

Kitab ini berbicara tentang ungkapan cinta dua orang yang berbeda jenis kelamin, kemudian menyebut organ-organ tubuh sex yang menurut adat istiadat dan budaya tidak pantas disebut, misalnya, ada ayat yang berbicara tentang buah dada (baca: 7:7-8). Kemudian juga ciuman (baca: 1:2) dan masih banyak ayat yang terasa tabu kalau kita menyebutkan.

Bahasa kitab Kidung Agung memilik gaya tersendiri, baik itu dari kata-kata, kiasan dan bunyi bahasanya yang berbeda dengan kitab Amsal. Bahasa Kidung Agung adalah bahasa cinta. Ungkapan-ungkapan itu senada dengan ungkapan cinta dari Rahel (Kej. 29:20) atau Milkal kepada Daud (1 Sam. 8:20), juga ungkapan cinta Simson kepada Delila (Hak. 16:4).

Bahasa yang digunakan adalah: pertama, bahasa gambaran. Seperti masyarakat tradisional kita pada umumnya, bahasa gambaran adalah cara sangat santun mengungkapkan sesuatu. Misalnya, orang yang sangat dicintai digambarkan sebagai merpati (4:1), rambut seperti kawanan kambing (4:2). Sang gadis memuji pujaan hatinya dengan gambaran seperti emas murni, seperti burung gagak (5:11). Kedua, identifikasi diri. Biarpun indah dan tinggi sanjungan namun ada kesadaran untuk memahami diri. Seorang gadis disanjung dan dipuja tidak tersanjung dan lupa diri begitu saja. Ia menyadari dirinya sebagai mana dia ada karena itu ia tidak dapat menyangkal keadaannya. ”aku memang hitam tetapi cantik karena terpanggang terik matahari” (1:5,6). Ketiga, ungkapan rasa kagum. Daya tarik dari kedua mempelai membuat mereka saling mengagumi satu dengan yang lainnya (7:7-9). Keempat, ungkapan kerinduan. Kerinduan untuk bercinta, bercium, merangkul (1:2,4).

Berbagai metode penafsiran dari kitab ini, misalnya penafsiran alegoris yang merohanikan kitab ini. Mereka menafsir bahan-bahan dalam kitab ini dengan menggambarkan hubungan Tuhan dan umat-Nya. Tuhan sebagai mempelai laki-laki dan umat sebagai mempelai perempuan. Jika penafsiran seperti itu, maka kita menghilangkan kemanusiaan yang ada rasa cinta, rindu yang ditumbuhkan Tuhan dalam diri seorang anak manusia. Kemudian akan membawa kita kepada kasih yang romantis karena ketertarikan fisik. Supaya kita tidak menyangkal kemanusiaan kita dan jatuh kepada cinta yang demikian, maka kita harus melihat dan mendengar ungkapan cinta dalam kitab ini sebagai mana adanya. Cinta itu adalah anugerah Allah, pemberian Tuhan (kita semua yang ada ini karena buah cinta. Jangan merasa tabu omon tentang cinta, mengungkapkan cinta kepada orang yang anda cinta yang telah menjadi sah milikmu.). Alkitabnya orang Kristen dengan jujur mengungkapkan itu, sehingga para ahli mengatakan bahwa kitab Kidung Agung adalah Kidung Cinta.

Cinta itu adalah daya kehidupan yang begitu kuat. Cinta itu ada kerinduan jika ada perpisahan (3:1-5) tetapi ketika bersama-sama cinta mengasikan (psl. 7). Cinta tidak memilih tempat untuk bersemi; cinta bisa bersemi di Desa (7:11), di istana (1:2- 4). Di mana saja, ketika mata melihat/memandang kemudian turun di hati dan cinta bersemi. Cinta itu punya kekuatan yang melebihi maut (8:6-7).

Dalam bacaan kita saat ini, ada beberapa pokok yang akan kita renungkan. Pertama, ada ucapan (baca: ayat 6a)”………… meterai” itu menjadi tanda bahwa seseorang atau sesuatu telah dikuasai/dimiliki dan karena itu tertutup terhadap campur tangan pihak lain. Meterai itu sebagai tanda harus dijaga. Biasanya meterai itu berupa hiasan atau cincin. Kalimat “taruhlah aku seperti meterai pada hati mu” ini bukanlah kalimat biasa tetapi suatu permintaan agar sang kekasih disimpan ditempat yang istimewa, yaitu hati. Sang kekasih menjadi yang istimewa dan berharga. Kemudian, ditaruh di lengan/tangan. Tangan merupak tempat memakai cincing atau gelang. Menyimpan dalam hati dan taruh lengan menunjukan bahwa kekasih mendapat tempat yang istimewa, di dalam hati, pikiran dan tindakan. Inilah uniknya cinta, cinta tersembunyi di dalam hati tetapi nampak dalam sikap dan tingka laku.

Kedua, cinta itu kuat tidak ada yang memisahkan. Kekuatan cinta itu yang membuat sang kekasih mencari dan menyimpan di tempat yang istimewa. Ketiga, cinta itu kuat seperti maut, tak dapat dilawan, dasyat dan begitu kuat, maka ayat 7 “air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya”…dst. Air yang banyak dan sungai itu merupakan ungkapan simbolik/simbol, yaitu kuasa yang memusuhi cinta, mengancam cinta, menghanyutkan cita. Walaupun ada air yang banyak dan sungai tidak bisa memadamkan cinta yang bergelora. Cinta tidak bisa dihanyutkan, tidak padam, tidak tenggelam atau dibawa oleh air. Dengan demikian ada beberapa pokok perenungan:

1. Hari ini rumah tangga telah dimeteraikan oleh Allah sebagai suami dan isteri. Tarulah istrimu, saumimu anak-anakmu (jika dikarunia anak) di dalam hatimu. Jika dia dalam hatimu, biar saumi meninggalkan isteri bertahun-tahun ke Malaysia, Papua, Kalimatan, karena pekerjaan maka tidak ada yang tergantikan sebagai suami atau isteri. Cinta itu yang membuat semangat kerja di sana untuk rumah tanggamu. Jika mereka di dalam hatimu, maka tak akan tenang duduk lama-lama, tidur lama-lama di rumah orang lain, melainkan pulang tidur di rumah sendiri karena ada isteri atau suami dan anak-anak di dalam rumah. Banyak rumah tanggah yang rusak karena ketika suami atau isteri keluar dari rumah hati di tempat lain sehingga melupakan suami atau isteri di rumah.

2. Mencintai itu saling menghargai dan memberi hormat. Hal itu terlihat dari ungkapan “tarulah dalam hati”. Barang yang istimewa tersimpan dalam hati dijaga dan dirawat. Dalam tata ibadah pernikahan kristen, cinta kedua pasangan dikukuhkan di hadapan Allah dan jemaat-Nya. Namun dalam kenyataannya, banyak pasangan yang saling menghargai saat berpacaran dan setelah menikah beberapa bulan, setelah itu rumah tangga yang kudus dicemari karena berbagai faktor. Penulis kitab Kidung Agung merupaka kitab saling memuji dari kedua pasangan. Pujian kepada pasangan merupakan perayaan cinta kasih antara suami dan isteri yang dianugerahkan Allah dalam perkawinan. Tetapi pujian itu hanya saat berpacaran namun setelah menikah pujian itu hilang. Jangan merasa canggung saling memuji sebagai suami isteri di dalam rumah.

3. Cinta suami atau isteri di dalam hati, tetapi nampak dalam sikap dan tingka laku. Nyatakan dalam sikap sehari-hari bahwa anda saling mencintai. Orang yang cintanya nampak di dalam sikap dan tingka laku adalah bertanggungjawab dalam rumah tangga. Tidak lari dari persoalan jika benar-benar saling mencintai.

4. Berumah tangga itu tidak terhindar dari tantangan. Dalam uangkapan Kidung Agung, menggunakan istilah air yang hendak memadamkan cinta, sungai yang mau menghanyutkannya, tetapi rumah tangga yang dibangun atas cinta yang kuat tidak bisa padam, tidak hanyut karena dasarnya adalah saling mencintai. Biarlah cinta terus bersemi sampai maut yang memisahkan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *