DAUD dan ISTRI-ISTRI serta PUTERA-PUTERANYA (3) – Pdt. S.V. Nitti

DAUD dan ISTRI-ISTRI serta PUTERA-PUTERANYA (3)

Adonia adalah anak keempat bagi Daud namun mungkin anak pertama dari Hagit salah seorang istri Daud (2 Taw. 3:3). Nampaknya Adonia dimanja oleh Daud dan tidak pernah ditegur oleh Daud, apa pun juga yang Adonia lakukan. Kita dapat membayangkan bahwa dengan pembiaran dan pemanjaan itu, Adonia menjadi “raja” kecil di lingkungan istana. Para pejabat di sekitar Daud pasti tidak berani menolak keinginannya, yang bisa jadi ia sampaikan bukan sebagai permintaan, tetapi sebagai perintah, seakan menumpang pada jabatan ayahnya untuk berlagak sebagai “raja” kecil. Hal ini mendorong Adonia untuk menjadi anak yang tinggi hati dan pada waktunya ia mulai meninggikan diri dengan berkata: “Aku mau menjadi raja.” Dengan deklarasi ini ia mengumumkan dirinya bahwa “ia bisa”, “ia memenuhi syarat” untuk menjadi raja. Ia membangun konspirasi politik dengan beberapa pejabat tinggi di lingkungan istana, untuk menetapkan dia menjadi raja, tanpa sepengetahuan ayahnya sebagai raja yang masih berkuasa. (1 Raja-raja 1:1-7, 9).

Untungnya tindakan Adonia segera ditanggapi dengan oleh beberapa pejabat tinggi lainnya yang tidak setuju dengan tindakan Adonia, sehingga Adonia yang tiggi hati, yang merasa diri bisa dan memenuhi syarat untuk menjadi raja itu, gagal mewujudkan niatnya. Nampaknya ada semacam konspirasi tandingan untuk mengalahkan Adonia dengan kelompok pejabat pendukungnya, dan konspirasi tandingan itu memang tidak berhasil. Namun Adonia yang kalah itu tidak berhenti mencari jalan untuk menjatuhkan tokoh pemenang dengan memohon bantuan Batsyeba, ibu Salomo, yang anaknya telah menjadi raja. Permohonan itu dilandasi oleh keyakinan bahwa dialah yang berhak menjadi raja dan seluruh Israel mengharapkan demikian juga (1 Raja-raja 2:15). Permintaan yang ia ingin dipenuhi oleh Salomo nampaknya sederhana saja, yaitu memohon keluasan untuk memperoleh Abisag, gadis Sunem, yang melayani dan menemani Daud di masa akhirnya hidupnya, menjadi istrinya. Namun, menurut tradisi kerajaan pada masa itu, meminta istri dari mantan seorang raja yang telah wafat, adalah sama dengan meminta untuk menjadi raja (Bnd. 2 Sam 16:20-22). Karena itu begitu Salomo mendengar permintaan itu maka ia segera memerintahkan agar Adonia dibunuh (1 Raja-raja 2:13-25).

Tradisi menawarkan diri sebagai orang yang memenuhi syarat untuk jabatan tertentu dalam hidup berorganisasi kemudian menjadi salah saru ciri demokrasi yang menandalkan pemilihan terbuka. Bisa jadi terhadap kemungkinan merebut satu jabatan ada puluhan orang yang menawarkan (=mengkampanyekan diri) sebagai yang memenuhi syarat untuk jabatan iitu. Dalam persaingan di antara “para bisa” itu tiap-tiap orang membangun konspirasi dan kelompok kerja untuk meraih jabatan tersebut. Hal ini tidak salah sama sekali, meski pun berpotensi untuk menghabiskan banyak dana dan energi serta menciptakan friksi-friksi yang bahkan tetap ada jauh sesudah pemilihan terjadi dengan ikutannya yaitu balas budi dan balas dendam dari seorang yang terpilih.

Bayangkanlah bahwa cara yang dianggap paling demokratis itu diadopsi menjadi cara gereja memilih para pemimpinnya. Renungkanlah, apakah ada kemungkinan bahwa dengan cara ini gereja sebagai persekutuan yang dipimpin oleh Kristus telah dirasuk oleh suatu ragi dari prinsip demokrasi, ragi yang merusak prinsip Kristokrasi ? Entahlah !

Salam dari Oebufu!

Sumber : FB Pdt. S. V. Nitti

(21/5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *