DENDA ADAT DAN PENGAMPUNAN

DENDA ADAT DAN PENGAMPUNAN

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar cerita bahwa si A dan si B tidak bertegur sapa karena perselisihan yang sudah bertahun-tahun. Padahal mereka kakak dan adik. Masalah cukup serius.

Si A berniat untuk berdamai dengan saudaranya, dia mengutus beberapa orang bertemu dengan si B namun si B menolak karena harus ada pemulihan nama baik dengan denda adat nilai yang cukup tinggi. Akhirnya si A tidak sanggup memenuhi nilai tuntutan, nilai denda.

Di kalangan kami orang Amanuban, khususnya Fatukopa, jika ada seseorang yang berbuat salah kepada saudaranya dia harus pergi meminta maaf kepada saudaranya. Ia pergi tidak dengan tangan kosong, harus membawa OKOMAMA (tempat sirih pinang) sebagai bentuk permintaan maaf. Apabila pemintaan maaf diterima maka isi di dalam tempat sirih pinang diterima dan tidak dilihat nilainya.
OKOMAMA diberikan sebagai bentuk permintaan maaf, tergantung dari besarnya masalah. Misalnya terjadi perselisihan di antara kakak dan adik karena tidak saling menghargai atau ketersinggungan.
Tetapi lain halnya dengan denda adat. Denda adat terjadi karena masalah yang cukup besar. Misalnya, tertangkap basah karena selingkuh, binatang masuk di kebun makan tanaman, ancaman pembunuhan atau pembunuhan. Si korban menuntut ganti rugi apabila binatang makan tanaman, tutup aib bila perselingkuhan. Nilai denda cukup besar. Denda disertai OKOMAMA sebagai bentuk permintaan maaf. Apabila nilai denda diterima maka permintaan maaf juga diterima.

Hari ini kita belajar dari dua bersaudara, Esau dan Yakob.
Yakob merasa takut terhadap kakaknya karena kesalahan yang telah dia lakukan cukup besar. Mengambil hak kesulungan kakaknya dengan menipu lalu melarikan diri. Esau hendak membunuhnya.
Puluhan tahun mereka berpisah. Kini Yakob harus kembali namun dia harus bertemu dengan kakaknya. Berbagai upaya dia lakukan untuk mengambil hati Esau. Yakob mengutus utusan untuk memberitahukan kepada Esau bahwa adiknya datang dengan harta bendanya. Ketika utusan kembali membawa kabar bahwa Esau bersama pasukan dalam perjalanan datang untuk bertemu dengannya, tidak diberitahukan alasannya sehingga betapa takutnya Yakob.

Yakob hendak melunakkan hati Esau dengan pemberian (Kej. 32:14-18).
Dua ratus kambing betina dan dua puluh kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan,
tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan.
dan kamu harus mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami.

” Sebab pikir Yakub: “Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin ia akan menerima aku dengan baik.”

Pikir Yakob harta bisa melunakkan hati seseorang untuk memperoleh pengampunan.
Denda adat dengan nilai tinggi baru memperoleh pengampunan. Jika demikian adat dijadikan bisnis. Pengampunan diperjualbelikan melalui instrumen dalam masyarakat.

Tuhan telah merubah hati Esau karena pergumulan Yakob. Esau telah melupakan apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu. Kini kerinduan hanya bertemu dengan saudaranya.

Ketika bertemu dengan Esau, Yakob begitu merendahkan dirinya di hadapan saudaranya sehingga ia memperoleh pengampunan.

Harta tak bisa memberi pengampunan karena sifatnya sementara, namun kerendahan hati saling memaafkan dan saling menerima di situlah tumbuh pengampunan.
Sebab persaudaraan tak bisa dibeli dengan harta tapi saling menerima dan mengampuni. Persaudaraan tak ada dendam masa lalu karena mengampuni artinya melupakan.

Allah telah membayar denda kita dengan memberikan AnakNya.
Rasul Paulus bilang kepada Jemaat di Kolose
Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,
dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib (Kol. 2:13-14).

Jika demikian, mengampuni sesama saudara mesti ada nilai denda adat seperti cerita si A dan si B? Adat tetap dihargai karena kita manusia beradab, namun saling mengasihi dan mengampuni antara saudara tak ternilai harganya. Persaudaraan dan pengampunan tak bisa dibeli dengan uang. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *