DI MANAKAH ALLAH DALAM BENCANA?

DI MANAKAH ALLAH DALAM BENCANA?

Pdt. Frans Nahak

Covid-19 yang menjangkiti satu juta lebih orang di dunia dan membunuh ratusan ribu manusia membuat semua bangsa di dunia berusaha untuk bangkit, memutuskan rantai penyebaran. Berbagai upaya dilakukan social distancing bahkan ada negara yang harus lockdown. Para medis siang malam bekerja untuk menyembuhkan para penderita juga ada menjadi korban. Rumah-rumah ibadah ditutup bahkan hari raya gerejawi pun ditiadakan dalam gedung-gedung ibadah. Pandemi covid-19 menjadi bencana besar yang mengacam hidup manusia. Ada pertanyaan dari beberapa orang. Di manakah Tuhan? Apakah Tuhan tidak mau menolong? Apakah Tuhan ambsen dalam pandemi covid-19?

Sesunguhnya ini sebuah pertanyaan yang tidak lasim lagi dalam kehidupan orang beriman ketika manusia menghadapi malapetaka dalam hidupnya. Tidak muda untuk menjawab. Dr. A. A. Yewangoe mengatakan bahwa di dalam teologi Kristen ada satu prinsip yang disebut teodice. Ini merupakan kata jadian dari dua patah kata Yunani: Theos= Allah; dan dice= keadilan maka teodice adalah suatu pembelaan terhadap keadilan dan kebenaran Allah menghadapi berbagai malapetaka dan kejahatan yang dialami oleh manusia. Dengan kata lain, di dalam teodice ini segala sesuatu yang dilakukan Allah selalu dianggap baik. Di dalam menghadapi malapetaka dan kejahatan, Allah tidak dapat dipersalahkan (A. A. Yewangoe, Titik Pandang Tentang Perkembangan Masyarakat Indonesia, hlm. 257-258).

Apakah dengan jawaban itu masalahnya selesai? Belum tentu. Pertanyaan tersebut tertanam di setiap lubuk hati manusia karena pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang eksistensial. Karl Rahner, seorang teolog Katolik menyimpulkan betapa tidak memadainya upaya-upaya intlektual tradisional guna menjawab persoalan-persoalan teodice. Maka demikian katanya, kita mesti belajar untuk menerima hal yang tidak terpahamkannya penderitaan yang disebabkan oleh malapetaka sebagai bagian yang tidak terpahamkan Allah sendiri. Rahner berpendapat, Allah mengijinkan malapetaka dan kejahatan untuk ada di dalam dunia, yang alasanya hanya diketahui oleh Allah sendiri.

Namun secara iman mari kita terus berefleksi. Kalau ilmu filsafat bertanya teologi harus memberi jawab walaupun jawabannya tidak sempuna karena kesepurnaan itu adalah Allah sendiri. Artinya tidak ada jawaban yang memuaskan. Teologi tidak terjebak dalam jawaban-jawaban yang kelihatan logis. Namun dalam hal ini, teologi memperkembangkan sesuatu tentang keberpihakan Allah, dan Allah turut bekerja membela kehidupan dari ancaman kematian.

 Dalam Alkitab banyak ungkapan tentang tangan Allah yang menolong. Kalau Allah marah Alkitab berkata: tangan Allah diacungkan, tangan Allah menimpa, tangan Allah menekan. Kalau Allah menolong, Alkitab berkata: tangan Allah menyertai, tangan Allah melindungi. Mungkin kita bertanya, kalau tangan Allah melindungi mengapa banyak orang yang menjadi korban dari covid-19? Yesaya 59:1-2 berkata: sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. Dosa yang dimaksud oleh Yesaya di sini bukan dosa personal namun dosa bangsa Israel.

Apa yang diperbuat Allah terhadap manusia sekarang ini? Ada beberapa kemungkinan. Pertama Allah lepas tangan. Masa bodoh. Lalu Allah cuci tangan dan berpangku tangan. Kedua,  Allah jadi gatal tangan. Artinya Allah sudah tidak sabar lagi, ingin memukul manusia. Allah menjatuhkan tangan-Nya untuk menghukum dunia. Kemungkinan ketiga Allah angkat tangan. Karena dunia ini sudah payah. Kemungkinan mana yang ditempuh Allah?

Jika kita berefleksi dari penderitaan Yesus sampai kepada kematian, kita katakan bahwa Allah menjatuhkan tangan-Nya untuk memukul manusia namun pukulan itu ditanggung oleh anak-Nya sendiri. Namun kita tidak berhenti di sini. Ada kebangkitan. Paskah kita berkata bahwa Allah memilih cara keempat, yakni Allah mengulurkan tangan-Nya untuk membangkitkan Kristus dari kubur yang gelap dan memberi kemenangan. Allah mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat manusia dari lumpur dosa. Kematian telah lenyap, maut telah dikalahkan.

Pandemi covid-19 membuat banyak orang menderita karena sakit yang diderita, ketakutan dan kehilangan. Allah ada. Bahkan Sang Penderita mati telah bangkit maka kita boleh mengharapkan adanya kebangkitan baru bagi semua orang yang dilanda oleh covid-19.

Jemaat GMIT Besnam mengucapkan selamat Paskah tahun 2020.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *