DIUTUS BERSAMA UNTUK MEMBERITAKAN DAMAI SEJAHTERA- LUKAS 10:1-12, 17-20

DIUTUS BERSAMA UNTUK MEMBERITAKAN DAMAI SEJAHTERA

LUKAS 10:1-12, 17-20

Awal tahun ini di setiap jemaat dalam wilayah pelayanan GMIT melakukan peneguhan penatua, diaken dan pengajar. Ada pergantian, karena ada orang baru yang terpilih, namun ada juga yang masih dipilih lagi menjadi penatua, diaken atau pengajar. Kemudian, juga ada mutasi, ada pendeta yang hendak dimutasi karena over time, namun ada juga yang diperpanjang. Jabatan organisasi dalam gereja, ada orang baru namun ada juga yang muka lama masih dipercayakan.
Dalam masa periode pelayanan 2019 s/d 2023, berbagai hal telah dikerjakan. Ada yang bisa dikerjakan namun ada yang tidak sempat dikerjakan. Ada program yang berhasil namun ada juga yang tidak berhasil. Yang berhasil kita katakan, “terpujilah nama Tuhan!” namun yang tidak berhasil kita mengakui sebagai keterbatasan dan keberdosaan kita sebagai manusia. Yang tidak sempat dikerjakan akan kerjakan para pelayan periode 2024 s/d 2027. Mengapa demikian? Karena pelayanan adalah kepercayaan yang diberikan Tuhan, bukan hanya kepada satu orang, tetapi kepada kita semua yang terpanggil untuk melayani. GMIT mengenal istilah presbiterial sinodal.

Hanya Injil Lukas yang mencatat mengenai pengutusan ketujuh puluh murid. Teks ini dikisahkan Lukas dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem, yang dapat dilihat dalam ayat sebelumnya (9:52). Dalam Injil Matius, pengutusan kedua belas murid menunjuk pada pengutusan kepada orang Israel (Mat 10:5-15), namun Lukas, pengutusan kepada segala bangsa.

Kita dapat membagi bacaan ini dalam tiga pokok:

Pertama, ay. 1-3 penunjukan, pengutusan dan situasi yang dihadapi oleh para murid. Tuhan Yesus menetapkan tujuh puluh murid-Nya, mau menegaskan bahwa pemilihan, penetapan dan pengutusan berasal dari Tuhan. Kemudian dalam pelayanan membutuhkan kerjasama dengan orang lain. Yesus mengutus berdua-dua sesuai dengan aturan bahwa kesaksian dua orang berlaku dan dapat dipercaya (bnd. Ul 19:15b). Mengapa Yesus memilih banyak murid? Karena tuaian banyak, pekerja sedikit (ay. 2). Jumlah pekerja tidak sebanding dengan hasil panen.

Situasi yang akan dihadapi para murid (ay. 3). Kata Yesus ”lihatlah” atau ”sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. Domba adalah binatang jinak, tidak merusak atau merugikan, tetapi bersifat agak dungu yang justru merupakan makhluk yang mudah dimangsa dan tersesat. Murid-murid digambarkan seperti domba-domba yang lemah dan harus bergantung kepada Allah. Serigala dalam terjemahan ini menggunakan kata lukon yang mengacu kepada seorang yang menyalahgunakan wibawanya (Zef 3:3).

Gambaran anak domba dan serigala adalah sangat terkenal di kalangan orang Yahudi dan bangsa-bangsa di zaman dahulu kala. Serigala merupakan gambaran binatang-binatang buas yang berbahaya atau lawan yang akan mengancam pemberita-pemberita Injil. Namun perkataan ini juga dimaksudkan sebagai penghiburan, bahwa di tengah-tengah bahaya dan ancaman ada gembala yang akan memelihara mereka, yaitu Tuhan Yesus.

Kedua, Beberapa instruksi bagi para murid (ay. 4-12). Yesus memberikan beberapa instruksi ketika mereka hendak berangkat ke tempat pelayanan, yakni: tidak membawa bekal (ay.4). Bekal artinya pundi-pundi, kantung uang, dompet, kantong pelancong atau ransel. Itu berarti para murid tidak boleh membawa tas (berisi bekal makanan, atau banyak pakaian) dalam perjalanan. Dan juga sandal. Sandal merupakan sesuatu yang penting untuk digunakan ketika bepergian, terutama dalam perjalanan ke Palestina. Perintah Tuhan Yesus untuk tidak membawa pundi-pundi, tas dan sandal bermaksud supaya murid-murid tidak dibebani dengan banyak bekal, tetapi harus bersandar pada pertolongan Tuhan atas setiap kebutuhan jasmani mereka. Dapat disimpulkan bahwa utusan-utusan Tuhan tidak usah menyusahkan diri tentang makanan, minuman dan pakaian atau barang-barang yang lain. Para utusan Tuhan tidak perlu kuatir dengan kebutuhan pada waktu mengadakan perjalanan pelayanan karena Tuhan akan selalu menolong.

Kemudian, ada larangan untuk tidak memberi salam dalam perjalanan, bukanlah ketidaksopanan, tetapi memberi salam akan memakan waktu lebih lama. B.J. Boland mengemukakan bahwa: di tengah jalan tidak usah mereka “memberi salam” kepada siapa pun (bnd. 2 Raj 4:29). Sebab “memberi salam” berarti berhenti berjalan, saling menanya “dari mana mau ke mana” serta meluangkan waktu untuk bercakap-cakap, biasanya tentang hal-hal yang tidak penting.

Dari terjemahan ini, kawan saya membandingkan dengan budaya dan adat orang Meto, Amanuban Timur. Jika hendak ke kebun, kalau bertemu seseorang di jalan kemudian memberi salam dengan mengeluarkan siri dan pinang, maka mereka akan duduk bercerita sampai berjam-jam, sehingga waktunya terpotong untuk tugas yang harus dikerjakan.

Instruksi agar memberi salam kepada tuan rumah (ay. 5-6). Mengucapkan damai sejahtera merupakan salam yang terkenal di kalangan orang Yahudi. Yesus menginstruksikan kepada murid-murid-Nya bahwa salam damai sejahtera merupakan hal yang penting untuk disampaikan ketika mereka masuk ke suatu kota atau rumah. Salam damai sejahtera yang disampaikan bisa diterima atau ditolak. Jika diterima, maka damai sejahtera tersebut akan terus bersama mereka. Namun jika ditolak, maka damai sejahtera itu akan kembali kepada yang menyampaikannya. Penerimaan Injil terlihat dari salam. Seperti adat orang Meto, penerimaan terhadap oko’mama yang diberikan merupakan tanda penerimaan, namun sebaliknya, jika menolak tanda penolakan. Penerimaan oko’mama sebuah beban moril bagi penerima. Instruksi agar bersedia menerima penyambutan tuan rumah (ay. 7-8) dengan diberi makan dan minum. Penekanan pada ”pekerja layak menerima upah”.

Instruksi agar memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (ay. 9). Lukas menempatkan penyembuhan di awal perintah karena penyembuhan dapat dipahami sebagai tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Maksud dari pemberitaan ”Kerajaan Allah sudah dekat” adalah memberitakan tentang Kristus dan perbuatan-Nya, dari zaman Yesus sampai kedatangan-Nya. Di dalam berita ’Kerajaan Sorga sudah dekat’ terletak pusat gambaran masa depan yang besar, yang dilukiskan oleh Yesus dan meliputi seluruh ’masa kini’ dari zaman Yesus sampai pada parousia-Nya.”

Instruksi agar harus dilakukan jika ditolak (ay. 10-12) dengan mengebaskan kaki, artinya diri sendiri tidak bertanggung jawab atas keputusan orang yang menolak pemberitaannya. Hal ini sesuai dengan adat Yahudi, sebagai peringatan bagi penduduk setempat, dan juga sebagai kesaksian yang memberatkan kesalahan mereka pada hari penghakiman.

Peringatan itu ditandai dengan mengebaskan debu dari kaki, yang bagi orang Yahudi sebagai tanda bahwa hubungan dengan orang tersebut telah putus. Semacam sumpah untuk tidak lagi mengenal orang itu.

Kebiasaan bagi orang Yahudi apabila rabi-rabi Yahudi masuk kembali ke negeri Yahudi setelah pulang dari luar negeri waktu di perbatasan mereka harus mengebaskan debu dari kaki dan pakaian mereka. Hal ini menunjukkan bahwa apabila orang itu mati dalam dosanya, tanggung jawab terhadap dosanya bukan lagi tanggung jawab hamba Tuhan, tetapi merupakan tanggung jawab orang tersebut.

Ketiga, kegembiraan ketujuh puluh murid karena berhasil dalam menjalan tugas perutusan (17-20). Murid-murid kembali dengan cerita yang menggembirakan karena kesuksesan mereka melakukan dengan berbagai tanda-tanda mukjizat. Namun Yesus menyadarkan mereka bahwa kuasa adalah pemberian Tuhan, bukan karena kehebatan mereka. Kemudian Yesus mengingatkan mereka bahwa keberhasilan bukan diukur dengan tanda-tanda mukjizat, sebab hal itu bisa dilakukan oleh dunia ini, tetapi nama terdaftar di Surga. Artinya, murid-murid berada dalam lingkaran Kerajaan Allah.

Renungan :

Pertama, keberhasilan dalam pelayanan karena pekerjaan tim. Kita bisa mengerjakan banyak hal karena kita bersatu. Kata orang, lidi tidak bisa menyapu kotoran namun disatukan dan diikat menjadi sapu lidi maka bisa menyapu kotoran. Damai sejahtera hadir karena kerja sama. Murid-murid tidak diutus bukan sendiri-sendiri tetapi berdua-dua. Hal ini memberi pesan kepada para pelayan Tuhan tentang kerja sama, kerja dalam bentuk tim. Untuk menghadirkan damai sejahtera, maka gereja membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak pemerintah, LSM, dll.

Kedua, kesadaran dan kesigapan seorang pelayan untuk menerima resiko dari pelayanan. Murid-murid diutus “seperti domba di tengah-tengah serigala”. Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa tidak semua orang mau menerima berita Injil, dan bahwa kenyataan itu akan mengakibatkan murid-murid diperlakukan dengan tidak baik. Namun sebagai murid, bukan melawan dengan kekerasan, mengancam balik, membalas, namun menghadapi dengan cerdik dan tulus. Kriteria menjadi pelayan Tuhan bukan bodyguard, jago karate, tukang koa (bahasa Dawan: berteriak), hebat gertak orang, tuan tanah yang memiliki kuasa, namun pelayan yang tulus dan bijaksana. Damai sejahtera dihadirkan oleh pelayan-pelayan mau melayani dan bekerja dengan tulus dan bijak. Bukan pelayan berambisi dengan kekuatannya. Menjadi pelayan Tuhan bukan mencari kenyamanan hidup, perlindungan dan fasilitas, sebaliknya pelayan yang harus siap menghadapi kesulitan.

Ketiga, sikap dan karakter seorang pelayan Tuhan. Tuhan Yesus menginstruksikan kepada para murid-Nya, bahwa mereka harus bersedia menerima apa yang disediakan tuan rumah, baik makanan maupun tempat tinggal. Menjadi seorang pelayan yang muda diterima dalam jemaat atau rayon/gugus yang ia layani. Bukan yang menaruh kriteria lalu menuntut jemaat mengikuti kriterianya, menuntut fasilitas mewah sebelum diutus. Pelayan yang menyesuaikan bukan jemaat yang menyesuaikan dengan kehidupan pelayan.

Di sini membutuhkan pelayan-pelayan yang rendah hati. Pelayan yang terbiasa hidup sederhana, yaitu hidup dengan keperluan jasmani seperlunya. Itulah karakter seorang pelayan Tuhan yang membawa damai sejahtera.

Keempat, Yesus mengingatkan murid-murid tentang mukjizat yang telah mereka lakukan. Keberhasilan pelayanan bukan karena hebatnya seorang pelayan , prestasinya, tetapi karena kuasa yang diberikan Tuhan. Oleh karena itu, tidak perlu puji diri, kampanye diri, promosi diri dengan menjadikan keberhasilan menjadi “kuda tunggang” untuk dilihat orang. Namun, bersyukur dengan keberhasilan dengan dinyatakan dalam bentuk syukur kepada Tuhan. Ketika berhasil dalam pelayanan katakan, “ini semua karena Tuhan, terpujilah nama Tuhan”. Bagi Tuhan, bukan keberhasilan yang menjadi pokok utama, namun bagaimana seorang tetap hidup dalam keselamatan. Amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *