DOA TANPA KATA

“Berdoa bukan hanya dengan mulut tetapi dengan hati. Jangan hanya mengucapkan doa! Jangan hanya membaca doa! Jangan hanya menghafal doa! Jangan hanya mendengarkan doa, tetapi jadilah doa. Don`t pray! Be a pray!. Jadikan seluruh hidup kita itu sebuah doa. Artinya, di mana pun, kapan pun dan dalam kedaan apapun kita memelihar komonikasi dengan Allah, bukan hanya dengan kata tapi tanpa kata,” itulah kata-kata yang kami refleksikan ketika teman saya bercerita tentang pengalama hidupnya di rumah Pastori.

Ia bercerita katanya, “satu kali isteri saya sakit lalu bawa ke rumah sakit dan kata dokter paru-parunya agak terganggu. Ketika pulang dari rumah sakit isterinya mengeluh kepalnya cukup sakit, rasanya mau pecah. Suhu badanya meningkat panas. Kami belum lama berumah tangga dan belum berpengalam dengan hal-hal seperti ini. Saya panik, tak tahu mau buat apa. Satu-satunya, ia berdoa meminta pertolongan Tuhan. Duduk di sisi isteri yang berbaring dengan gelisah sambil merintih kesakitan, saya lipat kedua tangan saya sambil pejam mata. Tapi tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mau pun hati, kecuali “Bapa!” Saya duduk saja dengan kepala tertunduk, seolah-olah di depan sebuah pengadilan Allah menunggu keputusan terhadap perkara yang saya bawa. Saya sadar akan kecemaran saya dan isteri saya di hadapan Allah yang suci. Ia Maha Tinggi. Mulut ini terkatup, tak berani bersuara. Biar rahmat-Nya yang berlaku.

Samar- samar terbayang dari kejauhan ingatan saya kata-kata Yesus yang memberi pengharapan; “Bapamu di Surga tahu semua yang engkau butuhkan, sebelum engkau memintanya.” Apakah ini jawaban Tuhan atas doa saya yang bisu ini? Biarkan saja imanku menaikan doanya, mulut dan hati yang berdosa tak berani. Rasul Paulus bilang, “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tiidak terucapkan (Rom. 8:2-27).

Beberapa lama saya duduk mematung, hanyut dalam kekosongan yang mutlak itu, entahlah. Bukan putus asa, bukan pula kehilangan kepercayaan. Perasaan saya tidak dapat saya jelaskan karena memang tidak ada sama sekali pada saat itu, seperti eksistensiku larut dalam ketiadaan.

Ketika saya sadar  memperhatikan isteri saya mulai tenang, dahinya basah oleh  peluh, panasnya pun menurun dan nampaknya ia hendak tidur. Hati ini mulai tenang. Saya  membiarkan ia tidur. Bangun dari tidur mukanya segar. Katanya tak lagi sakit. Beberapa waktu kemudian kami ke dokter dan hasilnya paru-parunya sudah normal.”

Apakah suara badani yang hanya di dengar oleh Tuhan? Apakah pengakuan akan kemahakuasaan Tuhan hanya dinyatakan lewat ucapan? Tidak. Ada juga dengan cara lain yakni Doa Tanpa Kata.

“Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat. 6:8). FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *