ESTAFET KEPEMIMPINAN-Bilangan 27:12-32

ESTAFET KEPEMIMPINAN

Bilangan 27:12-23

PENGANTAR

Kita pernah dengar ungkapan ini, ”mulai dari nol.” Mulai dari nol adalah ungkapan yang sangat familier di kalangan pebisnis. Pebisnis mengawali usahanya mulai dari nol. Nol permodalan, nol pengalaman, dan nol pengetahuan. Karena itu, jika bisnisnya telah sukses maka harus dilanjutkan oleh anaknya.

Ungkapan “mulai dari nol” ini juga kita temui di Pertamina. Beberapa waktu yang lalu, Presiden Jokowi menggunakan ungkapan itu untuk berbicara tentang kepemimpinan. Orang nomor satu di Indonesia itu berkata bahwa kepemimpinan itu estafet, artinya melanjutkan apa yang sudah dengan baik dikerjakan oleh pendahulunya. Bukan mulai lagi dari nol, kalau itu seperti meteran di pom bensin.

“Kepemimpinan itu ibarat tongkat estafet, bukan meteran pom bensin. Kalau meteran pom bensin itu dimulai dari nol ya. Ini apa kita mau seperti itu? Endak khan? Masa kayak meteran pom bensin. Mestinya kalau sudah dari TK, SD, SMP kepemimpinan berikutnya masuk SMA, universitas. Nanti kepemimpinan berikut masuk S2, S3,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan hal ini untuk menanggapi salah seorang bakal calon Presiden yang mengusung perubahan.

Tahun ini dan tahun depan terjadi perubahan kepemimpinan. Di pemerintahan pusat terjadi pergantian Presiden dan wakil Presiden. Di daerah-daerah pemilihan Bupati/Walikota sampai kepada Gubernur. Ada yang baru terpilih ada yang lama terpilih lagi.

Di gereja: aras Jemaat ada pemilihan penatua, diaken dan pengajar, di lingkup Klasis pemilihan Majelis Klasis Harian, dan di Majelis Sinode pemilihan Majelis Sinode Harian. Ada yang mencalonkan diri lagi tapi tidak terpilih, namun ada orang baru terpilih, ada juga yang tidak bisa lagi mencalonkan diri karena regulasi.

Dalam gereja jabatan adalah pemberian Tuhan sehingga siapa yang terpilih itu adalah pilihan Tuhan. Tuhan memilih seseorang, sekelompok orang, melalui umatNya untuk melaksanakan misiNya.

Minggu ini tema renungan kita adalah estafet kepemimpinan. Kita akan belajar dari Musa.

Estafet adalah cabang olahraga lari beregu dan setiap pelari harus menempuh jarak yang telah ditentukan sebelum memberikan tongkat penyambung ke teman satu tim yang berada di depannya. Lari estafet dalam bentuk tim, kerja sama dalam bentuk tim.

GMIT menganut asas presbiterial sinodal dalam bentuk kemajelisan, satu periode tertentu. Ketika periode selesai maka harus menyerahkan kepemimpinan kepada yang baru terpilih.

PEMBAHASAN TEKS

Bilangan 27: 12-23 menjadi titik penting dalam akhir kisah kepemimpinan Musa. Narasi ini menjelaskan tentang peralihan kepemimpinan Israel dari tangan Musa untuk diserahterimakan kepada Yosua. Sebelum kepemimpinan itu diserahkan kepada Yosua, di atas gunung Abarim, Tuhan memperlihatkan kepada Musa pemandangan tanah perjanjian. Musa diizinkan Tuhan untuk melihat tanah Kanaan yang pernah dijanjikan oleh Tuhan untuk diberikan kepada Israel, kendati dirinya tidak diizinkan Tuhan untuk turut serta memasuki tanah Kanaan.

Di Gunung Abarim, Tuhan memberitahukan bahwa sampai batas inilah Tuhan mempercayakan bangsa Israel ada di bawah kepemimpinan Musa. Dan di sini jugalah, di gunung Abarim, Tuhan memberikan langkah petunjuk kepada Musa untuk menyerahkan tanggung jawab kepemimpinan yang selama ini ia pegang untuk diteruskan oleh Yosua. Yosua sudah ada dalam kondisi yang siap untuk menerima tanggung jawab tersebut.

Yang menarik dari narasi ini adalah tidak ada sedikitpun nada kekecewaan Musa karena ia tidak diizinkan Tuhan turut serta memasuki tanah Kanaan. Ia benar-benar menunjukkan sikap yang legowo. Tak pernah berambisi mempertahankan jabatan. Mengapa? Karena Musa sadar bahwa jabatan adalah pemberian Tuhan. Kemudian kepemimpinan itu ada masanya untuk berakhir. Namun kepemimpinan harus berlanjut. Musa sangat rendah hati untuk melepaskan jabatan kepemimpinan. Ayat 17 menunjukkan hati seorang Musa. Ia sangat mengasihi umat yang dipimpin dan harus ada pemimpin yang melanjutkan kepemimpinannya. Karena itu Ia sendiri yang mengusulkan kepada Tuhan untuk mengangkat seseorang untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Munculnya Yosua sebagai pemimpin Israel menggantikan Musa, terjadi sebagai hasil dari sebuah proses panjang untuk membentuk diri dan kepribadiannya menjadi seorang pemimpin. Beberapa bagian Alkitab mengindikasikan hal tersebut. Misalnya, dalam Keluaran 33:11 dituliskan: “Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.”

Saat Yosua menyaksikan bagaimana Tuhan Allah Israel berfirman kepada Musa, saat itu umur Yosua masih muda. Muda dalam pengertian di sini ialah bahwa dirinya tidak seumuran atau seangkatan dengan Musa. Seluruh waktu dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun menjadi waktu yang dipakai Tuhan untuk membentuk karakter kepemimpinan dan mentalitas Yosua. Persiapan diri Yosua sebelum dirinya benar-benar siap menerima tanggung jawab kepemimpinan atas bangsa Israel setidaknya membutuhkan waktu selama empat puluh tahun. Ada peran pengantara di mana Tuhan mendidik dan mengajar Yosua melalui diri Musa.

Yosua adalah pribadi yang rendah hati. Dirinya rela menjadi abdi Musa, menanggalkan segala ambisi pribadinya dan menjadi seseorang yang selalu ada di dekat Musa untuk menolong Musa. Kapan pun dan di mana pun Musa berada, Yosua siap melayaninya. Sebagai abdi Musa sudah barang tentu ia adalah pengikut yang taat. Sebagai abdi Musa, Yosua telah menjalani peran sebagai murid dan orang kepercayaan Musa. Dan Yosua juga adalah pribadi yang bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diembannya. Dalam peperangan melawan bangsa Amalek, Musa menunjuk Yosua untuk menjadi panglima perang Israel. Keberhasilannya dalam memenangkan pepera- ngan tentu menjadi modal pengalaman yang sangat berharga manakala di kemudian hari dirinya memimpin bangsa Israel merebut dan menaklukkan tanah Kanaan.

Selain itu Yosua adalah bagian dari dua belas orang yang ditugasi untuk mengintai tanah Kanaan. Di antara keduabelas pengintai itu hanya Yosua dan Kaleb yang memberi laporan positif yang membesarkan hati manakala mereka pulang dari tanah Kanaan. Yosua dan Kaleb membawa tandan anggur yang buahnya besar-besar, membuktikan betapa kaya dan suburnya tanah yang dijanjikan Tuhan itu. Yosua dan Kaleb tidak gentar melihat orang Enak yang mendiami tanah Kanaan, karena keduanya lebih mempercayai kesetiaan Tuhan Allah Israel pada apa yang telah dijanjikan-Nya

Yosua dan Kaleb saja sebagai generasi yang lahir di tanah Mesir yang akhirnya diizinkan Tuhan untuk turut masuk ke tanah Kanaan. Yosua tahu betul situasi dan kondisi tanah Kanaan. Pengetahuannya tersebut sangat penting karena dirinya memegang peta petunjuk untuk seluruh umat Israel dalam menjelajahi dan menaklukkan tanah Kanaan.

Keterpilihan Yosua menjadi pengganti Musa adalah pemilihan langsung dari Tuhan. Pemilihan Tuhan atas diri seseorang untuk menjadi pemimpin selalu merupakan jawaban atas kebutuhan umat Tuhan pada masanya. Tuhan sendiri berfirman kepada Musa dengan menyebutkan nama Yosua. Yosua adalah seorang yang penuh roh. (Bil. 27: 18). Frasa tersebut adalah terjemahan dari bahasa Ibrani ‘ishasyer-ruakh, secara literal berarti seorang laki-laki yang memiliki roh; seorang laki-laki yang di dalamnya ada roh (a man in whom is the spirit). Dalam Ulangan 34:9 disebutkan: “Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan.” Dalam bahasa Ibrani male’ ruakh khakemah, secara literal berarti terisi penuh dengan roh kebijaksanaan; memiliki roh kebijaksanaan secara utuh/lengkap.

Yosua menerima jabatan kepemimpinan dengan penumpangan tangan dalam sebuah ritual yang disaksikan oleh umat Tuhan (ay. 18 dan 23).

PENUTUP

Renungan :

Pertama, dari bacaan ini kita belajar dari Musa, bahwa jabatan yang kita peroleh adalah pemberian Tuhan. Jika kita tidak dipercayakan jabatan itu lagi, maka dengan rendah hati kita memberikan kepada yang terpilih. Karena pemberian Tuhan, maka tidak bisa mempertahankan jabatan dalam gereja seumur hidup. Bagi yang tidak terpilih, kekecewaan, dendam, hendak menjatuhkan, menyingkirkan, memfitnah, tidak tersimpan dalam hati.

Musa sangat legowo untuk diganti oleh Yosua, bahkan ia sendiri meminta kepada Tuhan untuk diganti. Musa juga sadar bahwa dia semakin tua dan tidak masuk ke tanah perjanjian. Yosua yang masih muda harus menggantikan dia. Kesadaran Musa ini adalah kesadaran setiap pelayan Tuhan, bahwa setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Bagi yang sudah cukup umur, biarkan orang-orang muda yang memimpin gereja. Bagi yang sudah menjabat berperiode-periode, berikan kesempatan kepada yang lain untuk memimpin. Gereja bukan perusahaan yang Anda dan saya bangun sehingga tidak memberikan kesempatan kepada orang lain. Gereja adalah milik Tuhan, siapa saja Tuhan pakai untuk menjadi alatNya.

Kedua, jika jabatan yang diberikan Tuhan itu adalah jabatan pelayanan maka pelayanan keberlanjutan (estafet). Bukan “mulai dari nol.” Mulai dari nol itu dalam dunia bisnis. Gereja bukan perusahaan baru yang Anda dan saya rintis dari nol, tetapi Anda dan saya melanjutkan misi Tuhan yang telah dirintis, dibangun oleh para pelayan terdahulu. Seperti Yosua yang melanjutkan kepemimpinan Musa untuk membawa bangsa Israel masuk di tanah Kanaan. Anda dan saya yang dipilih oleh Tuhan untuk melayani dalam gereja tidak memiliki visi dan misi tersendiri sebab misi kita adalah misi gereja yang adalah misi Tuhan. Tetapi jika Anda memiliki misi tersendiri, itu ambisi bukan misi.

Ketiga, siapa yang bisa melanjutkan estafet pelayanan dalam gereja? Jika kita belajar dari bacaan ini, Yosua dipilih Tuhan menjadi pemimpin karena ia telah melalui sebuah proses belajar yang panjang dengan Musa. Bukan pemimpin yang instan. Mau menjadi pemimpin harus siap untuk mengikuti proses belajar dan diajar. Gereja kita telah mengatur regulasi calon penatua, diaken, pengajar, dalam jabatan organisasi, MJH, MKH dan MSH, dst. Namun pertanyaan refleksi kita adalah: Bagaimana dengan mereka yang telah menjadi bakal calon? Instankah?

Dalam proses belajar itulah Yosua menjadi seorang yang bijak.

Keempat, untuk melanjutkan estafet kepemimpinan harus ada pengkaderan. Awal kegagalan karena kita tidak menyiapkan pemimpin untuk masa depan. Dalam bacaan ini, Musa menyiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan dan berhasil dalam kepemimpinannya. Keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari kerja masa lalu dan masa kini, tetapi menyiapkan masa depan. Amin. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *