FIRMAN MENJADI MANUSIA DAN DIAM DI ANTARA KITA – Yohanes 1:1-18

FIRMAN MENJADI MANUSIA DAN DIAM DI ANTARA KITA

Yohanes 1:1-18

Kata Andar Ismail, masyarakat kita dikenal dengan pandai berbasa basi. Basa basi artinya mengucapkan kata-kata hanya sebagai formalitas.

Misalnya, hari minggu pagi-pagi saya ke gereja pegang Alkitab, lewat halaman rumahnya dia sementara berdiri di situ, tak pelak lagi ia bertanya, “bapak ke gereja?” jelas itu hanya berbasa-basi, sebab dia tahu bahwa saya mau ke gereja.

Ketika numpang mobil dari Kupang ke Betun, sampai di cabang Batu Putih, mobil berhenti sejenak lalu ada seorang ibu membeli telur rebus. Telur itu di kupas kulitnya. Setelah itu ia menyodorkan kepada kami yang duduk berdekatan dengan dia sambil berkata, “mari makan o!” jelas bahwa ini hanya berbasa-basi, sebab mana mungkin satu butir telur dibagi untuk kami empat orang.

Juga kita di kota suka berbasa basi. Ada tamu di depan pintu. Kita sedang sibuk. Pada saat itu kita tidak senang kedatangannya. Tetapi, ketika ia bertanya, “apakah sibuk?” maka dengan senyum yang dibuat-buat kita menjawab, “ah, tidak, mari duduk”. Tamu itu omong kiri dan kenan. Kita gelisah tentang kesibukan yang ditinggalkan. Kita ingin tamu ini untuk cepat pergi. Tetapi, ketika tamu itu mau pulang maka dengan wajah yang pura-pura terkejut kita berkata, “hei, su mau pulang?” ini sebuah basa basi. Basa basi adalah untuk memaniskan suasana, mulut berkata lain tetapi hati bermaksud lain.

Manusia suka berbasa basi namun Allah tidak berbasa-basi. Berabad-abad lamanya, Allah berjanji melalui firman-Nya akan kedatangan Juruselamat. Semua firman itu adalah abstrak. Tetapi semuanya tiba-tiba berubah pada peristiwa Natal. Sebab Firman yang abstrak itu menjadi manusia dan diam di antara kita. Itulah yang dikatakan oleh penulis Yohanes dalam bacaan ini.

Injil Yohanes ditulis untuk memperkuat atau memperdalam kepercayaan jemaat kepada Yesus sebagai Allah sendiri yang datang ke dalam dunia. Sebanyak 27 kali dalam Injil Yohanes memberi penegasan melalui kesaksian bahwa Yesus adalah anak Allah. Kita menyebut beberapa contoh: Yohanes Pembaptis memberi kesaksian bahwa Yesus adalah anak Allah (ay. 34, 3:22-36). Natanael juga memberi kesaksian bahwa Yesus adalah anak Allah (ay. 49). Nikodemus pemimpin agama Yahudi itu, bahwa Yesus diutus Allah (3;2), perempuan Samaria memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Mesias (4:29,39), juga Petrus dan Thomas ikut memperkaya kesaksian bahwa Yesus adalah anak Allah (6:68; 20:29).

Yohanes menulis bukan untuk menginjili tetapi memberi kesaksian iman. Dalam bacaan ini tiga kali kita menemukan kata kesaksian (ay. 7, 8, 15). Menginjili memiliki konotasi yang artinya membuat orang percaya.

Pembaca Yohanes adalah orang-orang percaya, namun mereka diguncang dengan filsafat Yunani. Terdapat penolakan dan penyangkalan terhadap keilahian Yesus karena pengaruh berbagai ajaran.

Yohanes menggambarkan Yesus begitu rupa sehingga semua pembaca mendapat kesan yang kuat bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang hadir di dalam dunia. Yesus tidak lain adalah firman Allah dalam rupa manusia. Keallahan Yesus bersifat kodrat. Artinya sudah ada sejak kekal dan hubungan dengan Sang Bapa bersifat langsung.

Ayat 1-5 yang menjadi pembukaan keseluruhan Injil memberikan kesaksian bahwa Yesus adalah Allah. Ia adalah firman Allah dan firman Allah itu ialah Allah sendiri. Dengan kata lain, firman Allah (kata-kata Allah) menjadi manusia yang namanya Yesus, Ia turun ke bumi dan keadaan seperti manusia, berjalan, merasakan dan bertumbuh seperti manusia. Allah yang tidak terbatas itu masuk dalam satu dunia yang terbatas dan Ia bersedia dibatasi dalam suatu konteks tertentu.

Untuk mendukung pernyataan tersebut, Yohanes menyampaikan kisah penciptaan. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia (Firman), di mana dalam Kejadian 1 dikatakan bahwa Allah berfirman maka semuanya jadi. Kata “pada mulanya adalah Firman” menunjuk waktu sebelum penciptaan, yang merujuk kepada Kejadian 1:1. Firman itu tidak diciptakan karena Dia sudah ada sebelum dunia ini diciptakan. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan tanpa Dia segala sesuatu tidak ada.

Dia datang untuk memberi kehidupan, yang digambarkan dengan terang yang bercahaya. Di mana kegelapan tidak menguasai terang itu.

Ayat 6-8 dan 15, berbicara tentang kehadiran Yohanes Pembaptis. Ia hadir untuk mempersiapkan umat Allah. Tetapi Yohanes bukan terang itu. Penulis mengingatkan bahwa Yohanes Pembaptis hanya seorang nabi. Dia seperti anak panah menunjuk kepada sasaran.

Ayat 9-14, 16-17, kesaksian Yohanes Pembaptis. Dalam kesaksian Yohanes menyatakan bahwa Yesus adalah terang yang datang ke dalam dunia dan tinggal di antara kita (ay. 9,14). Dia penuh dengan kasih karunia dan kebenaran (ay. 16-17). Namun dunia yang diciptakan-Nya tidak semua menerima Dia. Bagi mereka yang menerima Dia diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (ay. 12-13). Apa maknanya? Dalam Injil Yohanes, menjadi anak Allah berakar pada kelahiran baru, yaitu dari Allah, dari Roh dan juga dari atas. Oleh karen itu, kita menemukan pernyataan bahwa mereka yang percaya bukan diperanakkan dari darah atau dari daging, melainkan dari Allah.

Renungan:

Pertama, merayakan Natal merupakan bukti bahwa firman Allah itu benar, dan Allah tidak pernah mengingkari janji. Caleg biasa ingkar janji, suka berbasa basi di musim kampanye seperti ini, karena mereka manusia, namun tidak demikian dengan Allah. Firman Allah bukan kata-kata yang kosong, dengan kata lain, Allah tidak omong kosong, tetapi Dia tepati janji-Nya. Firman atau Perkataan Allah atau ucapan Allah mengandung arti, perkataan bukan bunyi, sebab bunyi bisa saja tidak bermakna. Firman adalah perkataan Allah yang ketika diucapkan menghasilkan suatu karya. Natal kita belajar untuk tidak mengingkar janji, belajar untuk menepati janji, apalagi kita berbicara, berkampanye mengutip ayat-ayat Alkitab.

Janji Tuhan untuk menyertai kita melewati tahun 2023 dan memasuki tahun 2024. Di tahun 2024 Dia akan terus menyertai kita karena Ia telah tinggal di tengah-tengah kita.

Kedua, merayakan Natal berarti kita merayakan terang yang hadir di tengah-tengah kita. Dia menerangi hati dan akal budi kita. Menerangi jalan-jalan kita supaya kita tidak terantuk dan jatuh dalam dosa. Juga menerangi mata hati kita agar tidak salah memilih Presiden, DPR, DPRD, DPD dan kepala daerah yang akan menjadi pemimpin bagi kita.

Merayakan Natal merayakan hidup sebagai anak-anak terang, karena itu jauhilah yang gelap. Gelap adalah simbol dosa.

Bekerjalah sebagai anak-anak terang, baik itu sebagai tukang ojek, petani, nelayan, PNS, swasta, sebagai seorang bendahara, dll. Sebagai pemuda/i yang sementara berpacaran, pacaranlah sebagai anak-anak terang, bukan seperti anak-anak gelap yang tidak mengenal Tuhan. Anak-anak terang pacaran dalam terang bukan dalam gelap.

Kita anak-anak terang yang diberi kuasa untuk menaklukkan kegelapan yang mengancam kehidupan.

Ketiga, merayakan Natal berarti merayakan kehadiran Allah yang mau tinggal di antara kita. Di mana saja kita berada. Di jalan, di rumah, di kos, di sekolah, di atas kendaraan, dst. Saat Anda dan saya berkompromi untuk melakukan apa saja, omong apa saja, ingat bahwa Tuhan ada di tengah-tengah kita. Oleh karena itu berbicara dan bertindak sebagai anak-anak Allah.

Keempat, merayakan Natal berarti merayakan Allah menjadi manusia di antara kita. Dia bukan menjadi makhluk aneh, tetapi Dia di antara kita melalui kehadiran sesama kita. Dia bisa hadir melalui sesama kita yang membutuhkan bantuan kita atau membantu kita. Karena itu bersikaplah dan berbuatlah kepada sesama kita seperti kepada Allah. Bahkan dia hadir sebagai orang Amanuban, Amanatun, orang Belu, dst., dalam bentuk fisik yang berbeda dengan kita. Oleh karena itu, layanilah sesama kita seperti melayani Allah. Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Amin. FN.

Selamat merayakan Natal…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *