FIRMAN YANG MENGHIDUPKAN

Firman Yang Menghidupkan (edisi 1 dari 3 edisi).

           (Lukas 4:1-4)

Pdt. Elisa Maplani

       Makanan adalah kebutuhan pokok (primer) manusia. Setiap mahkluk hidup butuh makan. Pertanyaan yang mengemuka adalah: Makan untuk hidup atau kah hidup untuk makan? Itulah sebuah dilema kehidupan manusia. Bagaimanakah orang Kristen menjawab persoalan itu ?

Persoalan itu pula yang ditanyakan, ketika Iblis membawa Yesus ke padang gurun untuk mencobai-Nya. Kata Iblis: Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti (ay 3). Ternyata Iblis juga tahu bahwa Yesus itu Anak Allah. Iblis juga tahu akan Firman Allah sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.

Namun pengetahuan Iblis tentang Yesus sebagai anak Allah dan pengetahuan akan Firman Allah tidak membawa Iblis pada keputusan untuk tunduk menyembah Yesus dan hidup berdasarkan Firman Allah. Pengetahuan Iblis tentang Yesus sebagai Anak Allah dan Firman Allah justeru dijadikan titik masuk untuk mencobai Yesus.

Pertanyaan yang dikemukakan Iblis sebagaimana mengemuka dalam Injil Lukas 4:3 itu bila dicermati berkaitan erat dengan dua hal pokok: Pertama, Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa. Kedua, Yesus adalah seorang manusia yang lapar.

Iblis tahu bahwa dalam diri Yesus melekat dua sisi penting yakni sisi Ilahi dimana Yesus adalah Anak Allah yang sejati. Status sebagai Anak Allah, membuat Yesus punya kuasa mutlak untuk dapat melakukan perkara-perkara spektakuler dalam hidup, termasuk dapat merobah batu menjadi roti.

Namun dalam diri Yesus melekat pula sisi insani. Yesus adalah anak dari seorang tukang kayu bernama Yusuf dan ibu-Nya adalah Maria. Sisi Insani (kemanusiaan) Yesus itu nampak dalam diri Yesus yang dapat kita baca juga dalam kisah pelayanan-Nya dalam sejumlah teks Alkitab yang memberi gambaran tentang Yesus yang merasa lapar dan haus, lelah dan tertidur, marah, sedih dan menangis dan lain-lain.

Dalam kisah pencobaan di Padang Gurun, iblis ingin menjebak Yesus dengan memanfaatkan dua sisi itu: Sisi Ilahi dan sisi insani. Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa tapi seorang anak manusia yang sedang lapar. Jika Yesus adalah manusia yang sedang lapar, maka Dia akan menggunakan kuasa Ilahi (Allah) dalam status-Nya sebagai Anak Allah untuk memenuhi kebutuhan Lapar-Nya (rangsang lapar).

Para pakar kesehatan berpendapat bahwa rangsangan lapar dan haus dalam diri seseorang sangat memberi dampak bagi pengaruh psikis (kejiwaan) dan kesehatan seseorang. Sebabnya adalah kelaparan dan kehausan yang berkepanjangan makin membuat fungsi penahan pada kulit melemah, kekebalan tubuh menurun drastis, penyakit makin mudah menyerang dan muara paling buruk adalah mengubah otot-otot jantung perlahan-lahan menjadi berhenti berfungsi.

Penelitian juga menunjukkkan bahwa seseorang yang dilanda lapar dan haus yang hebat akan menutupi minatnya terhadap hal lain, selain hanya tertarik akan hal-hal yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Yang berperan utama dalam seluruh organ tubuh manusia saat lapar dan haus adalah pusat hypotalamus yang mengatifkan produksi hormon yang masuk kedalam otak untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan makanan dan minuman sehingga tubuh mendapatkan asupan makanan dan minuman.

Teks Injil Lukas memberi kesaksian bahwa setelah Yesus di babtis oleh Yohanes di sungai Yordan, Ia dibawa oleh Roh Kudus di Padang Gurun dan tinggal selama 40 hari lamanya tanpa makan apa-apa. Dalam kondisi lapar yang hebat, tampillah Iblis mencobai Yesus. Cobaan pertama terkait dengan kebutuhan makan karena Yesus sangat lapar.

Nampaknya bagi Iblis, yang ada dan utama di benak Yesus yang sedang lapar itu adalah bagaimana mendapatkan makanan untuk memenuhi rasa lapar-Nya. Yesus pasti akan menghalalkan berbagai cara termasuk akan menggunakan kuasa Ilahi-Nya guna mendapatkan makanan agar tubuh mendapatkan asupan makanan dan terhindar dari ancaman kematian.

Namun, selicik-liciknya iblis dengan tipu dayanya, tidak akan memperdaya Yesus. Selapar-laparnya Yesus, tidak akan membuat Yesus kehilangan kesadaran akan kebenaran Firman Allah. Yesus mengetahui tujuan di balik tawaran Iblis. Apa sebab ? Sebab Dia penuh dengan Roh Kudus (ay.1). Oleh karena itu, Yesus tidak mengikuti kemauan Iblis. Yesus berkuasa dan sanggup melakukan banyak perkara. Tidak ada yang mustahil bagi Yesus jika Ia berkehendak untuk merobah batu jadi roti. Namun kuasa yang ada pada diri- Nya tidak akan digunakan hanya karena lapar dan atas permintaan iblis.

Itu sebab dengan tegas Yesus memberi jawaban terhadap tantangan Iblis. Kata-Nya: Manusia hidup bukan dan roti saja (ay 4); Injil matius mencatat dengan lengkap jawaban Yesus kepada iblis demikian:” Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat.4:4).

Cukup menarik merenungkan ucapan itu. Yesus hendak menegaskan, bahwa makanan tidak menghidupkan manusia. Makanan bukan tujuan hidup dan kerja. Jika makanan jadi tujuan hidup dan kerja maka orang akan vokus pada hidup dengan tujuan hidup untuk kerja dan makan. Tujuan hidup manusia adalah memuliakan Allah. Manusia harus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Dalam persekutuan itu, Allah memberikan hidup-Nya ke dalam manusia.

Maksudnya, dalam persekutuan itu, Allah menghidupkan manusia. Sebab pada dasarnya, manusia adalah mati. Ia tidak memiliki Roh Hidup. Hanya Allah Sumber Hidup (Maz 36:10). Roti bukan sumber hidup. Ia hanya sarana hidup. Roti hanyalah memiliki nilai instrumental (Nilai buatan atau sesuatu yang bernilai karena dipakai sebagai sarana dan tujuan) bukan nilai intrinsik (Nilai yang hakiki atau sesuatu yang benar-benar bernilai karena merupakan tujuan pada dirinya).

Roti pun adalah bukti penyertaan Allah atas kehidupan manusia. Jadi jika orang mengandalkan makanan; dan ketika makanan habis, orang itu pasti akan mati. Orang harus mengandalkan Allah yang berfirman (Yer. 17:7) dan menghembuskan nafas hidup. Sebab jika tanpa Allah, manusia pasti akan mati. Manusia hanya hidup demi dan untuk kemuliaan Allah.

Karena itu, jika kita hidup, kita boleh bekerja untuk mendapatkan makan dan minum tapi hendaknya makanan dan minuman tidak boleh jadi tujuan utama dalam hidup yang merampas seluruh keberadaan kita dan waktu kita untuk mendapatkannya dan menikmatinya. Hiduplah dan bekerjalah untuk mendapatkan makan dan minum tapi dengan tujuan utama tetap ada dalam persekutuan dengan Allah dan memuliakan Allah.

Makanan dan minuman memang perlu karena merupakan sumber energi yang memberi kekuatan bagi tubuh dan memungkinkan manusia beraktifitas tapi jangan karena makanan dan.minuman kita lupakan Yesus Kristus sumber hidup. Akan tiba saatnya tubuh ini tidak lagi memerlukan makanan dan minuman dan mati. Tapi mereka yang dalam hidup dan kerja mencari makan dan minum dengan ada dalam persekutuan dan menaruh percaya pada- Nya, ia akan hidup.

Yesus berkata:”Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa yang percaya pada- Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Dan setiap orang yang hidup dan percaya pada-Ku tidak akan mati selama- lamanya (Yoh 10:25-26). Ya… manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4).

(Sumber : FB Elisa Maplani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *