GEREJA DAN PERSEKUTUAN DOA

GEREJA DAN PERSEKUTUAN DOA
Pdt. Frans Nahak

Setiap mata jemaat di Besnam memiliki dua sampai tiga Persekutuan Doa (PD). Semangat mengikuti PD lebih dari pada setiap hari minggu bersekutu dalam gereja. Mereka merasa berdosa jika tidak hadir PD dari pada bergerja setiap hari minggu.
Kumpulan doa merupakan aktivitas yang paling penting dari Gerakan Kharismatik. Tanpa kumpulan doa kita tidak dapat mengenal gerakan ini. Menurut J. L. CH. Abineno Salah satu penyebab timbulnya Gerakan Kharismatik adalah karena kelemahan-kelamahan tertentu yang terdapat dalam gereja, seperti kedangkalan kehidupan religius, ketiadaan persekutuan, dan lain-lain. Gerakan ini adalah suatu koreksi terhadap kekurangan-kekurangan tertentu dari gereja. Dengan adanya Gerakan Kharismatik, maka terbentuklah kelompok-kelompok kecil yang kemudian dikenal dengan kumpulan doa atau kelompok doa atau PD. Namun, ada PD yang terbentuk bukan karena pengaruh Gerakan Kharismatik melainkan karena ada keinginan beberapa orang untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjalin persekutuan di antara mereka.
Anggota-anggota PD biasanya adalah anggota jemaat (namun tidak semua) dari satu jemaat tertentu. Namun, ada pula PD yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota jemaat GMIT dan juga anggota jemaat dari denominasi Kristen lainnya. Setiap PD biasanya merupakan bagian dari satu jemaat, tetapi ada pula PD yang memisahkan diri dari jemaat.
Maksud yang terutama dari kelompok doa adalah berdoa dan memuji Tuhan bersama-sama. Selain dari doa untuk diri sendiri dan syafaat (untuk orang lain), diselenggarakan juga penelaahan Alkitab, yang diikuti oleh kesaksian dan puji-pujian. Kegiatan berkumpul untuk berdoa dan memuji Tuhan bersama-sama sudah dimulai sejak jemaat mula-mula seperti yang dilaporkan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul (Kis. 1:24, 2:42, 46-47, 12:12). Pada masa sekarang dapat pula ditemui kelompok-kelompok yang beribadah bersama-sama secara bergiliran di rumah-rumah anggota jemaat. Namun kalau ibadah itu dipimpin oleh penatua atau diaken, kegiatan itu disebut kumpulan kampung atau ibadah rumah tangga. Akan tetapi, kalau yang mengatur dan yang memimpin ialah seorang yang secara organisasi tidak mewakili majelis jemaat, maka kegiatan ini biasa disebut kelompok doa atau persekutuan doa.
Dalam sejarah, pietisme lahir dan berkembang di Eropa Barat, di kalangan Kristen Lutheran Jerman (abad ke -17) dan kemudian di jemaat Calvinisme di Belanda (akhir abad ke-18). Pietisme lahir sebagai reaksi karena merasa tidak puas terhadap khotbah-khotbah yang lebih bersifat ilmiah dan mengabaikan penghayatan iman. Pietis sangat menekankan kesalehan, orientasinya lebih kepada ibadah dan pemberitaan Injil daripada dunia politik dan ekonomi. Ketika pietis menyentuh gereja calvinisme di Belanda, maka terbentuklah lembaga-lembaga pekabaran Injil. Lembaga pekabaran Injil dari Belanda inilah yang kemudian bekerja di Timor sehingga warna teologi di jemaat-jemaat Timor mulai dilapisi dengan corak teologi pietis. Warna teologi inilah yang juga mempengaruhi PD di Timor.
Lahirnya PD di wilayah GMIT juga dipengaruhi oleh gerakan roh yang terjadi di Soe pada akhir bulan September 1965. Gerakan tersebut mengambil bentuk kelompok-kelompok kecil orang Kristen yang berkumpul dan yang mengalami dan bersaksi tentang apa yang mereka anggap sebagai ‘perbuatan-perbuatan besar dari Tuhan’. Kemudian mereka juga memberitakan firman Tuhan ke daereah-daerah lain. Dari peristiwa inilah kemudian terbentuklah kelompok-kelompok doa yang ada di berbagai daerah di wilayah GMIT.
Pada akhir tahun 1969 dan awal tahun 1970, kehadiran kelompok doa mendapat tantangan dari jemaat GMIT sendiri. Ada yang menerima dan ada yang tidak. Walaupun demikian, kelompok doa masih tetap ada di jemaat-jemaat. Pada tahun 1974, sinode GMIT menghimpun semua kelompok doa yang ada di wilayah GMIT dalam sebuah pertemuan di Jemaat Koinonia Kuanino-Klasis Kota Kupang. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk mengganti nama kelompok doa menjadi persekutuan doa dengan pertimbangan bahwa nama PD lebih menjemaat atau bersifat gerejawi. Melalui momentum ini, kehadiran PD mulai mendapat respon positif karena PD memiliki potensi dalam pekabaran Injil. Itulah sebabnya pada tahun 1980 beberapa pendeta mulai melihat PD sebagai milik gereja dalam aktualisasi program pelayanannya. Sekitar tahun 1980an itulah PD dimasukkan dalam struktur kemajelisan di bawah komisi Kesaksian dan Keesaan, dan selanjutnya komisi ini berubah menjadi komisi Pekabaran Injil dan Perlengkapan Jemaat. PD pun kemudian dimasukkan dalam Rencana Induk Pelayanan GMIT dan Haluan Kebijaksanaan Pelayanan Umum.
Pada tahun 2001 (21-24 Juni) GMIT mengadakan kegiatan pekan doa dengan menghadirkan seluruh PD yang ada dalam wilayah GMIT. Melalui kegiatan ini GMIT secara resmi menerima PD dan tanggal 21 Juni ditetapkan sebagai hari lahir PD dalam wilayah GMIT.
Di wilayah Gereja Masehi Injili di Timor, ada banyak PD yang tersebar di jemaat-jemaat. Untuk mengontrol setiap PD yang ada, maka telah dibentuk Badan Pengurus (BP) PD Tingkat Sinodal. Selain itu, di setiap Klasis pun dibentuk BP PD Tingkat Klasis. Semuanya itu bertujuan untuk mengatur sistem, proses dan mekanisme pelayanan.
Pada hakikatnya eksistensi dan identitas dari PD adalah juga kehadiran, keberadaan dan kepribadian dari gereja. PD sebagai bagian yang integral dari gereja dalam menjalankan visi, misi dan fungsi pelayanannya haruslah dipahami sebagai misi yang representatif. Artinya, dimanapun dan kapanpun PD itu hadir, bekerja, bersekutu, melayani dan berdoa, maka PD bekerja, bersaksi, berdoa dan melayani atas nama atau mewakili gereja.
Berbicara mengenai Persekutuan Doa (PD) tak terlepas dari berbicara mengenai gereja, karena PD dan gereja tak bisa dipisahkan, PD berada di dalam gereja.
Kelompok doa atau PD merupakan kelompok kecil yang ada di dalam gereja. Anggota-anggotanya sangat menekankan doa sebagai unsur utama dari aktivitas mereka. Meskipun kehadiran PD tidak selalu diterima dengan baik oleh setiap anggota jemaat, namun tak dapat disangkal bahwa sekarang ini semakin banyak PD yang ada di jemaat-jemaat. PD merupakan bagian dari gereja dan PD baru ada setelah gereja terbentuk serta anggota PD adalah anggota jemaat yang kemudian mengelompok menjadi anggota PD. Seperti yang dikatakan oleh Abineno: “Kumpulan-kumpulan doa ini banyak menarik anggota jemaat, terutama mereka yang sangat membutuhkan pembaharuan hidup dan penghayatan iman yang intensif. Mereka akui, bahwa kumpulan-kumpulan doa yang mereka hadiri, ada juga kekurangannya. Tetapi banyak yang telah lama tidak dapati dalam jemaat-jemaat mereka, mereka temukan di situ: kesegaran rohani, kasih persaudaraan, persekutuan (=koinonia), doa bersama dan penelaahan Alkitab.”
Walaupun menjadi anggota PD, namun mereka juga tetap sebagai anggota jemaat. Karena PD merupakan bagian dari gereja, maka pada dasarnya tugas PD adalah tugas gereja. Oleh karena itu, kehadiran PD juga merupakan faktor penunjang bertumbuhnya suatu jemaat.
Kegiatan yang biasanya dilakukan di dalam PD adalah berkumpul untuk berdoa bersama, memuji Tuhan, memberi kesaksian tentang perbuatan Allah, membaca Alkitab dan merenungkannya. Selain itu PD juga mengadakan pelayanan, misalnya mendoakan orang yang sakit, orang yang sedang menghadapi masalah, mengadakan Kebaktian Penyegaran Iman (KPI), dan lain-lain. Dari kegiatan-kegiatan seperti inilah dapat dilihat bahwa kehadiran PD juga menunjang pertumbuhan jemaat. Namun demikian kehadiran PD tidak selalu diterima dengan baik karena ada kegiatan-kegiatan dari PD yang tidak biasa ditemukan dalam ibadah-ibadah di gereja. Misalnya, berdoa dengan suara keras sampai berteriak-teriak, berdoa sambil menangis dengan suara yang keras dan bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan badan. Selain itu, anggota-anggota PD juga sering menganggap diri mereka lebih benar dari orang lain, inilah yang menyebabkan ada orang yang tidak menerima kehadiran PD. Menyadari keberadaan yang demikian, di samping potensi sumber daya yang dimilikinya, PD mesti diperhitungkan dan diberdayakan sebagai aset pelayanan gereja. Artinya, perlu ada perhatian terhadap potensi yang ada pada PD dan juga terhadap hal-hal yang perlu dibenahi dari PD.
Bagi orang Kristen, ibadah dilakukan dengan kehidupan bukan hanya dengan doa saja. Ibadah tidak terbatas pada upacara-upacara tertentu. Ibadah adalah keikutsertaan dalam pekerjaan Tuhan. Dari sikap hidup setiap orang dapat diketahui apakah orang tersebut menyadari akan arti ibadah atau tidak. Karena itu, kehidupan orang Kristen harus dimotivasi oleh kasih agar ibadah itu menjadi nyata dalam kehidupannya.
Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama, itulah ukuran pertumbuhan sebuah gereja (Mat. 22:37-40). Hal itu berarti bahwa setiap warga gereja harus menampakkan kasih itu dalam segala bidang kehidupannya. Dengan demikianlah dapat diketahui apakah gereja itu sedang bertumbuh atau tidak. Pertumbuhan gereja yang hendak dicapai bukan hanya dengan bertambahnya jumlah anggota jemaat atau bertambah banyaknya jemaat-jemaat baru (pemekaran jemaat) yang dibentuk, tetapi yang terutama adalah pertumbuhan dalam hal kualitas iman anggota jemaat yang dinyatakan dalam perbuatan sebagai pengikut-pengikut Kristus.
GEREJA IBU DARI PERSEKUTUAN DOA
Bagi Y. Calvin, demi pembangunan rohani sesuai dengan bakat masing-masing menjadi tugas setiap anggota gereja, asal saja dijalankan dengan pantas dan tertib. Berdasarkan pemahaman ini, maka gereja perlu untuk memperhatikan anggotanya yang berupaya untuk pembangunan rohani dengan menggunakan karunia-karunia yang Allah anugerahkan kepada mereka, sehingga pembangunan rohani dapat dilakukan dengan tertib.
Selanjutnya Calvin dalam arti yang sebenarnya, gereja dalam ibu yang membina dan memelihara anak-anaknya dalam iman. Yang dimaksudkan dengan “anak-anaknya” adalah anggota jemaat. Hal ini berarti gereja mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap PD, karena anggota PD juga sebagai anggota jemaat. Salah satu cara gereja sebagai ibu dalam membina dan memelihara PD adalah dengan membentuk komisi PD. Ketika PD melakukan pelayanan, PD mewakili gereja untuk melayani. Oleh karena itu, keberadaan gereja sebagai sebuah organisasi perlu dilengkapi sesuai kebutuhan agar dapat menjadi sarana untuk mengembangkan gereja sebagai sebuah organisme, sehingga pertumbuhan gereja dapat ditingkatkan.
Gereja dapat melakukan tugas keibuannya dengan baik apabila Allah bekerja dalam gereja melalui Roh Kudus. Oleh karena itu, gereja harus selalu menghubungkan dirinya dengan Allah karena Allahlah yang menjadi sumber kekuatan bagi gereja dalam menjalankan tugasnya. Hal ini seperti yang dikatakan dalam Injil Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur yang benar dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Artinya gereja sebagai tubuh Kristus harus selalu terhubung dengan Yesus Kristus sebagai Kepala gereja agar dapat menjalankan tugas keibuannya secara penuh. Kekuatan untuk dapat menjalankan tugas keibuannya hanya dapat diperoleh dari Allah sebagai pemilik gereja.
Gereja sebagai ibu dari PD, seharusnya memelihara, merawat, dan menuntunnya ke jalan yang benar. Gereja perlu memberikan perhatian kepada anaknya agar dapat melakukan pelayanan dengan baik dan dapat mempertanggungjawabkan pelayanannya. Makanya gereja membentuk komisi PD dalam struktur organisasi jemaat. Jika ada komisi PD, maka dalam melakukan pelayanannya PD dapat berkoordinasi dengan komisi PD tersebut. Misalnya, pelayanan kepada orang yang bukan anggota Jemaat Besnam harus sepengetahuan Majelis Jemaat melalui komisi PD. Setelah melakukan pelayanan, maka pelayanan itu harus dipertanggungjawabkan kepada Majelis Jemaat melalui komisi PD.
Majelis Jemaat adalah gembala-gembala yang bertugas untuk menggembalakan domba-domba milik Tuhan. Pembentukan komisi PD adalah bagian dari tugas gembala-gembala untuk menggembalakan domba-domba agar mereka tidak tersesat. Dalam Yehezkiel 34:1-31, Tuhan Allah memperingatkan para gembala melalui nabi Yehezkiel agar mereka melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh. Para gembala jangan hanya menggembalakan dirinya sendiri, tetapi harus menggembalakan domba-domba yang dipercayakan kepada mereka. Dengan terbentuknya komisi PD, gereja tidak hanya mengevaluasi kegiatan pelayanan PD saja, tetapi gereja juga dapat mengadakan pembinaan-pembinaan secara teratur kepada anggota PD melalui komisi PD. Sebagai bagian integral dari gereja, PD perlu untuk mendapatkan perhatian dari gereja karena itu merupakan tanggung jawab gereja sebagai ibu.
(Bahan Pembekalan bagi Anggota PD di Jemaat Besnam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *