GEREJA DI CORAK ZAMAN

GEREJA DI CORAK ZAMAN

Pdt. Frans Nahak

Di zaman saya masih kanak-kanak, tepatnya di tahun sembilan puluhan, dunia kami hanya seluas lingkungan kami. Kecil karena komunikasi dengan dunia luar masih sangat sulit dan terbatas. Satu bulan sekali datang di pasar Betun (ibu kota Kabupaten Malaka). Kami berjalan kaki. Mobil, sepeda motor, HP, benda-benda di alam jauh.

Belum ada ideologi-ideologi yang datang dari luar mengganggu ketenangan hidup. Kami hanya mengenal satu tata tertib, yaitu yang diatur dan dijaga oleh pemerintah. Kolonialisme  dalam ujudnya yang ganas tidak ada, mungkin karena politik etis masih dibutuhkan bagi daerah pedalaman yang belum lama ditentaramkan, dan belum ada obyek eksploitasi manusia bagi keuntungan materiil penjajah. Feodalisme yang katanya dapat lebih kejam lagi dari kolonialisme tidak menonjol dalam struktur masyarakat di sana.

Memang cakrawala kami sempit, apalagi cakrawala dunia kanak-kanak kami. Namun cukup mengasyikkan di mana tak ada dunia lain untuk perbandingan selain dari cerita dongeng dari nenek dan kakek. Cerita itu dianggap benar karena dapat dibuat indah oleh kahyalan kakek dan nenek dan kami yang mendengarkannya.

Dunia kanak-kanak tidak terpisah dengan dunia orang dewasa, tidak merupakan lawannya, karena tidak/belum ada perbedaan pandangan yang hidup konserfatif dan mengancam hubungan antar generasi. Anak-anak belum mempunyai kemauan sendiri yang berani melawan kemauan orang tua. Kapatuhan kepada orang tua masih berlaku dalam keutuhannya, betapapun besar keinginan anak. Anak yang nakal juga masih mengidolakan orang tuanya.

Dalam dunia itu cita-cita kami masih banyak searah, karena memang belum banyak dipilih yang dapat dibuat. Kalau tidak tertarik menjadi polisi profesi yang didambakan adalah guru atau pastor. Guru karena kami mengalami sendiri kekuasaan di sekolah dan pastor karena dihormati dan disegani oleh semua orang. Kata-katanya di rumah ibadah adalah sabda yang suci, tegurannya adalah teguran Tuhan, hardiknya mendapat kekuasaan dari Tuhan. Demikianlah di mata kami kanak-kanak. Pastor dan guru sangat dihormati di zaman kami.

Namun mengalami lompatan yang begitu cepat karena perkembangan zaman sampai kepada persekutuan bergereja. Batasan cerita saya hanya dalam lembaga gereja, lembaga di mana saya mengabdikan diri untuk melayani Tuhan.

 Kelembagaan gereja berubah gayanya mengikuti perkembangan zaman yang hidup dibentuk oleh zaman. Demikian pula tradisinya. Misalnya, perayaan hari raya gerejawi masing-masing gereja memamerkan kakayaan kemewahan sebuah pemborosan yang sebenarnya kita bisa gunakan untuk menolong mereka yang miskin. Di mana kekudusan firman Tuhan jika masing-masing anggota gereja memamerkan kekayaan yang melekat pada tubuhnya? Persiapan batin untuk ke gereja beribadah bukan lagi kebiasaan yang mutlak lagi, sebab kesibukan lain menyita banyak waktu. Bahkan gereja menjadi tempat orang “mencari kursi” menggeser Kristus karena sebuah jabatan gerejawi atas sebuah legitimasi panggilan

Gereja mengikuti selera dan kemauan kita. Gereja makin lebih merupakan aspek kebudayaan yang mengikuti irama hidup masyarakat, dari pada pusat manusia yang percaya melakukan ibadahnya kepada Allahnya sambil mendengar firman-Nya. Mana ada perbuatan-perbuatan missioner yang mencerminkan maksud Tuhan, kalau yang diutamakan adalah prestasi manusia bukan kesejahteraan manusia yang menjadi subyek misi?

Adalah benar, bahwa tradisi hanya memberi corak kepada kebudayaan dan karena itu turut berubah dengan kemajuan kebudayaan bersama manusianya. Tetapi tradisi yang mana, karena ada yang sementara ada yang abadi, ada yang dinilai dengan akal budi kontemporer dan ada yang berakar pada batin yang baka, ada yang menghias saja ada yang normativ. Condong pada penilaian akal budi saja misalnya, telah membawa banyak pelayan Tuhan kepada mementingkan perlengkapan ilmiah mansuia modern, lebih dari hikmat Tuhan yang disediakan bagi orang-orang sederhana.

Sehubungan dengan itu cara membawakan firman Allah lebih penting dari pada Firman itu sendiri. Ada gejala lain lagi yang memprihatinkan bagi siapa yang mendahulukan iman. Akhir-akhir ini banyak orang yang lebih tertarik kepada kepercayaan karismatik. Kata mereka, gereja tidak memberikan apa yang mereka butuhkan; gereja tidak datang dengan tanda-tanda yang menguatkan proklamsi keselamatanya; gereja tidak menunjukkan jalan keluar bagi manusia seutuhnya dalam pergumulannya; khotbah-khotbah gereja berbunyi rutin dan membosankan, tidak mengandung pembaharuan dan perluasan pandangan dan karena itu daya tarik makin hilang. Konon di Barat, di masa lalu mengalir misionaris-misionaris kebagian bumi untuk memperkenalkan terang Injil. Namun kini gereja makin kosong agaknya kehilangan kepercayaan dan pengharapan jiwa yang mencari kedamaian di tengah-tengah kelimpahan material. Siapa benar, siapa salah, tak usah kita pertanyakan. Yang jelas sudah waktunya kita menyoroti diri sendiri dan  bertanya apa yang terjadi dengan misi gereja. Masih adakah yang dapat diberikan kepada mereka yang terjerumus dalam ketidakpuasan dan frustrasi?

Boleh jadi penganut-oenganut karismaisme di luar gereja berpendapat dan mengaku bahwa jalan yang ditempuhnya adalah peningkatan hidup religious yang tetap berpusat pada gereja. Jiika demikian berbunyilah lonceng bagi gereja meneliti gayanya, apakah masih relevan bagi kehidupan manusia yang berjuang dengan hidup tetapi selalu kembali kepada Allahnya di kala kehabisan nafas.

Masih adakah gereja yang murni menurut citra yang diwahyukan kepada manusia? Masih dapatkah gereja menawarkan kepada dunia: ” Akukah Pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalamAku dan Aku di dalam dia, akan berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”?

Ataukah berapa lama lagi gereja dapat berdiri sebagai saksi Kristus di tengah-tengah gelora dunia, jika pegangan kita beralih ke kaidah dan selera dunia yang fana?

Benarkah segala hal di bawah langit akan berubah? Benar. Kita berada di era industrialisasi yang terciptanya teknologi modern. Teknologi merubah dunia, merubah cara berpikir, cara kerja, cara berkomunikasi, cara bergaul bahkan merubah tata cara beribadah, dst.

Gereja tak bisa menghindari. Gereja ada dalam konteks itu. Agar gereja tidak kehilangan arah maka penguatan persekutuan keluarga Kristen menjadi dasar. Keluarga menjadi unsur terkecil dalam gereja adalah kekuatan yang besar bagi gereja sebagai lembaga. Membangun indentitas, cara pandang, cara kerja, cara berkomunikasi anak-anak dengan firman Allah di ibadah-ibadah sel dalam rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *