GEREJA SEBAGAI KOMUNITAS PENYEMBUH – FILEMON 1:8-22

GEREJA SEBAGAI KOMUNITAS PENYEMBUH

FILEMON 1:8-22

PENDAHULUAN

Secara Alkitabiah, gereja adalah anggota tubuh Kristus. Jika ada salah satu bagian tubuh yang mengalami sakit, maka semua akan merasakan hal yang sama. Anggota tubuh yang lain berusaha untuk menyembuhkan. Pertanyaan adalah: siapa itu gereja?  KJ nomor 257 mengatakan bahwa gereja bukan gedungnya tetapi orangnya. Gereja adalah persekutuan (komunitas) orang-orang percaya kepada Kristus. Komunitas tidak hanya berkumpul untuk beribadah tetapi melayani.  Beate Jakob mengatakan bahwa gereja adalah komunitas yang saling berbagi, tempat setiap orang menemukan belas kasih dan saling menerima. Dengan demikian, gereja adalah komunitas penyembuh yang mendorong tiap orang untuk menjadi manusia seutuhnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata penyembuh berasal dari kata dasar sembuh. Penyembuh adalah sebuah kata homonim atau kata benda sehingga penyembuh dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat atau semua benda. Misalnya, orang yang menyembuhkan, bahan yang menyembuhkan, Tuhan yang memberikan kesembuhan. Berbicara tentang penyembuhan maka ada yang sakit dan penyakit yang harus disembuhkan. Siapakah yang sakit? Apa penyakitnya?

Penyakit adalah kondisi abnormal tertentu yang secara negatif memengaruhi struktur atau fungsi tubuh suatu makhluk hidup. WHO mengidentifikasi penyakit bukan hanya penyakit anggota tubuh, namun sebagai terganggunya keselarasan hubungan, gangguan pada kondisi fisik, mental, spiritual, ekonomi, lingkungan, politik dan sosial dan relasi dengan Tuhan.

Dengan definisi tersebut, kita bisa mengidentifikasi penyakit dalam masyarakat dan jemaat yang kita layani. Apa penyakit yang dialami oleh jemaat-jemaat di Klasis Amanuban Timur? Apakah penyakit itu berupa relasi antar denominasi gereja dan antar agama, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan yang rusak karena cara bertani lahan berpindah pindah?

PEMBAHASAN TEKS

Surat Filemon merupakan surat yang ditulis oleh Paulus untuk Filemon. Dalam suratnya, Paulus memohon kepada Filemon untuk menerima kembali Onesimus. Mengapa? Karena Onesimus melarikan diri dari Filemon. Tidak jelas apa persisnya kesalahan Onesimus, tetapi bisa diduga, berdasarkan ayat 18, bahwa ia telah mencuri uang tuannya, lalu melarikan diri (jika ia telah merugikan engkau ataupun berhutang padamu). Oleh karena itu, Filemon melaporkan Onisimus kepada polisi agar budaknya itu ditangkap. Onesimus kemudian ditangkap dan dipenjarakan bersama dengan Paulus. Ia mencari perlindungan ke Paulus, yang kemudian Paulus mengirimkan surat ke Filemon untuk menerima kembali Onesimus, bukan dengan cara penghukuman yang biasanya dipraktikkan dalam kekaisaran Romawi, melainkan diminta untuk menerimanya sebagai saudaranya sendiri. Paulus kenal baik dengan Filemon dan kemungkinan dia adalah seorang pemimpin jemaat di Kolose.

Setelah bertemu dengan Paulus dalam penjara, kini Onisimus telah berubah, hal ini disampaikan oleh Paulus dengan menyebut  “ia telah berguna” (ay. 11).

Hubungan antara Filemon dan Onesimus sedang berada dalam problem serius. Filemon sebagai tuan yang dikhianati. Sebaliknya, Onesimus yang secara sadar melakukan kesalahan kepada tuannya, pasti merasa ketakutan sehingga lari dari tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya. Dalam situasi inilah peran Paulus sebagai seorang rasul sangat penting. Ia perlu melakukan dua pendekatan kepada dua oknum yang berbeda dan masing-masing memiliki problem yang berbeda. Paulus harus berkomunikasi dengan Onesimus untuk membuatnya menyadari kesalahannya. Kemudian ia harus menguatkan Onisimus untuk kembali kepada tuannya. Paulus juga harus berkomunikasi dengan Filemon, agar mau berbesar hati untuk menerima dan memaafkan Onesimus. Peran Paulus dalam mendamaikan kedua orang tersebut ialah sebagai penengah, pendamai, bukan moderator. Kalau moderator bisa saja tidak berhubungan dengan pihak-pihak yang dimediasi.

Paulus secara personal menjumpai (secara tertulis) Filemon dan bertemu dengan Onesimus di penjara. Pertanyaannya adalah: cara apa yang digunakan oleh Paulus secara personal untuk mendekati masing-masing pihak sehingga mereka mau menerima dan diterima oleh pihak yang berseteru?

Menurut Norman R. Petersen, bahwa Paulus menggunakan kolaborasi antara sastra dengan kritik sosiologis. Metafora ayah dan anak yang digunakan oleh Paulus merupakan relasi kedekatan emosional sehingga menghilangkan struktur tuan dan budak, pemimpin gereja dan jemaat. Walaupun Paulus sebagai orang yang sangat dihormati dan disegani oleh Filemon, namun dia tidak menggunakan kuasa itu. Paulus tidak menggunakan gaya kepemimpinan paternalistik, yaitu gaya kepemimpinan yang menggabungkan integritas moral dan sikap kebapakan dengan otoritas disiplin yang kuat. Di mana kebijaksanaan ditentukan oleh Paulus (ay 8). Pendekatan Paulus terhadap perdamaian Filemon dan Onisemus lebih menekankan hubungan yang setara. Dengan demikian, Paulus menempatkan diri sebagai partner/mitra.

C. Osiek menggunakan istilah rekonsiliasi untuk menjelaskan usaha Paulus mengintervensi konflik Filemon dan Onesimus. Paulus secara cerdas memainkan peran ayah yang meminta sesuatu dari Filemon dengan cara yang lembut tapi secara diam-diam menggunakan otoritas kerasulannya. Bagi Osiek, untuk mencapai tujuan tersebut, Paulus menggunakan social dependence (ketergantungan sosial) antara dirinya, Filemon dan Onisimus. Selain itu, Paulus juga menawarkan kompensasi bagi Filemon untuk membebaskan Onesimus dari perbudakan. Paulus meminta agar Filemon menjadikan Onisimus sebagai saudara (ay. 16)

Paulus menggunakan pendekatan pastoral yang lebih personal dalam persoalan ini. Dalam Surat Filemon, Paulus tidak menekankan bagaimana otoritasnya sebagai rasul yang harus didengar. Namun pendekatan sebagai seorang ayah dan anak, sebagai saudara dan sesama pelayan. Paulus menanggalkan status kerasulannya untuk mengangkat status Onisimus dari seorang budak sebagai anak. Bahkan Paulus rela menanggung beban utang Onisumus (ay. 18-19).

PENUTUP

Renungan:

Gereja hadir sebagai pembawa damai dengan membangun relasi antara sesama sebagai keluarga Allah. Rasul Paulus menangani masalah ini dengan membangun komunikasi yang baik antara Filemon dan Onisimus. Paulus menyadarkan Onisimus dari kesalahannya sehingga ia mengatakan bahwa kini Onisimus sangat berguna. Gereja sebagai komunitas penyembuh adalah gereja yang menyadarkan umatnya tentang dosa dan berusaha berdamai dengan diri sendiri.  Berdamai dengan diri adalah upaya pemulihan dan penyembuhan trauma-traumanya yang dialami oleh seseorang.

Gereja bukan hakim bagi yang bersalah. Paulus tidak menjadi hakim bagi Onisimus dan Filemon. Paulus membangun komunikasi yang dengan Filemon, agar mau rendah hati  menerima dan memaafkan Onisimus dan menjadikan dia saudara. Dari sini kita menemukan pendapat Paulus tentang gereja sebagai keluarga Allah bagi semua orang tampa memandang status, golongan, suku, rasa, bahasa, agama. Dalam keluarga itulah setiap anggota saling memperhatikan.

Kita mengakui bahwa kita memiliki sejarah kelam, baik konflik antar agama, antara suku, antara etnis, dll., yang menimbulkan luka yang mendalam. Juga konflik antara kakak dan adik, orang tua dan anak, yang menimbulkan luka di hati kita masing-masing. Gereja sebagai komunitas penyembuh adalah gereja yang mengajar tentang saling memaafkan dan mengampuni. Paulus memberikan teladan kepada kita. Walaupun ia sendiri juga “terluka” karena pemberitaan Injil, ia harus mendekam dalam penjara, namun kehadirannya tetap menjadi penyembuh bagi yang terluka.

Gereja juga adalah komunitas yang terluka, ada bekas lukanya atau masih terluka, namun ia harus menjadi komunitas penyembuh. Si luka menyembuhkan yang terluka. Luka membawa kita terus bergantung kepada Kristus yang terluka karena dosa-dosa manusia. Seorang teolog Jerman D. Solle mengatakan bahwa di dalam Kristus, Allah membuat diri-Nya sendiri rapuh. Kristus adalah luka Allah di dalam dunia

Gereja sebagai komunitas penyembuh di Amanuban Timur, Fatukopa dan Fautmolo. Gereja hadir sebagai penyembuh luka. Apa luka itu? Misalnya, dua tahun yang lalu beberapa  keluarga yang beragama Kristen disyahadat. Luka ini menimbulkan kecurigaan antar umat beragama dalam setiap aktifitas keagamaan. Bagaimana sikap gereja sebagai komunitas penyembuh dalam kondisi yang demikian? Kita belajar dari bacaan ini. Paulus memulihkan relasi dengan membangun komunikasi kepada dua pihak, yaitu Onisimus dan Filemon. Penyembuhan itu terjadi jika ada pemulihan hubungan dengan  membangun kembali relasi persaudaraan di atara kedua pihak. Cara membangun komunikasi tidak hanya dalam kata tetapi dalam tindakan. Contoh, setiap hari raya Idul Fitri gereja hadir di tengah-tengah umat Muslim untuk merayakan dan sebaliknya hari pada raya Natal. Beberapa tahun yang lalu  pawai Paskah Klasis Amanuban Timur, saudara-saudari umat Muslim, Katolik, denominasi yang lain terlibat dalam kegiatan ini.

Pemulihan hubungan melihat saudara/i yang berbeda sebagai keluarga, seperti seorang ayah dan anak. Relasi ini adalah “anti struktur” terhadap struktur tuan dan budak, pimpinan dan bawahan, tuan tanah dan pendatang. Sebab alah satu faktor penyebab luka itu karena kedudukan dalam masyarkat baik dalam keluarga, masyarakat dan gereja. Memimpin sambil menindas bawahannya, tuan tanah menggusur pendatang, kaya menindas yang miskin. Agar hal ini tidak terjadi maka Paulus meminta kepada Filemon untuk menerima kembali Onisimus sebagai saudara.

Dari bacaan ini kita juga belajar, bahwa Paulus  membangun sebuah struktur baru yakni “anti struktur” dalam relasi dalam keluarga. Ayah dan ibu sama kedudukan di dalam rumah, mereka memiliki hak yang sama. Tuan tanah menjadi orang tua yang ramah terhadap para pendatang dan memberikan hak-hak mereka, kaya memperhatikan yang miskin sebagai sesama keluarga Allah. Dalam hal ini gereja sebagai penyembuhnya jika menerima mereka yang “terluka” sebagai saudara.

Paulus yang menawarkan Filemon untuk Onisimus dibebaskan maka gereja hadir sebagai pembebas. Paulus dalam persolan ini memperjuangkan keadilan dan kebenaran; membangun hubungan kekuasaan yang demokratis dan adil; meningkatkan posisi tawar dan melakukan transformasi sosial. Paulus juga melakukan pembelaan untuk memperjuangkan hak Onisimus sebagai manusia.

Pemulihan relasi tidak hanya dengan sesama namun relasi dengan alam. Alam kita terluka dengan cara bertani peladang berpindah-pindah di wilayah Amanuban, Fatukopa dan Fautmolo. Manusia dan makhluk hidup  berdampingan dalam sebuah oikos maka manusia harus memiliki paradigma Teosentris. Seperti yang dikatakan oleh Borrong, bahwa seluruh ciptaan yang ada berada dalam suatu hubungan yang harmonis dan berpusat pada Allah. Alam merupakan ciptaan yang baik dan juga telah dikuduskan di dalam penebusan Kristus serta tetap berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan. Gereja sebagai komunitas penyembuh dan alam harus disembuhkan. Juga penyakit-penyakit lain seperti kemiskinan, kesehatan, mental dan spritualitas. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *