HIDUP SEBAGAI HAMBA ALLAH – I Petrus 2:11-17

HIDUP SEBAGAI HAMBA ALLAH

I Petrus 2:11-17

PENGANTAR

Bunyi alinea ketiga UUD 1945 sebagai berikut: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Makna dari alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, yakni menjadi motivasi materiil kemerdekaan Indonesia, yaitu berkehidupan bebas dan merdeka. Alinea ini mengandung motivasi spiritual, yaitu kesadaran dan pengakuan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan rakyat semata, namun juga karena rahmat Tuhan. Hal ini menggambarkan pandangan hidup bangsa Indonesia yang menginginkan keseimbangan dalam kehidupan.

Kita baru saja merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78. Hampir di seluruh pelosok negeri ini, dari sabang sampai Merauke, dari pulau Sangihe Talaud sampai pulau Rote, semua anak bangsa ada dalam euforia perayaan HUT kemerdekaan. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengisi kemerdekaan.

Masih dalam suasana perayaan HUT kemerdekaan. Bacaan Alkitab yang kita renungkan hari minggu ketiga bulan kebangsaan ini, rasul Petrus berbicara tentang hidup sebagai hamba Allah.

PEMBAHASAN TEKS

Surat Petrus ini kepada umat beriman yakni orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Petrus mengingatkan dan menasihati saudara-saudaranya yang hidup dalam penderitaan. Walaupun hidup di perantauan dan mengalami berbagai penderitaan, namun kehadiran mereka sebagai hamba Allah, utusan Allah. Dari bacaan tersebut, kita dapat membaginya dalam beberapa pokok:

Pertama, hidup sebagai pendatang dan perantau harus mengontrol diri, menahan diri keinginan jahat. Menjauhkan diri dari segala keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (ay. 11). Kata “menjauhkan” berasal dari kata avpe, cesqai, dengan pengertian menahan diri, menjauhkan diri dari sesuatu yang merusak kehidupan. Dalam surat-surat Paulus, ia menggunakan istilah sarx yang merujuk pada keinginan daging atau keinginan tubuh yang fana (bdk; Galatia 5:24; Roma 13:14; Efesus 2:3; Roma 6:12).

Kedua, sebagai pendatang dan perantau, harus milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi (ay. 12). Kata “baik” dalam ayat tersebut berasal dari kalos yang bisa berarti beautiful, superior, excellent, choice, exceed yang artinya cantik, tampan, baik, unggul, pilihan, lebih tinggi, berharga, bermanfaat, cocok, terpuji. William Barclay, mengatakan bahwa kata tersebut secara sederhana berarti baik dalam kualitas hidup. Kata kalos, menurut Barclay, tidak hanya baik tetapi juga di bawah tekanan sebagai kata jujur. Cara hidup orang beriman demikian, menurut Petrus, membungkam para pemfitnah dan terakhir mereka memuliakan Tuhan. Cara hidup, cara kerja dan penampilan orang beriman, memberikan pengaruh positif bagi orang-orang tidak mengenal Allah. Bagi Barclay, nasehat ini menjadi penting pada waktu itu mengingat para pendatang dan perantau hidup di tengah-tengah dunia sekuler yang tidak menjunjung tinggi nilai moral di berbagai bidang kehidupan. Kebebasan, kemerdekaan di bawah imperium Romawi membuat manusia hidup sebebas-bebasnya tanpa memedulikan nilai-nilai moral yang berlaku dan sesama sebagai saudara.

Ketiga, sebagai pendatang dan perantau, tunduk (menghormati) kepada semua lembaga manusia yakni kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi (ay. 13-14). Kata subjek dalam ayat tersebut berasal dari kata upotagte yang berarti tunduk, mematuhi, dalam kontrol seseorang. Kata kerja yang diterjemahkan sebagai “menyerahkan” pada awalnya merupakan istilah militer yang berarti memerintah atau menempatkan di bawah otoritas orang lain. Kata kerja yang diterjemahkan sebagai “submit” pada awalnya adalah istilah militer yang berarti mengatur atau menempatkan di bawah otoritas orang lain. Seseorang tunduk pada otoritas sehingga mematuhi otoritas itu. Kemudian bergantung pada otoritas tersebut. Berserah diri untuk menaati pemimpin dan setiap aturan yang ditetapkan, baik yang memegang kekuasaan tertinggi maupun terendah. Bagi Barclay, sebagai orang pendatang dan perantau, menghormati pemerintah yang menjalankan kekuasaan untuk kebaikan masyarakat. Menaati aturan pemerintah yang sah untuk mengatur kehidupan bersama.

Keempat, ketika sudah menjadi orang yang telah dimerdekakan. Maka hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan (ay. 16-17). Petrus mengingatkan mereka sebagai warga negara yang merdeka. Merdeka “dari” dan merdeka “untuk” apa? Ada dua alasan: Pertama, beberapa penafsir mengatakan bahwa Petrus mengingatkan para budak tentang tahun ketujuh yang adalah tahun terakhir kerja keras bagi budak, budak yang telah dilepaskan kembali.  Barclay, mengatakan bahwa “ada enam puluh juta hamba dalam kekaisaran Romawi. Menurut hukum yang berlaku mereka bukanlah manusia melainkan sekedar barang-barang yang tidak memiliki hak apa pun. Namun ketikan mereka sudah dibebankan maka mereka memilik hak dan kewajiban yang sama. Kedua, sebagai orang beriman mereka telah dimerdekakan oleh Kristus. Oleh karena itu, mereka jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi segala kejahatan mereka. Kata merdeka berasal dari kata evleu, qeroi yang merupakan kata sifat normal, bebas, tidak terikat, tidak terikat kewajiban dan bukan budak lagi. Yang artinya bebas, lepas, tidak dikuasai, sesuatu yang tidak dibatasi oleh kewajiban atau juga diartikan sebagai seseorang yang tidak berdosa. Karena itu kehidupan orang merdeka yang ada di perantau sebagai hamba Allah, utusan Allah di tengah-tengah lingkungan, dunia, yang tindakannya, sikap dan cara hidup yang tidak memuliakan Allah. Bagi Petrus di situlah kehidupan orang beriman menjadi bermakna. Jadi kemerdekaan yang diperoleh “untuk” menunjukkan sikap hidup, cara hidup, cara kerja yang baik sebagai orang beriman.

PENUTUP

Renungan:

Pertama, kita baru saja merayakan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-78. Pertanyaan refleksi kita adalah: merdeka “dari” dan merdeka “untuk”? sejarah mencatat bahwa kita pernah dijajah oleh bangsa lain, Belanda, Portugis dan Jepang. Kolonialisme tercatat dalam sejarah dan tak akan dilupakan. Walaupun kita merdeka dari kolonialisme, namun kita tidak merdeka “sepenuhnya”. Sebab percampuran tak bisa dihindarkan. Kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan peristiwa saat penjajahan saja, tetapi juga bagaimana dampak dan efek yang ditimbulkan dari proses tersebut. Kolonialisme juga tidak berhenti setelah suatu negara telah memperoleh kemerdekaannya, proses tersebut tetap berlangsung hingga saat ini. Salah satu contoh yang diungkapkan oleh John Campbell-Nelson. Ia memberikan contoh upacara pemberkatan nikah di GMIT. Upacara perkawinan Kristen (Belanda) bertemu dengan tradisi perkawinan suku serta struktur-struktur kekerabatannya sehingga menghasilkan tradisi gereja lokal yang unik. Pada berbagai tahap di dalam proses upacara perkawinan itu dilaksanakan pertukaran “mas-kawin” dan buah pinang, sementara pakaian kedua mempelai adalah pakaian daerah atau pakaian khas suku bagi upacara perkawinan dan ini semua disaksikan oleh pendeta. Lalu pendeta mengenakan jubah kependetaannya (gaya-Belanda), dan kedua mempelai mengganti pakaiannya menjadi pakaian pengantin gaya Barat (termasuk: gaun pengantin warna putih) untuk mulai menjalani upacara perkawinan gerejawi. Khotbah yang disampaikan pendeta akan diambil dari Efesus 5:21-33 (berarti: konteks budaya Yunani Timur Tengah) diikuti dengan pemotongan kue pengantin (berasal dari kebiasaan Romawi). Pada waktu pestanya, gong dan tarian tradisional akan “dicampur” dengan pita rekaman kaset Disko (dari Amerika-Afrika) atau dengan musik country dan Barat (Anglo-Amerika). Esok harinya, mereka akan mengganti pakaian lagi dengan pakaian tradisional dalam rangka penerimaan mempelai perempuan ke dalam rumah suaminya, menurut adat-istiadat suku.

Dampak kolonialisme masih terasa hingga saat ini dalam percampuran yang tidak bisa dihindari. Kita masih merasa inferior di hadapan suku bangsa yang secara budaya telah berkembang. Kita merasa “kecil” di hadapan mereka yang dari luar datang. Mental “terjajah”. Perasaan tersebut membuat kita belum merdeka. Petrus mengingatkan kita bahwa kita telah dimerdekakan oleh Kristus. Sesuai dengan bunyi UUD 1945 alinea ketiga, terdapat pengakuan bahwa kemerdekaan itu adalah pemberian Tuhan. Walaupun kita tidak bisa menghindar percampuran budaya luar, namun kita tetap menunjukkan identitas iman kita lewat sikap, tutur kata dan etos kerja yang baik. Kita memberi pengaruh yang positif di mana pun kita hadir. Kita bisa memberi pengaruh yang positif jika kita sendiri bisa mengontrol diri kita dari hal-hal yang negatif. Selain efek kolonialisme namun ada neokolonialisme (penjajahan baru).

Kedua, kita merdeka “untuk” melaksanakan karya Allah di bumi Indonesia. Bukan menggunakan kemerdekaan sewenang-wenangnya. Pidato kenegaraan Presiden Jokowi dalam sidang tahunan di gedung MPR 2023, mengingatkan semua warga negara supaya menjunjung tinggi budaya santun, budi pekerti yang luhur bangsa ini. Kebebasan dan demokrasi bukan untuk melampiaskan kedengkian dan fitnah. Rasul Petrus, mengingatkan orang beriman untuk menyalahgunakan kemerdekaan (ay. 16).

Ketiga, merdeka bukan berarti kita hidup bebas sebebas-bebasnya. Namun kita hidup dalam aturan dan norma yang belaku baik dalam lingkungan masyarakat maupun sebagai warga negara, yang memilik konsekuensi hukum. Dalam konteks ini, Petrus, mengingatkan agar orang beriman menghormati, mematuhi kepada lembaga-lembaga yang ada. Tunduk jika pemerintah dan lembaga tersebut adalah hamba Allah (bukan wakil Allah) yang melayani bagi kebaikan masyarakat. Amin. FN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *