HIDUPLAH DALAM DAMAI DENGAN SEMUA ORANG – ROMA 12:9-21

HIDUPLAH DALAM DAMAI DENGAN SEMUA ORANG”

ROMA 12 : 9 – 21

PENGANTAR

Hati yang damai, pikiran yang damai, hidup yang damai, pasti semua orang menghendakinya. Damai itulah yang dicari semua orang dan semua bangsa. Di tingkat dunia, Nobel Perdamaian pun dibagikan setiap tahun, tetapi terkadang damai itu seumur jagung. Kita banyak menemukan kepura-puraan.

Ada sebuah cerita: “Arkian, binatang-binatang di hutan sudah bosan dan capek berkelahi. Mereka menyelenggarakan sebuah konferensi perdamaian untuk membicarakan masalah pelucutan senjata. Yang berpidato pertama adalah pak badak. Ia mengatakan bahwa penggunaan taring dan kuku yang tajam dalam perkelahian sungguhlah mengerikan dan benar-benar tidak sesuai dengan perikebinatangan. Berbeda dengan tanduk atau cula, yang digunakan hanya untuk bertahan. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar semua taring dan kuku tajam dilucuti. “Setujuuuuuu!”

Akan tetapi, macan, singa, jaguar, serigala, semua binatang yang bertaring dan berkuku tajam protes, tidak setuju. Mereka mengatakan bahwa taring dan kuku adalah senjata-senjata terhormat. Bukan taring dan kuku yang mesti dilarang, begitu kata mereka, tetapi tanduk dan cula yang perlu dilarang.

Peserta konferensi segera terbelah menjadi dua. Kubu yang satu pro-badak, anti taring dan kuku. Kubu yang lain pro-macan, anti tanduk dan cula. Tak ada yang mau mengalah. Susahnya, suaranya sama banyak. Konferensi perdamaian terancam gagal.

Ketika semua hampir putus asa, ahaaaaaa!, datanglah pak beruang. Baru bangun dari tidurnya yang lama (beruang bisa tidur selama berbulan-bulan). Sambil mengucek-ucek mata, ia bertanya, “ada apa ini kok ramai-ramai?” Binatang-binatang kecil, yang sangat berkepentingan terhadap suksesnya konferensi itu, menceritakan apa yang terjadi sambil memohon, “Tolong, pak beruang! Jangan sampai konferensi ini gagal, kami yang kecil-kecil ini yang jadi korban. Saya tidak aman tinggal tetap di sebatang pohon karena perkelahian mereka. Kami pun tidak bebas mencari makan,” bisik si monyet.

“Betul, pak beruang, tolong kami, untung saya bisa melompat-lompat dan bersembunyi,” sambung si tupai dan didukung si kelinci. Dengan gerakan yang lambat tetapi berwibawa, beruang itu berkata, “tenang, tenang, tenang! Saya punya usul! Yaitu, baik kuku, taring, maupun tanduk dan cula dilarang. Setujuuuuuu?” Semua kali ini berteriak, “Setujuuuuu!”

Akan tetapi ada yang kritis, “tetapi, pak beruang, kalau semua dilarang, bagaimana jika terjadi pertengkaran di antara kami? Namanya kita hidup bersama pasti sedikit-sedikit ada masalah.”

“ooo, gampang,” kata beruang, “tetap tidak boleh saling menggigit, menanduk atau menerkam. Tetapi harus saling memeluk. Setujuuuu? Siapa yang tidak setuju?” Semua setuju, dan perjanjian damai ditandatangani. Konferensi perdamaian selesai.”

Tetapi apakah ada damai? Ternyata tidak!

Beberapa lama setelah konferensi selesai, barulah binatang-binatang itu sadar, bahwa mereka telah dikibuli oleh si beruang. Beruang adalah satu-satunya binatang yang membunuh mangsanya dengan memeluk! Oh, pantas saja ia mengusulkan itu! Damai sejahtera didambakan, begitu diusahakan, tetapi mengapa tak kunjung terwujud? Kita belajar dari bacaan saat ini.

PEMBAHASAN TEKS

Surat Roma ini ditulis Rasul Paulus, sekitar tahun 57 M. Di Korintus (Akhaya). Pada waktu itu ada rencana orang-orang Yahudi ingin membunuh Paulus (Kis. 20:2) sehingga ia menyingkir ke kota Korintus (Akhaya) untuk berdiam diri di sana dan sambil menulis. Surat ini ditujukan kepada jemaat di Roma, didirikan oleh Yahudi diaspora.

Samuel Benyamin Hakh mengatakan bahwa: “Surat Roma adalah surat terakhir yang ditulis Paulus di kawasan timur. Menurut Kisah Para Rasul 20:3, Paulus tinggal selama tiga bulan di Akhaya (Korintus) di sana ia dengan tenang menulis surat ini kepada jemaat yang ada di Roma”. Paulus menulis surat ini karena ada rencana gelap dari pihak Yahudi untuk membunuhnya sehingga ia menyingkir ke Akhaya di Korintus (Kis. 20:2-3). Hal ini menunjukkan bahwa Paulus begitu prihatin kepada jemaat yang ada di Roma agar tetap mempertahankan imannya dalam Kristus Yesus sebagai juruselamat manusia. R.A, Jaffray juga menjelaskan bahwa: “Surat Roma dapat diibaratkan sebuah tambang batu intan, yang semakin dalam digali dan ditambang, semakin banyak dihasilkan intan-intan yang murni, indah, dan tidak ternilai harganya.

Dari perikop ini kita dapat membaginya dalam beberapa pokok:

Pertama, mengasihi tidak pura-pura tetapi mengasihi sebagai saudara (ay. 9-10 dan 16)

Penekanan terhadap ayat-ayat ini tentang orang percaya dalam mempraktikkan kasih yang tulus dan ikhlas. Di mana Kristus menjadi teladan. Bukanlah kasih yang pura-pura (2 Kor. 6:6; 1 Ptr. 1:22; 1 Yoh. 3:18; band. Mat. 22:37-39; Yoh. 15:12; 1 Tes. 3:12). Kata-kata “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”. Sesungguhnya, ‘jauhilah’ dan ‘lakukanlah’ bersifat umum; perkataan yang dipakai dalam bahasa asli mengungkapkan rasa jijik dan upaya, jauhilah hal-hal yang jijik melekat pada diri. Kasih itu bukan kemurahan hati yang berlebih-lebihan tetapi kasih itu membenci kejahatan.

Kasih itu diamalkan dalam hubungan antara sesama anggota jemaat (saudara-saudara). Hubungan itu seperti sesama anggota keluarga. Penuh kemesraan, hangat, akrab, bukan kaku dan menjarak. Namun, hubungan antara sesama anggota jemaat tidak hanya ditandai kemesraan tetapi berlaku pula sikap hormat-menghormati. Dalam hal ini berlakulah kaidah bahwa setiap orang Kristen harus menghormati sesamanya anggota jemaat lebih daripada dirinya sendiri. Karena itu bagi Paulus, dalam ayat 16 “janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Di sini kita melihat betapa pentingnya setiap orang percaya memiliki pikiran Kristus. Kristus yang mengendalikan seluruh hidup, seperti pikiran yang menggerakkan tubuh manusia.

Kedua, nasehat untuk semangat melayani, sabar dan bertekun dalam doa (ay. 11-12)

Orang percaya tidak bermalas-malasan dalam pekerjaan, baik secara rohani maupun jasmani. Kemalasan bukanlah karakter pengikut Kristus. Kata yang digunakan adalah zeontes, berarti mendidih atau bergejolak seperti bunyi air yang mendidih. Dalam PB, hal ini digunakan untuk hal-hal yang rohani, yang berarti sungguh-sungguh dan bersemangat. Kita dapat mengartikan juga sebagai pneuma sebagai ‘roh manusia’, sehingga ‘roh’ mengacu pada semangat manusia. Tetapi, kita dapat mengartikannya juga sebagai ‘Roh Kudus’ sehingga yang tertulis di sini, ‘berkobar-kobarlah oleh/dalam Roh’.

Orang percaya juga mempunyai dasar yang kuat untuk bersukacita dalam pengharapan, khususnya pengharapan tentang kedatangan Yesus kedua kali. Kata hupomenontes berarti tetap berdiri, terus bertahan. Dalam tekanan, kesusahan, penderitaan, orang percaya diminta untuk tetap bertahan. Tetap berdiri teguh dan setia, khususnya dalam doa.

Ketiga, tanggung jawab orang Kristen bukan hanya memberi tetapi merasakan apa yang mereka rasakan (ay. 13 dan 15).

Paulus memberikan nasihat tentang tanggung jawab orang Kristen terhadap orang percaya lainnya, yaitu dengan memberikan bantuan bagi orang percaya dalam kebutuhan mereka. Bukan hanya sekedar memberi bantuan tetapi turut merasakan apa yang mereka rasakan. Kata yang digunakan kinōnountes berarti membagi atau menyalurkan, memberi bantuan. Orang percaya perlu memiliki tangan yang terbuka dan penuh sukacita untuk menerima dan memberikan tumpangan kepada orang percaya yang lain. Ini merupakan praktik keramahtamahan orang percaya terhadap sesama saudara dalam Tuhan. Di sini nasihat diberikan untuk memiliki simpati terhadap orang lain, baik dalam sukacita maupun dukacita. Hal ini tidak terbatas hanya untuk sesama orang percaya, tetap juga terhadap orang yang tidak percaya.

Jika seseorang ada dalam sukacita, kita patut mendorong mereka supaya sukacita semakin berlimpah dan kita ikut bersukacita di dalamnya. Namun, saat kita bersama dengan orang yang berdukacita, sepatutnya kita mendampingi mereka melewati lembah-lembah gelap yang mereka alami serta memberikan penghiburan kepada mereka dengan penghiburan yang telah kita alami dari Tuhan.

Keempat, sikap kepada orang yang memusuhi dan hidup berdamai dengan semua orang (14, 17-21).

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang memusuhi kita? Sikap yang diminta adalah memberkati mereka bukan mengutuk. Paulus memberikan nasihat berhubungan dengan reaksi orang percaya terhadap tindakan dan emosi orang dan membalas pada umumnya adalah reaksi yang diberikan. Namun, firman Allah menyatakan supaya kita memberkati dan tidak mengutuk. Sikap memberkati ini berarti tidak mengadakan pembalasan, sebab kita tahu bahwa pembalasan adalah hak Tuhan.

PL dalam Taurat mengajarkan mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa. Namun, dalam PB dalam hukum Anugerah diminta melakukan lebih dari Taurat, yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Dalam segi positif, orang percaya diminta melakukan apa yang benar, apa yang baik, mulia, yang terhormat kepada semua orang.

Paulus mengutip ayat ini dari Ulangan 32:35. Pembalasan adalah hak Tuhan, oleh sebab itu orang percaya dilarang melakukan pembalasan. Bagian orang percaya adalah membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak mengadakan pembalasan. Orang percaya harus membiarkan atau mengizinkan Tuhan dalam waktu-Nya untuk mengadakan pembalasan terhadap orang-orang yang menganiaya orang percaya. Paulus mengutip Amsal 25:21-22. Orang percaya dinasehati bahwa alih-alih mengadakan pembalasan, orang percaya dianjurkan untuk mencintai musuh dan menunjukkan perbuatan baik seperti memberi makan dan minum. Jika hal tersebut diperlukan, itu memungkinkan untuk dilakukan. Menumpukkan bara api di atas kepala bukan berarti secara lahiriah, tetapi adalah lambang perasaan malu yang membakar dan penyesalan yang terjadi karena perbuatan jahat atau tidak baik yang mereka lakukan kita balas dengan kebaikan. Dalam ayat ini, kita mendapat perintah negatif dan positif yang diletakkan bersama- sama. Dalam Roma 12:9,11,16, orang percaya diberi nasihat agar tidak kalah dengan kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

PENUTUP

Renungan:

Bagaimana caranya seorang Kristen hidup dalam damai dengan semua orang?

• Mengasihi jangan dengan pura-pura atau munafik dan saling mengasihi di antara saudara. Jika seseorang berbicara tentang kasih dan damai, namun memiliki niat yang jahat dalam hatinya berarti ia masih mengasihi dengan pura-pura..

• Orang Kristen mendahului dalam memberi hormat dan membantu orang-orang yang berkekurangan. Bersimpati dan berempati kepada sesama: memberi tumpangan, bersukacita dengan orang yang bersukacita, menangis dengan orang yang menangis, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak menganggap diri pandai sendiri.
• Kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan tetapi dibalas dengan pengampunan agar orang-orang yang berbuat jahat itu bertobat. Kunci untuk mengalahkan kejahatan itu ialah kebaikan.

Ada sebuah kisah nyata di tempat di mana saya kos. Ada beberapa teman yang minum sopi sampai mabuk, sehingga setiap orang yang lewat di depan kos mereka tahan, lalu mereka meminta uang. Kalau tidak diberi uang, maka barang-barang bawaan orang itu disita. Tiba-tiba ada seorang bapak yang mau lewat, bapak ini mengendarai sepeda motor dan membawa beberapa dos air mineral (aqua). Kemudian bapak ini ditahan lalu mereka meminta uang. Bapak itu berkata bahwa ia tidak mempunyai uang, tetapi mereka memaksa agar bapak itu harus memberi uang baru bisa meneruskan perjalanan. Bapak ini sampai bersumpah bahwa ia tidak mempunyai uang. Kemudian teman-teman yang mabuk mengambil dos air mineral itu lalu membantingnya. Semua gelas aqua di dalam pecah. Bapak ini tidak melawan, dan dia hanya berkata: “Tuhan yang tau, dan Tuhan kasihanilah mereka.” Lalu bapak itu diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanannya. Menjelang malam, tema-teman yang mabuk mulai sadar, mereka duduk dan berbincang-bincang tentang bapak yang dos aquanya dibanting. Mereka sangat heran, kenapa bapak itu tidak melawan, melainkan ia berkata: Tuhan yang tau, dan Tuhan kasihanilah mereka. Kalimat yang diucapkan bapak itu menjadi bahan perenungan bagi teman-teman yang biasa minum mabuk. Sejak peristiwa itu, mereka mulai mengurangi mengonsumsi minuman keras dan perlahan-lahan berhenti. Itulah yang dimaksud dengan mengampuni agar mereka diselamatkan. Paulus mengatakan bahwa ketika kita kalahkan kejahatan dengan kebaikan, maka seperti kita menumpukkan bara api di atas kepalanya (ay. 20). Amin. FN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *