JALAN IKUT YESUS KE GOLGOTA

JALAN IKUT YESUS KE GOLGOTA

LUKAS 23:26-32

Pdt. Frans Nahak

Setiap orang tidak mengingini jalan hidup yang penuh dengan penderitaan, kesengsaraan, yang meneteskan air mata, mencucurkan keringat dan darah. Orang akan berusaha dengan berbagai macam cara untuk menghidar dari jalan penderitaan tersebut. Namun jalan kesengsaraan yang meneteskan keringat dan darah itu adalah ‘Jalan Tuhan’ yang ditempuh untuk keselamatan umat manusia. Syukur kepada Tuhan, karena jalan sengsara itu telah dilewati oleh Yesus sehingga kita tidak menanggung penderitaan seperti yang Ia alami.

Yesus harus disalibkan karena hukuman telah dijatuhkan kepada-Nya. Menurut hukum Romawi, siapa yang disalibkan ia harus memikul salibnya. Lukas mencatat dua peristiwa ketika Yesus memikul salib di jalan menuju ke Golgota. Pertama, mereka bertemu dengan Simon dari Kirene yang baru datang dari luar kota lalu diletakan salib di atas bahunya, supaya dipikulnya mengikut Yesus (ayat 26). Kita bisa bayangkan bahwa pasti Simon tidak mau karena dia bukan penjahat. Dalam Injil Markus 15:21 mengatakan bahwa dia dipaksa untuk memikul. Simon ini adalah ayah Aleksander dan Rufus. Simon yang tidak mengenal Yesus lalu dipaksa untuk memikul salib  Yesus, kemudian hari ia bertobat dan menjadi orang Kristen yang terhormat di Roma. Kita bisa membacanya dalam surat Roma 16:13. Paksa memikul salib dan mengikuti Yesus melalui jalan kesengsaraan menjadi berkat baginya. Kedua, Lukas mencatat bahwa sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia (ayat 27). Dalam  tradisi Yahudi meratapi dan menangis itu untuk seseorang yang mau dihukum mati dan bagi orang yang sudah meninggal.  Ada yang ikut Yesus dari belakang sambil menangis dan meratap karena sedih sebab orang ini tidak bersalah. Namun ada pula yang ikut meramaikan dan hendak melihat Yesus disalibkan. Tak ketinggalan para Imam, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang ikut sambil tertawa dan bersorak-sorai karena musuh yang selama ini mereka benci akan dihukum mati.

Di sini kita menemukan tiga sikap kelompok umat Kristiani berjalan di Jalan Tuhan dalam menyongsong Paskah mulai dari kesengsaraan (7 Minggu), kematian (jumat Agung) dan kebangkitan (Paskah).

Sikap kelompok yang pertama, rasa sedih, berjalan dalam penyesalan akan dosa-dosanya. Kelompok ini merasa bahwa mereka orang berdosa, sebenarnya mereka yang harus dihukum, tetapi Yesus yang menanggung semua dosa sehingga mereka tidak dihukum,  jadi ada penyesalan akan dosa dan rasa syukur kepada Tuhan. Itulah makna minggu sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus. Puncak dari syukur itu Kristus bangkit (Paskah). Dengan demikian, orang akan berusaha untuk tidak lagi berbuat kejahatan/dosa karena Kristus telah menang. Lahir baru/bertobat dari segala kejahatannya. Sikap kelompok yang kedua, ikut-ikutan. Mereka ikut jalan namun hanya ikut-ikutan. Karena hari raya Paskah merupakan hari raya gerejawi dan di rayakan turun-temurun sehingga hanya memjadi tradisi ikut meramaikan. Kelompok orang Kristen kedua ini tidak memaknai penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus yang sesungguhnya sehingga setelah Pakah hidupnya tidak berubah. Sikap Kelompok ketiga, orang-orang yang tahu tentang kebenaran tetapi mengangap diri tidak tahu (masa bodoh). Kelompok ini adalah para Imam, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang tahu kebenaran tetapi mereka berusaha untuk menghalang-halangi kebenaran. Mereka membunuh kebenaran dengan kepalsuan berjubah agama. Mereka ikut juga jalan ke Golgota tetapi hati mereka penuh dengan kejahatan. Mereka berusaha mencari kelemahan orang lain untuk menjatuhkan. Ada hukumannya bagi kelompok ini, dalam ayat 29-31 Yesus menubuatkan kepada bangsa Asrael yang telah membunuh Yesus yang tidak berdosa. Yang telah menghilangkan kebenaran dengan kejahatan. Akan tiba masanya hukuman datang. Yerusalem akan runtuh. Nubuatan Yesus ini terjadi dalam sejarah. Pada tahun 70 Masehi di mana Bait Allah diruntuhkan oleh kaisar Nero, banyak orang Yahudi yang mati.

Pertanyaan untuk kita berefleksi dalam perayaan Jumat Agung sampai kepada Paskah; sikap hati, sikap hidup kita seperti apa saat berjalan mengikut Yesus? Apakah kelompok pertama, yang menyesal atas dosa atau kelompok kedua hanya ikut meramaikan atau kelompok ketiga  para Imam, ahli Taurat dan orang Farisi?

Perayaan Jumat Agung dan Paskah tahun ini dalam suasana yang berbeda dari tahun-tahun yang telah kita lewati karena wabah covid-19. Kita berjalan bersama Yesus yang menderita dalam keheningan. Mungkin ada yang seperti Simon yang harus dipaksa memikul salib Yesus.

Kita berjalan sambil terus bertanya; apa makna penderitaan Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan bagi kita tahun ini dengan kondisi kekinian?

Kita merayakannya dalam keluarga kita masing-masing. Ini kesempatan bersama keluarga dalam rumah untuk berdoa dan berefleksi bersama.

Salam dan doa dari Jemaat Besnam, di bawah bukit batu Fatukopa untuk semua umat kristiani yang merayakan Jumat Agung dan Paskah tahun 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *