JANGAN RIBUT KARENA BUNGKUSANNYA

JANGAN RIBUT KARENA BUNGKUSANNYA

Ketika berlibur di kampung saya diajak oleh teman-teman dahulu yang duduk di bangku Sekolah Menenga Atas  reuni di rumah kepala sekolah. Sekarang ia telah menjadi mantan. Teman-teman, mantan murid dari mantan kepala sekolah, banyak yang telah menjadi orang sukses. Ada yang guru, polisi, pengusaha, pastor dan termasuk saya yang kini menjadi pendeta. Kami ke rumah mantan kepala sekolah.

 Kami dijamu dan duduk akrab di ruang tamu sambil bercanda ria mengingat-ingat masa yang pernah kami lewati saat duduk di bangku SMA. Tampaknya seru. Berbicara dan bercanda tawa dari mulai joke kecil sampai pada pengalaman bekerja yang mereka kisahkan senang, penting maupun menjengkelkan. Sungguh suatu permulaan yang penting dari karir yang mereka dapatkan sekarang. Tak lama, berbagi pengalaman tersebut pun menjadi ajang keluh kesah mereka terhadap hidup, pekerjaan dan jabatan yang mereka dapatkan saat ini. Ada beberapa teman yang mengeluhkan bahwa stress yang mereka alami sungguh berat dan ingin rasanya keluar dari kejenuhan yang ada.

Tak lama kemudian istri dari mantan kepala sekolah datang membawa satu teko besar berisi kopi panas dan beberapa gelas dan cangkir. Ada yang besar dan kecil, bagus dan kelihatan mahal dan ada yang beberapa kelihatan tua.

Sambil masing mengambil gelas dan cangkir tersebut, mantan guru menyilahkan untuk menuang sendiri dan berkata anggaplah rumah sendiri. Hampir semuanya memilih cangkir dan gelas yang kelihatan mahal dan bagus. Melihat dari karir yang mereka dapatkan, wajar juga kalau mereka memilih tempat minum yang terbaik untuk mereka.

Melihat hal ini, si mantan kepala sekolah memulai untuk berbicara: “Dari cara kalian memilih gelas dan cangkir, di situlah bermula masalah tadi”.

“Kalian hanya memikirkan untuk mendapatkan gelas dan cangkir yang terbaik. Sesekali melirik gelas dan cangkir yang kecil dan yang biasa. Berharap gelas dan cangkir tersebut bisa kalian dapatkan atau pakai”.

Mungkin kami lupa, bahwa kehidupan ini bukanlah mengenai bungkusnya, tetapi bagaimana merasakan isinya. Cangkir dan gelas hanyalah tempat di mana kopi tersebut berada, bukan kehidupan itu sendiri. Rasa dan aroma kopi tersebut tetap sama apapun gelas dan cangkir yang kita pakai. Tetapi banyak orang yang justru meributkan wadahnya, bukan isinya. Banyak yang akhirnya tidak dapat menikmati kopi kehidupan karena terlalu sibuk memikirkan wadahnya.

Pertanyaan refleksi kita; jangan sampai kita lelah mengejar sesuatu hanya karena bunggkusnya? Apa isi dari sebuah jabatan? Bukankah isinya? Maka kita dapat menyimpulkan dua hal;

Pertama, konflik itu terjadi karena setiap orang hendak merebut bungkusnya, yang besar dan menarik. Mereka saling sikut untuk memperoleh kedudukan. Ajang itu telah selesai masih terbentuk kelompok pro dan kontra. Padahal Yesus bilang, “barang siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa yang ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hamba untuk semuannya.”

Kedua, janganlah rebut karena bungkusnya. Tidak semua yang tampak indah di pandangan mata kita itu terbaik. Justeru itu seringkali menipu. Ingat kisah Lot dan pamannya Abram (Kej. 13). Lot diberi pilihanoleh Abram untuk menentukan daerag yang akan dia tinggal. Dia memilih mengikuti kemauuan matanya. Lot melakukan kesalahan besar ketika ia memilih daerah dekat Sodom, sebab menurut mata jasmaninya daerah yang akan dia diami bagus dan nyaman.

Apaka Lot tidak medengar reputasi  kota Sodom? (FN)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *