KATAKAN;TIDAK PADA GOLONGAN PUTIH (GOLPUT)”

Pdt. Fransiskus Seran Nahak S.Th

Pagi-pagi saya sementara memperhatikan tanaman di halam rumah Pastori. Ada seoorang bapak yang tanya kepada saya:   “Bapak, nanti ikut coblos di mana?
“di Kupang,” jawab saya.
Lalu ia datang berdiri di samping saya. Saya bertanya kepadanya, “bapak ikut coblos di mana? Pemilu ini kali beda karena pilih juga presiden.”

“Presiden saya tidak singgung tapi yang caleg dong. Ikut coblos juga sama saja karena ketika mereka (caleg) su terpilih abis tidak perhatikan kita orang kecil. Mereka hanya  janji ini, janji itu pada masa kampanye, tapi su jadi anggota dewan  hanya kasi kaya diri sendiri. Mau mendekati masa pemilihan begini mereka masuk rumah keluar rumah. Mereka lewat dengan oto mewa kasi turun kaca, tapi kita su pilih mereka, tidak lagi lihat mereka punya batang idung atau mereka lewat kaca oto kasi naik dan hamper seret bawa kita. Lebe baik tidak usa pilih,” ujar bapak tersebut.

Itulah respon bapak tersebut. Saya memahami mengapa sikap  apatis terhadap para calon anggota dewan (caleg). Masyarakat kita tidak lagi pasif dan muda dimobilisasi, melaikan masyarakat semakin selektif, menuntut dan karitis. Masyarakat memiliki banyak saluran komonikasi dan informasi. Masyarakat sadar punya banyak pilihan politis, termasuk pilihan tidak memilih mana kala dihadapkan kepala kelangkaan caleg yang memiliki rekam jejak yang jelek di mata masyarakat.

ANIMALITAS  POLITIK
Perilaku dan gerak gerik para elite politik akhir-akhir ini sudah melampaui batas akal sehat. Di sana seakan tidak ada lagi etika, rasa malu dan rasa bersalah. Mulai dari rentetan kasus suap dan korupsi para elite parpol, “suplai’ para “wanita bayaran” di lingkungan partai politik, rekening gendut, menyebarkan berita bohong. Semua ini indikasi degradsi kultural politik bangsa pada  titk nadir terendah, yaitu dari kondisi “humanitas politik” ke arah “animalitas politik”. Nilai kemanusia yang menghargai kebaikan, keutamaan, nalar, kasih sayang, cinta, empati, kejujuran dan tanggung jawab; diambil alih insting kebinatangan yang merayakan nafsu, kepuasan, keserakahan, materialitas, kekuasaan, kebiadaban, dan ketidak nalaran. Potret tentang manusia politik “manusia serigala bagi sesama” bukan sebuah metafora melainkan lukisan sejati watak “animalitas” dalam diri manusia. Bahkan, manusia tak hanya serigala bagi sesama tetapi bagi apa pun. Lukisan Aritoteles tentang manusia sebagai anima rationale menyiratkan, manusia tak saja memiliki kapasitas nalar rasional, tetapi juga energi kebin atangan. Memang, kapisitas pikiran, bahasa dan makna merupakan perbedan manusia dan binatang. Namun, perbedaan itu tidak lagi bermakna bila energi animalitas mengendalikan pikiran, tindakan, dan gerak manusia politik. Dunia politik menjelma dunia animalitas, ketika manusia politik menanggalkan bingkai humanitas, dan hidup dalam paradigma animalitas. Ruang politik yang sejatinya tempat membangun kehidupan bermakna kini direduksi sekedar tempat mengubar insting rendah biologis. Itulah gambaran para elite politik kita. Maka ada gejala-gejala golput pada pemilu 2014 ini bukan karena persoalan rendahnya keterlibatan atau ketertarikan masyarakat pada politik, melainkan keyakinan masyarakat bahwa pemilu tidak brmakna apa-apa karena tidak ada caleg yang secara meyakinkan  menjanjikan perubahan dan perbaikan. Apatisme politik dari masyarakat itu menunjukan bahwa partai politik gagal dalam menampilkan caleg yang populer dan meyakinkan masyarakat.

SAATNYA MERUBAH
Dalam pasal 244 Undang-undang Pemilu secara tegas disebutkan bahwa pemilu diselenggarakan dengan partisipasi mesyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini tidak hanya warga negara secara individual, tetapi mencakup seluruh infrastuktur politik dan kelompok masyarakat yang ada di Indonesia. Bentuk partisipasi tidak saja dilaksanakan dalam hal penggunaan hak masyarakat sebagai warga negara untuk dipilih sebagai anggota legeslatif atau penggunaan haknya untuk memilih anggota-anggota legeslatif, sehingga kehadiran institusi legeslatif mendapat legetimasi yang kuat, atau berpartisipasi secara luas sebagai penyelenggara pemilu. Undang-undang pemilu memberi keluasan kepada masyarakat, khususnya organisasi kemasyarakatan untuk berpartisipasi secara luas dalam bentuk pelaksanaan pemilu, pendidikan politik bagi pemilih, surve atau jajak pendapat tentang pemilu dan penghitungan cepat hasil pemilu, dengan ketentuan:
Tidak melakukan keberpihakan yang menguntungkan atau merugikan salah sat peserta pemilu.
Tidak mengganggu proses tahapan pemilu.
Meningkatkan partisipasi politik masyarakat secara luas.
Mendorong suasana yang kondusif bagi penyelenggara pemilu yang aman, damai, tertib dan lancar.
Berdasarkan ketentuan undang-undang pemilu tersebut, maka kita semua yang mempunyai hak untuk memilih dan wajib memilih. Ini penting bagi kita untuk menentukan ke mana arah bangsa kita lima tahun ke depan. Kita yang menentukan siapa yang duduk di lembaga legeslatif dan eksekutif yang terhormat, namun akhir-akhir ini hilang kehormatan. Kalau kita apatis kemudia golput maka hasilnya akan di luar kehendak kita malah berjalan ke arah yang tidak kita inginkan. Mari kita mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut aktif dalam pemilu, paling tidak ikut berpartisipasi sebagai pemberi suara. Dalam pemilu, kita ikut menentukan sosok pemimpin yang baik sesuai dengan harapan rakyat.
Jangan pilih caleg dan capres berdasarkan agama tetapi berdasarkan kapasitas, kualitas dan rekam jejak figur. Salah satu bahaya memilih caleg dan capres  sesuai dengan latar belakang agama, maka akan menguatnya sektarianisme dan fanatisme atas dasar agama. Pemilu bukan menjadi ajang untuk membagun sektarianisme dan fanatisme. Ikut memilih tidak hanya semata-mata hak konstitusi sebagai warga negara tetapi juga sebagai tanggung jawab iman bagi umat Kristen di tengah-tengah bangsa ini. Pemilu menjadi alat control dan kritik terhadap kekuasaan dengan prinsip reward and punishment kepada partai atau penguasa. Kita yang akan merubah wajah bangsa kita. Mengembalikan kultur politik bangsa dari “animalitas politik” ke kondisi “humanitas politik”, yaitu keadaban sebagai pilar arsiktektur politik bangsa kita. Ingat jangan GOLPUT!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *