KAWAN SEKERJA ALLAH

Pdt. Frans Nahak

KAWAN SEKERJA ALLAH

  I KORINTUS 3 : 1 – 9

Pdt. Frans Nahak

Masalah yang terjadi di Jemaat Korintus sesuatu yang sangat ekstrim. Banyak yang gemar berpidato dan membangga-banggakan guru mereka (I Kor. 3 : 4) bahkan ada yang melunakan ajaran yang keras sesuai dengan zaman. Ada yang nampak seolah arif dan mulia (I Kor. 4:10) namun tidak banyak orang bijak atau pandai ( I Kor. 1:26). Jemaat terpecah menjadi empat kelompok yang berlainan, yang disebut Paulus dalam I Korintus 1:10-17.

Beberapa orang mengatakan bahwa mereka berkiblat secara rohani kepada Paulus, yang lain kepada Apolos, yang lain lagi kepada Kefas, sedangkan ada lagi mengatakan bahwa mereka hanya milik Kristus. Golongan yang kaya menghina yang miskin (I Kor. 11:22). Ada yang menganggap diri orang rohani secara khusus (I Kor. 14:37). Lagi pula mereka mengalami karunia-karunia roh termasuk nubuatan yang paling mereka sukai adalah bahasa lidah (I Kor. 14). Paulus melihat bahwa kondisi yang demikian akan menjadikan gereja terpecah tidak memiliki fokus yang sama.

Namun demikian, dalam ayat 1 Paulus tetap menyebut mereka sebagai saudara (aku saudara-saudara). Dalam ayat ini kelanjutan dari pasal dua menggunakan kata ganti aku yang menunjukan bahwa Paulus menjelaskan kehidupan orang Kristen yang benar. Permasalahan dalam kehidupan seperti iri hati, perselisihan, mengelompok-lompokan diri adalah manusia lama bukan orang Kristen dewasa. “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimnya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya” (ayat 2).

Kemudia Paulus menjelaskan bahwa setiap orang Kristen adalah hamba (ayat 5). Baik Apolos, dirinya dan Kefas, hanyalah seorang pelayan yang dipakai Tuhan. Jika demikian tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah

Paulus berbicara tentang Tuhan yang memberi pertumbuhan (ayat 6), bukan Paulus, Apolos dan Kefas yang menjadi fokus, tetapi kepada yang memberi pertumbuhan. Orang bisa  menanam dan menyiram tetapi Tuhan yang menumbuhkan. Apagunanya jika menanam dan siap untuk menyiram jika tidak tumbuh.

Mereka adalah kawan sekerja Allah. Kawan sekerja adalah mereka yang bekerja sama dengan Allah. Kata Allah dalam kalimat Yunaninya mendapat tekanan istimewa karena tiga kali diulang sebagai kata pertama dari tiga ungkapan (Kawan sekerja Allah, ladang Allah, bangunan Allah). Paulus mengubah gambarannya dari bekerja di ladang menjadi bekerja untuk bangunan Allah (ayat 9).

Jika membaca keseluruhan surat kepada jemaat Korintus, Paulus mengingatkan bahwa Allah yang menciptkan langit dan bumi serta segala isinya dan terus bekerja memberi pertumbuhan (ayat 6). Manusia diciptakan sebagai partisipan Allah untuk terus menciptakan suatu yang baru di bumi yang tertib, indah dan berdaya guna bagi kelestarian bumi, bagi segala makluk termasuk manusia. Ketika manusia sebagai partisipan dalam karya Allah menyimpang dari panggilannya sebagai partisipan dan berubah menjadi lawan, manusia jatuh dalam dosa. Allah sendiri berinisiatif mengutus Putra-Nya untuk menebus manusia dari kecendrungan memberontak dan menjadikan manusia partisipan dalam karya Allah dan mempersatukan semua partisipan Allah dalam Kristus sebagai gereja.

Allah sebagai pencipta terus menerus menguji partisipasi kita dalam bumi milik Allah dan di dalam gereja milik Allah. Ia terus menerus menilai aktifitas kita: apakah aktifitas kita, apakah partisipasi kita, apakah karya-karya kita dalam gereja dan dalam masyarakat dalam bumi milik Allah. Meneruskan pekerjaan Allah atau menghalanginya; menunjang pekerjaan Allah atau menantangnya, sejalan dengan pekerjaan Allah atau membeloknya. Ayat 13….”pekerjaan masing-masing orang akan diuji…”

Paulus mengingatkan kepada Jemaat Korintus bahwa mereka dalah rekan sekerja Allah, sahabat-sahabat Allah. Rekan sekerja Allah dipanggil untuk menyatukan kerja mereka suatu karya agung bagi dunia dan gereja Tuhan “….aku menanam, Apolos menyiram Allah yang memberi pertubuhan….” Penegasan ini menunjukan bahwa Paulus menghubungkan pekerjaannya dan pekerjaan Apolos, buka mempertentangkan. Selanjutnya Paulus menghubungkan pekerjaannya pekerjan Apolos dan pekerjaan Allah. Mereka adalah kawan sekerja. Suatu kebanggaan dan keistimewaan karena menjadi kawan sekerja Allah.

Namun menjadi ironi ialah bahwa sama-sama mengerjakan pekerjaan Allah tidak menjadi kawan sekerja karena merasa saingan. Tidak mampu menjadi sahabat kerja. Membuat kotak-kotak dalam masyarakat, jemaat, yang terkotak-kotak karena beda suku, etnis, budaya, dll. Kawan sekerja sering kali tidak menjadikan pekerjaannya sebagai bagian dari pekerjaan kawan lain.

Dalam Penutupan Bulan Keluarga, Hari Ulang Tahun Reformasi ke-502 dan Hari Ulang Tahun Gereja Masehi Injil di Timor ke-72 kita dingatkan lagi bahwa kita adalah Keluarga dan Kawan Sekerja Allah. Jika diantara kawan sekerja masih merasa satu saingan dengan yang lain lalu menjatuhkan, rasa iri dendam, mengkotak-kotakkan kolompok ini dan itu, pertanda bahwa warga GMIT belum dewasa walaupun GMIT telah berumur 72 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *