KE MANA MENCARI TUHAN?

KE MANA MENCARI TUHAN?

Ada seorang biksu. Setiap kali ia berdoa, matanya memandang ke puncak gunung di kejauhan. Hatinya rindu bertemu dengan Tuhan yang ia percaya di tempat yang maha tinggi. “Kalau saja aku dapat mencapai puncak itu, tentu aku akan bertemu dengan Tuhan, atau setidak-tidaknya mendengar suara-Nya,” pikirannya dari hari ke hari.

Pada suatu hari ia tidak tahan lagi, ingin memenuhi hasratnya yang menyala-nyala. Disediakan bekal secukupnya dan memulailah perjalanan menuju pengharapan itu. Dengan riang ia mengayunkan langkahnya yang tegap. Di dalam hatinya ia bernyanyi, “Aku pergi menemui Tuhan!”
Tetapi makin jauh, makin banyak rintangan yang harus dilampauinya. Hutan makin lebat, batu-batu gunung makin besar menghalangi perjalanannya, lereng makin terjal dan berbahaya. Kadang ia tergelincir dan meluncur ke bawah untuk mengulangi pendakian yang memenatkan. Tetapi ia tidak gentar, karena mengerti tujuannya yang begitu indah hanya dapat dicapai dengan jerih payah yang setimpal.
Perjalanan makin sepi. Tadinya masih ada orang, kini binatang jalang pun makin jarang dilihat. Hanya ada seekor burung kecil yang hinggap di bahunya. Burung itu bersiul menambah semangat biksu. Karena girang dengan temannya, biksu membagi bekalnya dengan burung kecil itu. Tibalah mereka di tempat yang tidak ada tumbuh-tumbuhan. Salju makin tebal dan sukar bagi pendaki gunung itu untuk mendapatkan perlindungan dari angin dingin yang menyengat. Burung kecil makin menggigil kedinginan, meskipun sudah berselimut di bawah jubah biksu. Sudah lama menghilang siulnya. Nasibnya sekarang tergantung pada apa yang diperbuat oleh biksu baginya. Kemudian ibalah juga hati biksu. Berpikirlah ia, “baik kubawakan makhluk yang lemah ini ke tempat yang panas dulu, baru kuteruskan perjalanan.” Lalu dengan susah payah ia turun kembali, melalui jalang sengsaranya tadi, hanya untuk menyelamatkan burung kecil itu.
Mencapai daerah yang mulai panas, mulai hidup kembali si burung dan mulai berkumandang kembali siulnya. Kini lebih meriah, rupanya menyatakan sukacita dan terima kasih atas keselamatannya. Biksu pun gembira mendengar kembali siul merdu yang membelah kesepian selama ini. “Burung ini mungkin berterimakasih kasih kepadaku,” pikirannya, “karena aku telah mengasihinya dalam perjalanan. Tak mungkin aku memikirkan keselamatannya, sampai mengurungkan maksud yang suci, jika bukan oleh dorongan kasih. Kalau begitu untuk apa ku cari Tuhan di tempat yang jauh dan sukar dicapai manusia? Kalau kasih dapat kujangkau tanpa melangkah jauh-jauh, tentu Tuhan ada di dekatku. Harus kugunakan mata iman untuk mengenal-Nya dan telinga rohani untuk mendengarkan suara-Nya. Bertahun-tahun aku mau bertemu dengan Tuhan di tempat yang maha tinggi, padahal Ia selama ini ada di sisiku.”

Bukankah di dalam Yesus orang Nazareth, Tuhan telah turun dari tempat-Nya yang maha tinggi ke dataran manusia mengolah hidup? Yesus memindahkan pemujaan Bapa-Nya dari Bait Suci ke bukit, ke padang, laut sawah, ladan, kampus, sekolah, kantor, rumah, dapur, dll. Maka di manapun kita berada, membuat hidup di sana suatu ibadah.

Hari ini kita belajar dari cerita percakapan Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub dalam Injil Yohanes 4: 21 dan 23.
Ayat 4:21 Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Ayat 23 “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *