KE MANA MENCARI TUHAN?

KE MANA MENCARI TUHAN?

Kawan saya datang bercerita dengan saya di rumah Pastori, bahwa beberapa waktu yang lalu ia diajak oleh beberapa orang untuk pergi Mencari Tuhan. Entah apa maksudnya, ia berkata kepada saya tentang pergi mencari Tuhan. Tetapi terakhir baru saya mengerti bahwa maksud dari pada pergi mencari Tuhan adalah ke salah satu Persekutaun Doa di kampung sebelah. Mereka harus berjalan kaki berjam-jam melalui medan yang sulit.

Akhir dari cerita kami, teringatlah saya sebuah cerita dari pedalaman Asia yang pernah saya baca di sebuah buku (lupa judul bukunya). Saya menceritakan kembali kepadanya.

Konon ada seorang biksu. Setiap kali ia berdoa matanya selalu memandang ke puncak gunung di kejahuan. Hatinya rindu bertemu dengan Tuhan yang ia percaya ada di tempat yang maha tinggi. “kalau saja aku dapat mencapai puncak itu, tentu aku akan bertemu dengan  Tuhan atau setidak-tidaknya mendengar suara-Nya,” pikirnya dari hari ke hari.

Pada suatu hari ia tidak tahan lagi, ingin memenuhi hasratnya yang menyala-nyala itu. Disediakan bekal secukupnya dan memulailah ia berjalan menuju pengharapannya.

Mula-mula tak seberapa berat, dan dengan riang ia mengayunkan langkahnya yang tegap. Di dalam hatinya ia bernyanyi, “aku pergi menemui Tuhan”.

Tetapi makin jauh makin banyak rintangan yang ia temui. Hutan makin lebat, batu-batu gunung makin besar menghalangi perjalannya, lereng makin terjal dan berbahaya. Sesekali ia tergelincir jatuh namun bangkit dan berjalan lagi. Tetapi ia tidak getar karena mengerti tujuannya begitu indah dan mulia. itu hanya dapat dicapai dengan jerih payah payah. Perjalanan makin sepi. Tadinya masih bertemu dengan orang namun kini binatang jalang pun makin jarang dilihat. Hanya ada seokor burung kecil yang hinggap di bahunya dan terus menemaninya. Burung itu bersiul-siul menjadi penyemangat biksu ini.

Tibalah mereka di tempat yang tak ada tumbuh-tumbuhan karena udara sudah terlalu dingin. Salju makin tebal. Namun biksu terus mendaki karena tekadnya bertemu dengan Tuhan.

Akan tetapi burung kecil itu makin menggigil kedinginan meskipun sudah berselimut di bawah jubah biksu. Sudah lama menghilang siulannya. Nasibnya kini tergantung kepada biksu ini, apa yang diperbuat baginya. Tiba-tiba ibalah hati biksu terhadap burung ini. “baiklah ku bawa makluk yang lemah ini ke tampat yang panas dulu, baru ku teruskan perjalannku.”  Lalu dengan susah paya ia turun kembali untuk menyelamatkan burung kecil ini..

Mendekati daerah yang panas, mulailah hidup kembali si burung kecil ini dan siulannya kembali berkumandang. Kini lebih meriah, rupanya burung kecil ini meyatakan sukacita dan terima kasih atas keselamatanya. Biksu ini menjadi gembira mendengar siulan si burung kecil membelah kesepian selama ini. Dalam hati si biksu ini, “burung ini berterima kasih kepadaku. Aku mengasihinya dalam perjalanan kami bersama. Aku memikirkan keselamatnya sampai mengurungkan niatku yang suci, jika bukan oleh dorongan kasih. Kalau begitu untuk apa kucari Tuhan di tempat yang jauh dan sukar dicapai oleh manusia? Jika kasih dan keselamat dapat kujankau tanpa melangkah jauh-jauh. Selama ini aku belajar meneliti bayangan-Nya padahan Ia ada di sisiku.”

Bukankan Yesus membawa Tuhan turun dari tempat-Nya yang mahatinggi ke dataran  manusia mengelolah hidupnya? Ia ada di kebun, di rumah, di tempat kita menimba air, tempat kita duduk memperhatikan sapi di padang.

Kata Yesus kepada perempuan Samaria itu, “Percayalah kepada-Ku, hai Perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung itu dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar  akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian.” (Yoh. 4:21 dan 23).

Yesus memindahkan pemujaan kepada Bapa-Nya dari  Bait Suci ke rumah kita, ke gereja kita ketika kita berkumpul dan sebut nama-Nya.

Ia berada di rumah ibadah saat kita berkumpul dan beribadah. Jangan mencari Tuhan ke mana-mana karena Ia ada bersama kita. Berdoalah kepada-Nya karena Ia hanya sejauh doa. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *