KELUARGA YANG SALING MENOPANG PELAYANAN – Kisah Para Rasul 18:1-11

KELUARGA YANG SALING MENOPANG PELAYANAN

Kisah Para Rasul 18:1-11

PENGANTAR

Gereja kita mengambil metafora Gereja sebagai Keluarga Allah. Warga gereja adalah saudara dan saudari yang dipersatukan bukan oleh marga, suku, bahasa, sejarah, ideologi dan kebangsaan, melainkan oleh Allah. Sebagai keluarga Allah, gereja merupakan anak dari satu Bapa yang menerima semua anggota sebagai anak-anak-Nya yang sama dikasihi-Nya tanpa membedakan satu dengan yang lain. Paulus menggunakan istilah patria dari bahasa Yunani yang memiliki pengertian bahwa semua orang percaya adalah keturunan Allah (Kis. 17:28-29).

Semua warga gereja merupakan satu keluarga Allah, dengan maksud untuk menekankan karakter persaudaraan yang intim, personal dan akrab antara sesama warganya. Allah sang Bapa yang memanggil dan memutuskan, jadi bukan berarti bahwa kita secara pribadi memilih siapa saja yang menjadi anggota keluarga. Ia memanggil semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi, laki-laki dan perempuan, besar-kecil, tuan-hamba, kaya dan miskin ke dalam keluarga.

Persaudaraan bersifat mendunia. Ia menerobos batas yang manusia tetapkan. Semua komitmen kepada ikatan keluarga jasmani, yakni ayah, ibu, saudara perempuan dan saudara laki-laki tidak dibatalkan atau digantikan, melainkan diperbaharui dan diperluas. Persaudaraan itu tidak lagi bersifat pada hubungan biologis saja, tetapi berbasiskan iman

Gereja sebagai sebuah keluarga dapat dikatakan mempunyai orientasi ganda, “ke dalam dan ke luar”. Orientasi ke dalam berarti persekutuan dengan orang-orang dalam gereja yang merupakan saudara dan saudari, bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan persekutuan, berkumpul memecahkan roti dan berdoa (Kis. 2:42). Sedangkan orientasi ke luar berarti warga gereja aktif terlibat dalam misi gereja di dalam dunia.

Tema renungan di minggu terakhir dalam Bulan Keluarga adalah Keluarga yang Saling Menopang Pelayanan.

PEMBAHASAN TEKS

Kota Korintus adalah kota pelabuhan. Menurut beberapa penafsir, kota ini tidak mementingkan hal-hal kesusilaan. Paulus menyadari bahwa pentingnya Injil disampaikan di sana sehingga selama 18 bulan ia tinggal di sana. Di kota itu, ia bertemu dengan beberapa keluarga yang menjadi penopang baginya dalam pemberitaan Injil.

Pertama adalah keluarga suami istri yakni Akwila dan Priskila (ay. 2). Nama Priskila dan Akwila memiliki arti yang unik dan menarik. Arti nama Akwila: Elang/ rajawali. Sedangkan Priskila dalam bahasa Yunani: akulas seorang Yahudi asli dan penduduk Pontus di Asia Kecil bagian utara. Keluarga ini selalu berpindah-pindah tempat tinggal karena situasi politik dan juga pekerjaan (ay. 1-3).

Siapa Akwila dan Priskila? Mereka adalah sepasang suami-istri Kristen pada abad pertama Masehi. Mereka bertemu dengan Paulus di Tarsus dan sama-sama bekerja sebagai tukang kemah (pembuat tenda). Kemudian mereka bersama-sama Paulus berkeliling mengabarkan Injil dan menjadi sahabat, keluarga dekat yang sangat dihormati Paulus. Priskila dan Akwila dicatat bekerja dengan tekun untuk menguatkan gereja mula-mula. Disebut “bersama” paling banyak di Alkitab, mereka dinamakan “pasangan paling populer” di kalangan orang Kristen. Kedua orang ini disebutkan 7 kali di dalam Alkitab, dua kali di surat rasul Paulus, empat kali di dalam Kisah Para Rasul, dan satu kali di dalam kitab Timotius. Pasangan ini merupakan penginjil keliling dan pemimpin gereja di jemaat-jemaat yang didirikan Paulus. Dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus, yang ditulis ketika ia berada di Efesus, disebutkan bahwa Akwila dan Priskila juga ikut pindah ke Efesus.Di kota itu, Priskila juga bekerja mengurus jemaat dan keluarganya. Dalam komentarnya yang ditulis dalam kitab Roma, Paulus menyebut Prisikila sebagai pemimpin gereja yang cukup baik. Mereka mengoreksi ajaran iman Apolos, salah satu pengkhotbah penting pada zaman itu.

Paulus tinggal dengan keluarga ini dan bekerja sendiri. Ia tidak mau menerima bantuan dari gereja atau dari siapa pun juga.

Sikap keluarga tersebut terhadap Paulus: Pertama, menerima Paulus untuk tinggal di rumah. Mereka tinggal bersama (ay. 3 dan I Kor 19). Mereka menerima Paulus dengan senang hati, apa adanya, untuk tinggal bersama mereka dan melakukan pekerjaan yang sama dengan Paulus, yaitu sebagai tukang tenda. Kedua, keluarga ini setia mendukung Paulus dalam pelayanan (ay. 4).Mereka membesarkan hati Paulus serta mendorong untuk terus bersemangat melayani Tuhan. Apakah bukti dukungan keluarga Priskila dan Akwila? Yakni yang ketiga, menopang dalam Ekonomi. (ay. 1-3). Pekerjaan yang dilakukan bersama-sama ialah pembuat kemah atau tukang kemah/tenda. Mereka memiliki keahlian membuat tenda untuk saling menghidupkan. Tenda mereka dibuat dari kulit kambing yang harus dipotong seorang ahli dan dijahit dengan tepat. Di Korintus mereka mencari pasar untuk memulai usaha pembuatan tenda. Dari hasil inilah mereka menopang ekonomi pelayanan penginjilan. Sambil mendagangkan tenda, Paulus menggunakan kesempatan tersebut memberitakan Injil. Setiap hari Sabat Paulus, berbicara dalam rumah ibadah (ay. 4). Ia meyakinkan orang Yahudi dan Yunani bahwa Yesus adalah Mesias (ay. 4 dan 5).

Paulus mendapat tantangan sehingga ia pindah ke keluarga yang kedua, yaitu Titius Yustus. Ia seorang non-Yahudi, yang bersimpati pada Yudaisme di Korintus yang memberikan akomodasi kepada Paulus di gereja rumah, setelah dia diusir dari Sinagoga setempat (ay. 7). Titius Justus kemungkinan adalah warga negara Romawi. Titius Justus, seorang yang takut Tuhan yang beribadah kepada Tuhan (ay. 7), rumahnya bersebelahan dengan Sinagoga.

Ketiga, Silas dan Timotius yang datang dari Makedonia yang membuat Paulus semakin bersemangat memberitakan Injil (ay. 5).

PENUTUP

Refleksi:

Pertama, metafora gereja sebagai keluarga Allah, salah satu penekanannya pada persaudaraan itu tidak lagi bersifat hubungan biologis saja, tetapi berbasiskan iman kepada Yesus Kristus. Akwila dan Priskila serta Titius Yustus tidak memiliki hubungan biologis dengan Paulus, namun mereka menerima Paulus sebagai sesama orang percaya kepada Kristus, saudara dalam Kristus.

Banyak kisah hidup pelayan-pelayan Tuhan ketika mau ditempatkan di wilayah pelayanan tertentu tidak mengenal seorang pun sebagai keluarga di jemaat tersebut, namun setelah melayani di sana ia memiliki banyak keluarga, menjadi saudara, anak, sekaligus orang tua. Dalam jemaat, ia menemukan saudara “tidak serahim” yang sangat mengasihinya, mereka selalu ada dalam suka dan duka, yang menjadi penopang pelayanan.

Ketika menjalani masa vikariat di Klasis Pantar Barat, sebelum ke sana ada rasa takut dan kuatir karena tidak ada keluarga di sana. Namun setelah tiba di sana untuk menjalankan masa vikariat, semua warga jemaat menjadi orang tua dan saudara bagi saya. Mereka memperhatikan saat dalam sakit dan senang. Sampai saat ini saya masih menjadi bagian dari keluarga di tempat vikaris. Sampai saat ini saya masih menjadi anak Beang. Demikian juga ketika ditempatkan menjadi pelayan di salah satu jemaat di pedalaman Timor. Tuhan mengutus beberapa orang dalam jemaat menjadi keluarga yang sangat dekat. Mereka ada dalam saat susah dan senang. Tuhan menyiapkan keluarga bagi para pelayan, seperti Allah menyiapkan Akwila dan Priskila serta Titius Yustus.

Kedua, menjadi anggota keluarga yang tidak saling membebani. Keluarga memang tempat untuk bergantung namun bukan untuk menjadi beban. Ketergantungan ada batasan-batas tertentu. Keluarga di dalam Kristus adalah keluarga yang saling menanggung beban (Gal. 6:2). Beberapa orang dari jemaat bercerita bahwa mereka takut menerima pelayan karena “menjadi beban” bagi jemaat, salah satunya adalah beban keuangan.

Mengapa Paulus memberitakan Injil namun ia juga bekerja sebagai tukang tenda? Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, ia mengatakan bahwa mereka bekerja siang dan malam supaya tidak menjadi beban dalam memberitakan Injil (1 Tes. 2: 9 & 2 Tes. 3: 8,). Tidak makan roti orang dengan gratis. Paulus “tidak memanfaatkan” kesempatan untuk “makan gratis” sebagai seorang pelayan yang telah dianggap sebagai keluarga di dalam rumah. Ia menggunakan keahlian untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan agar pelayanannya tidak menjadi beban bagi orang lain.

Saya bilang kepada mereka yang “takut” menerima pelayan, para pelayan yang diutus memiliki keterampilan khusus untuk memberdayakan jemaat. Kita juga belajar dari bacaan ini bahwa seorang pelayan yang hendak diutus tidak hanya mahir memberitakan Injil, gesit melaksanakan pelayanan sakramen, tetapi memiliki keterampilan untuk memberdayakan jemaat. Keterampilan yang dimiliki oleh seorang untuk menunjang pelayanan di dalam jemaat, bukan untuk mencari keuntungan pribadi.

Ketiga, keluarga yang saling mendukung (support) dalam pelayanan. Paulus didukung oleh keluarga Akwila, Titius Yustus bahkan dengan kehadiran Timotius dan Silas. Dukungan tersebut berupa moril dan materiil. Gereja sebagai Keluarga Allah adalah gereja yang saling memberi dukungan bagi sesama saudaranya. Tidak ada saudara yang membiarkan saudaranya yang lain menderita, terusir dari rumah sendiri. Tidak ada orang tua yang senang melihat anak-anaknya bertengkar, tetapi orang tua akan senang jika melihat anak-anak saling mendukung dan memperhatikan. Kita bersaudara dalam Kristus dan Bapa adalah Allah kita, maka betapa gembiranya hati Allah, jika anak-anak-Nya hidup saling mengasihi, mendukung dalam pelayanan, namun betapa sakit hatinya Tuhan Allah, jika anak-anak bertengkar dan terusir dari dalam rumah sendiri. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *