KERUSAKAN ALAM DAN UPAYA YANG BISA DILAKUKAN

KERUSAKAN ALAM DAN UPAYA YANG BISA DILAKUKAN

Pdt. Frans Nahak

Alam dapat memberikan kenyamanan bagi manusia apabila manusia memanfaatkanya secara baik, bertanggungjawab dan melestarikan. Sebaliknya alam dapat membawa bencana bagi kehidupan manusia apabila manusia tidak bertanggungjawab dan tidak melastarikan.

Kita mengenal kerusakan alam akibat proses alam, misalnya gempa bumi, gunung meletus, badai dan angin, kerusakan ini terjadi secara alamia tanpa campur tangan manusia. Meskipun demikian manusia dapat menjadi pemicu.  Namun kita juga mengenal kerusakan alam karena akibat manusia. Kita sebutkan beberapa contoh; pencemaran udara yang merusak tanaman pertanian dan menurunya kadar kesehatan dalam tubuh manusia; pencemaran laut; pencemaran air tawar; pemanasan global penipisan ozon; penggundulan hutan; pemburuar liar; pembuangan sampah di sembatrang tempat dan pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan.

Kerusakan akaibat manusia disebabkan juga karena kebutuhan hidup yang semakin meningkat, maka masyarakat dituntut untuk berusaha lebih keras dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan perkembangan kehiduapan manusia yang memperluas teritori dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup maka tak segan manusia mengeksploitasi sumber daya alam. Penggalian sumber daya alam penebangan hutan dengan tidak memikirkan dampak terhadap lingkungan. Penggalian-penggalian dilakukan dengan teknologi moderen berdampak pada hubungan antara komponen sehingga mempengaruhi sistem dari seluruh makluk hidup.

Lingkungan hidup adalah kesatuan hidup, kesatuan ruang dengan semua bendanya, daya keadaan, dan makluk hidup termasuk manusia dam perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perilaku kehidupan manusia dan kesejahteraan manusia beserta makluk hidup lainnya.

Makluk hidup dan lingkungan berpengaruh secara timbal balik artinya bahwa makluk hidup mempengaruhi lingkungan tetapi lingkungan mempengaruhi makluk hidup. Lingkungan hanya bisa utuh atas campur tangan manusia, sebaliknya manusia bisa mempertahankan hidupnya atas dukungan lingkungan alam  karena lingkungan sebagai sumber kepenuhan hidup.

Eksistensi yang terbentuk dikarenakan adanya hubungan timbal balik antara makluk hidup dan lingkungan, yakni hubungan antar komponen yang hidup (biotic) dan tak hidup (abiotik) sehingga menghasilkan kerteraturan (sistem) yang utuh.

Bumi merupakan “ rumah “ (Yun: oikos) yang menjadi tempat kediaman (Yun: oikumene) dari seluruh makluk hidup. Secara umum permukaan bumi terdiri dari dua bagian utama yaitu daratan (30 %) dan perairan (70 %). Kesejahteraan manusia tergantung bagaimana dia mengelolah dan memanfatkan alam yang dilakukan seiring dengan perkembangan segala bidang kehidupan.

Pandangan Teologi Kristen bahwa Allahlah yang menciptakan bumi dan segala isinya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, termasuk manusia. Manusia diciptakan dengan sangat istimewa, karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Menurut gambar dan rupa Allah Manusia mempunyai hubungan khusus dengan Sang pencipta dan juga dengan ciptaan lainnya. Allah memberi tugas khusus kepada manusia dalam kitab Kejadian “Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka, beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan takluklah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Manusia adalah makhluk yang cerdas dan memiliki kemampuan tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya yang akan terus berkembang dari gaya hidup sederhana dan mengarah kepada kehidupan moderen. Hal itu terkesan kuat dalam kita Kejadian 3. Manusia memiliki keinginan untuk berkembang mau hidup sama dengan Allah.

Allah mengambil manusia dan menempatkan di taman Eden, kemudian Allah memberi perintah agar manusia mengusaha dan memilihara taman itu. Dalam kitab Kejadian “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakannya dan memilihara taman itu.

Perintah yang diberikan oleh Allah itu merupakan tanggungjawab yang dilakukan manusia secara serius sehingga tempat di mana  manusia tinggal itu memberikan kesejahteraan. Namun dalam kenyatannya taman atau tempat yang diberikan Allah demi kesejahteraan sudah tidak memberikan kesejahteraan lagi dan menjanjikan sesuatu malapetaka untuk manusia bagi masa depan. Hal ini menimbulkan satu pertanyaan: mengapa manusia dan bumi tidak lagi bersahabat dan saling melayani sebagaimana maksud dan tujuan penciptaan. Beberapa jawaban bisa kita temui:

1. manusia sebagai penerima mandat hanya mengambil tidak lagi mengusahakan dan memilihara.

2. manusia tidak lagi memberi dan memperbaiki setelah mengambil dan merusak.

3. Kesombongan dan keserakahan yang ingin menguasai bumi karena manusia salah menafsirkan mandat dan membuat diri sebagai tuan atas segala ciptaan yang lain. Manusia diberi kuasa (kabash) (Kej. 1:28). Walaupun kata “berkuasa” bisa mereduksi alam (tanah) tidak lebih dari satu “benda” atau “barang” yang manusia boleh taklukan. Namun manusia beragama salah menafsirkan sehingga berdampak pada pencemaran, pengundulan, penandusan bumi. Kabash sebenarnya diartikan pula “memiliki” sebagai mana seorang raja “memliki” dengan memimpin mengembalakan bertanggungjawab atas nasibnya. Jadi manusia berkuasa atas alam untuk memelihara dengan penuh rasa tanggungjawab.

Gereja Masehi Injili di Timor menetapkan bulan Novemver sebagai bulan lingkungan. Penetapan telah digumuli sesuai dengan iklim di mana gereja melayani. Bulan November beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur akan memasuki musim penghujan sehingga gereja tidak hanya berbicara dari mimbar baik di rumah ibadah maupun persekutuan-persekutuan beribadah lainnya, namun bersama warga melakukan aksi. Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Mewajibkan setiap jemaat agar program “tanam air” terus dilanjutkan. Harus   ada tim di Majelis Sinode atau Majelis Klasis mengawal program tersebut dan memastikan setiap jemaat memiliki beberapa titik tanam air.

2. Reboisasi yaitu berupa penanaman kembali tanaman terutama pada daerah-daerah perbukitan yang gundul. Memulai dari tanah-tanah milik gereja.

3. Pengaturan tata guna serta pola tata ruang sesuai dengan karateristik dan peruntukan lahan.

4. Pembuatan sengkedan bagi daerah-daerah pertanian yang memiliki kemiringan lahan curam yang rentang terhadap erosi.

5. Memastikan setiap jemaat ada tempat sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *