Kesaksian Gereja tentang Damai

Pdt. Nico Lumba Kaana(Menyimak pesan Dr Robert J. Suderman tentang “The Church’s Witness to Peace”)
(Oleh: Pdt. Nicolas S. E. Lumba Kaana)

Saya membaca makalah Dr Robert J. Suderman bertajuk The Church’s Witness to Peace.[1] Intinya, makalah tersebut mengajak kita untuk dengan serius memperhatikan tanggung jawab gereja sebagai saksi damai dari Allah.  Suderman mengingatkan bahwa gereja tidak selalu setia mengemban tanggung jawabnya sebagai saksi damai ditengah dunia, walaupun tanggung jawab ini bersifat sangat eksistensial, mengingat Tuhan Yesus, sang Pemilik dan Kepala gereja itu adalah Juru Damai (bandingkan Efesus 2:14-18).

Dari lembaran sejarah dunia ini kita dapat membuktikan bahwa gereja bukan saja sering gagal menjadi pendamai, malahan gereja justru menebar permusuhan, sebagai penyebab dan pelaku kekerasan. Sudderman jelas menyatakan bahwa dari sekian banyak agama yang ada di dunia, agama Kristen/gereja-lah yang paling banyak melakukan kekerasan. dengan demikian pesan dari makalah ini sederhana tetapi sangat penting, “jangan membunuh lagi.”

Abad ke 20 yang baru saja berlalu merupakan abad yang penuh dengan kekerasan, perang dan pembunuhan. Kondisi masa lalu yang seperti itu menyebabkan di awal abad 21 kehidupan di dunia begitu memprihatinkan: dunia yang tercabik-cabik oleh kekerasan, dunia yang persaudaraannya dirusakkan oleh dosa, dunia yang sedang berseru dalam keputus asaannya akan keadilan yang mendamaikan, dunia yang keagamaannya meniupkan gairah untuk tindakan yang tidak manusiawi dan kekerasan. Keadaan dunia yang seperti ini adalah tantangan bagi gereja yang merupakan saksi syalom Allah bagi dunia. Sepatutnya gereja merenungkan dan merespon komitmennya untuk memberitakan dan meneladani karya pendamaian Yesus yang anti kekerasan itu.

Keadaan dunia yang sedemikian memprihatinkan itu menuntut kita untuk tidak lagi mengulangi kesalahan masa lalu, melainkan memantapkan keyakinan kita tentang strategi non-kekerasan demi terwujudnya kehidupan yang damai di dunia, dan itu berarti diperlukan kesediaan kita untuk menderita demi integritas Injil perdamaian.

Berdasarkan ulasannya tentang tantangan di atas, maka Suderman mengajukan enam point saran untuk diperhatikan oleh kita selaku gereja saat ini:

  1. Kita bisa membuka percakapan yang cerdas di meja oikumenis untuk memantapkan komitmen kita untuk menjadi komunitas dari Yesus, sang Raja Damai.
  2. Kesaksian kita kepada dunia dinyatakan melalui kehidupan bergereja yang mencerminkan ajaran dan keteladanan Yesus. Kita harus memberi ruang bagi Kristus untuk memerintah di dalam gereja, sebagai dasar pemerintahannya atas bangsa-bangsa.
  3. Dengan komitmen untuk membenahi persekutuan gereja melalui gerakan ekumene kita memikirkan apa yang dapat dilakukan sekarang sehubungan dengan kesalahan-kesalahan gereja sepanjang abad-abad lampau. Kesalahan yang berwujud perang, kekerasan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang Kristen terhadap orang Kristen sendiri. Misalnya dalam perang antara Irlandia Utara dan Inggris, pembunuhan besar-besaran dalam Perang Dunia Kedua dimana ada 55 juta orang yang terbunuh, Perang Sipil dan perang kemerdekaan Amerika Serikat, perburuan, penyiksaan dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh gereja Katolik, gereja Reformed dan gereja Lutheran terhadap gereja Anabaptis dan Mennonit pada abad 16, peristiwa pengeboman Kosovo oleh sebagian besar negara-negara Katolik dan Protestan, Perang Korea, dan kekerasan yang terjadi di Rwanda. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa di abad ke-20 (dan sebelumnya) banyak perang, kekerasan, dan pembunuhan yang dilakukan di antara orang-orang Kristen. Dan semua kesalahan ini perlu diperbaiki.
  4. Untuk bersaksi keluar lingkungan gereja kita harus, dalam nama Kristus, berkomitmen untuk menghentikan kekerasan dan pembunuhan atas nama tanggung jawab kewarganegaraan, keamanan nasional, dan hermeneutika Alkitab. Komitmen seperti itu tidak hanya merupakan langkah strategis untuk perdamaian di dunia, melainkan terutama sebagai tanda ketaatan kita kepada Yesus, sang Raja Damai yang kita identifikasikan sebagai Tuhan dari kehidupan gerejawi dan kehidupan ekumene kita.
  5. Kita perlu berkomitmen untuk memahami Injil Yesus bukan sebagai berita yang mematikan melainkan sebagai berita kehidupan. Kita perlu saling berjanji bahwa hermeneutika Alkitab kita tidak akan membenarkan kita untuk saling membunuh.
  6. Dan dalam ketaatan kepada Raja Damai, kita sepenuhnya sadar bahwa dalam konteks kehidupan bersama antar-iman diperlukan dialog dan kerjasama dengan agama lain.

Dari ulasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pesan makalah ini sangat penting bagi gereja selaku saksi Kristus di dunia. Dialah Kristus yang mendamaikan. Secara internal perdamaian antar gereja, seperti yang disarankan oleh Suderman, akan sangat bermanfaat sebagai kesaksian gereja yang positif ke seluruh dunia. Perdamaian antar gereja juga dapat menyehatkan relasi antar gereja dan mengobati kekecewaan terhadap gereja di masa lalu. Dan sejalan dengan itu akan memperkuat komitmen gereja terhadap Alkitab, dan menegaskan bahwa damai adalah inti dari Injil. Karya Injil yang sangat diperlukan di tengah dunia yang sedang resah oleh berbagai konflik dan bencana ini adalah dalam bentuk berita tentang damai, suasana hidup damai, dan relasi-relasi yang mendamaikan.

Memahami pesan makalah ini dalam konteks pergumulan gereja di Indonesia, maka ada dua hal yang ingin saya kemukakan. Pertama, makalah ini mendorong kita untuk memeriksa pemahaman keagamaan dan corak berteologi gereja-gereja di Indonesia yang belum secara intens menjadi pendorong bagi kita untuk berelasi secara damai dengan dunia, dengan penganut agama lain dan dengan gereja yang berbeda. Pemahaman beragama dan teologi gereja yang ada justru masih memberi tempat kepada kerenggangan dan ketegangan antar penganut agama di Indonesia, dan sampai sekarang ini tetap menjadi bahaya laten bagi kerukunan dan kedamaian negeri ini. Karena itu perlu perbaikan pemahaman keagamaan dan teologi gereja menjadi pro-damai untuk membuka harapan baru menyangkut kehidupan bersama yang lebih rukun. Paling tidak agar agama tidak akan menjadi sumber konflik dan kekerasan. Kedua, makalah ini juga mendorong kita untuk lebih memberanikan diri memperjuangkan keadilan demi kedamaian. Gereja harus lebih gigih dan kreatif mengupayakan pemberdayaan bagi kaum miskin, yang jumlahnya lebih banyak dari pada kaum yang kaya dan berkuasa di negeri ini. Jika ada keadilan dan damai dalam hidup dan hati para orang miskin maka Indonesia pun menjadi damai. Memberitakan Injil di Indonesia adalah menyaksikan damai melalui perjuangan untuk keadilan bagi kaum miskin.

[1] disampaikan dalam Seminar Perdamaian yang diselenggarakan oleh Fakultas Theologia UKDW pada tanggal 29 Oktober 2010 di Kapel Duta Wacana – Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *