KHOTBAH BAPTISAN ANAK – PDT FRANS NAHAK

MEREKALAH YANG MEMPUNYAI KERJAAN ALLAH

Markus 10:13-16

Kata orang, ada tiga generasi: pertama, orang dewasa adalah tiang gereja dan bangsa masa kini. Kedua, pemuda adalah tiang gereja dan bangsa hari esok. Ketiga, anak adalah tiang gereja dan bangsa hari lusa. Anak adalah investasi masa depan harta orang tua, gereja dan bangsa.

Walaupun anak-anak adalah tiang gereja dan bangsa hari lusa, namun anak tidak memilik tempat di dalam masyarakat. Bahkan di gereja pun anak-anak dinomorduakan. Bangunan gedung gereja, fasilitas gereja tidak bersahabat dengan anak-anak dan tidak ada ruangan khusus bagi mereka. Jika ibadah sekolah minggu setelah kebaktian orang dewasa dan saat itu ada rapat menggunakan gedung gereja, maka anak-anak diliburkan. Dalam keluarga, jika ada tamu anak-anak tempatnya di belakang. Anak-anak tidak izinkan makan semeja bersama orang dewasa. Contoh-contoh ini menunjukan bahwa anak dinomorduakan baik di gereja, keluarga dan masyarakat. Mengapa anak-anak dinomorduakan? Bagi kebanyakan orang, anak-anak menjadi pengganggu, tidak menghasilkan, dianggap tidak mengerti apa-apa.

Sesuai dengan bacaan ini, perikop Yesus memberkati anak-anak ditempatkan di tengah-tengah Perceraian dan Orang Kaya Sukar Masuk Kerajaan Allah. Ada pesan yang hendak penulis sampaikan kepada pembaca, bahwa perceraian karena ada perkawinan (berumah tangga), rumah tangga yang di dalamnya ada anak-anak. Hal masuk dalam Kerjaan Allah seperti menyambut anak kecil (ayat 14-15).

Salah satu kebiasaan orang-orang tua Yahudi, jika ada seorang rabi yang datang di kampung tersebut orang tua akan membawa anak-anak untuk rabi tersebut meletakan tangan di atas kepala sambil memohon berkat kepada anak-anak. Orang Israel sangat teliti dan serius memperhatikan kehidupan rohani dan pendidikan agama anak-anak mereka. Bunyi pepatah tua yang mereka tahu bahwa bumi disangga oleh anak-anak. Anak-anak lebih berharga dari pada persembahan. Anak pada waktu umur enam tahun orang tua sudah menemani untuk bersekolah. Belajar membaca diberi gulungan kitab yang berisi ayat-ayat suci untuk dihafal. Orang tua menemani mereka belajar sampai umur dua belas tahun dan akan menjadi “anak hukum Taurat.“ Jadi orang-orang tua Yahudi sangat menaruh perhatian serius bagi pertumbuhan rohani dan pendidikan anak-anak mereka. Walapun demikian di kalangan masyarakat Yahudi anak tidak diperhitungkan, mereka gampang dieksploitasi dan menuntut perhatian serius dari orang-orang tua.

Kita memperhatikan bacaan firman Tuhan ini, bahwa orang-orang tua membawa anak-anak agar Yesus meletakan tangan kepada anak-anak. Namun murid-murid memarahi orang-orang tua tersebut. Melihat sikap murid-murid-Nya, Yesus marah dan berkata kepada mereka: “biarkan anak-anak itu datang kepadaku, jangan menghalang-halangi mereka…..”. Kata menghalang-halangi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya melintang yang menunjuk kepada tiang yang rebah menghalang di tengah jalan. Menjadi penghalang bagi orang yang hendak berjalan. Murid-murid serperti tiang yang menghalang jalan anak-anak datang kepada Tuhan. Bagi Yesus anak-anaklah yang empunya kerajaan Allah. Kerjaan Allah sesuatu yang akan datang (masa depan) yang gilang gemilang. Merekah yang memiliki masa depan. Orang tua memiliki masa lalu dan masa kini namun anak-anaklah yang memilik masa depan.

Mengapa murid-murid menghalang-halangi anak datang kepada Yesus? Bagi murid-murid anak-anak adalah pengganggu. Anak-anak tidak ada harganya di dalam masyarakat. Namun Yesus menyambut anak-anak, Ia ingin meluruskan status sosial yang berlaku pada zaman itu dengan menegur murid-murid agar tidak melarang mereka datang kepada-Nya. Yesus menempatkan martabat anak-anak kecil setara dengan orang dewasa. Yesus menyabut mereka dengan memeluk mereka menunjukan kasih sayang dan perhatian Yesus kepada anak-anak.

Kita membawa anak kita untuk dibaptiskan berarti menyerahkan mereka kepada Tuhan untuk dimeteraikan sebagai anak-anak perjanjian. Tugas orang tua untuk memperhatikan anak-anak tidak hanya saat dibawah untuk dibaptiskan, tetapi pertumbuhan rohani, jasmani dan pendidikan mereka diperhatikan.

Dari bacaan saat ini kita merenungkan beberapa hal:

Pertama, kita membawa anak untuk menyerahkan kepada Tuhan maka mereka menjadi anak-anak kepunyaan Allah, di mana mereka memiliki derajat yang sama seperti orang dewasa. Mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh perhatian dan pelayanan.

Kedua, tanggungjawab orang tua membawa anak kepada Tuhan tidak hanya saat dibaptiskan, tetapi sekolah minggu sampai kepada mereka dewasa secara iman. Masa depan anak-anak di tangan Tuhan, bukan berarti orang tua lepas tangan karena tangan Tuhan menolong anak-anak melalui tangan orang tua.

Ketiga, Yesus menyambut anak-anak dengan kasih sayang maka dengan demikan orang tua harus mendidik dan membimbing mereka dengan kasih sayang.

Keempat, anak-anak adalah masa depan gereja dan bangsa. Mereka adalah generasi masa kita, jadikanlah mereka generasi emas dengan memperkenalkan mereka kepada Tuhan sejak dini, dan memperhatikan masa depan mereka. Masa depan adalah kerajaan yang tersipan bagi mereka.

Kelima, janganlah kita yang menjadi penghalang bagi anak-anak datang kepada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *