KOMUNIKASI YANG MELAHIRKAN SOLUSI – 2 RAJA-RAJA 4:1-7

KOMUNIKASI YANG MELAHIRKAN SOLUSI 

2 RAJA-RAJA 4:1-7

Dalam refleksi MS periode 2020 s/d 2023, ada dua bencana yang cukup mengguncang gereja:

Pertama, pandemi Covid -19. Kebijakan social distancing menyebabkan seluruh aktifitas masyarakat dibatasi, termasuk berhentinya kegiatan di sekolah, kantor, dan fasilitas masyarakat lainnya. Ibadah- ibadah di gedung gereja dipindahkan ke rumah. Banyaknya korban meninggal membuat gereja sungguh-sungguh bergumul dengan dampak bencana Covid 19. Di masa awal Covid, kita juga mengalami ancaman kekurangan sumber daya finansial. Kita kuatir karena jika berbakti di rumah, kita akan kekurangan dana untuk pembiayaan pelayanan yang berasal dari persembahan jemaat. Di tahun 2021, GMIT bersama seluruh peradaban dunia terus berjuang mengatasi pandemi dan dampak-dampaknya. Namun Tuhan menolong gereja melewati masa krisis. Gereja tetap teguh dalam goncangan itu

Kedua, seroja. Belum selesai pandemi covid-19 GMIT menghadapi dampak badai Seroja yang meluluhlantakkan banyak hal dalam pelayanan GMIT. Banyak jemaat kehilangan anggotanya, ada pendeta yang menjadi korban bersama Puteri dan keponakannya, sejumlah gedung gereja dan pastor rata tanah. Anggota-anggota jemaat kehilangan harta bendanya. Namun Tuhan membuka keran berkatNya.

Selama masa pandemi dan tanggap Seroja, GMIT mendapat karunia Allah yang luar biasa untuk terus menyaksikan pada dunia tentang pemeliharaan Allah yang tiada berhenti. Gereja menjadi alat dalam tangan Allah untuk menyaksikan karya Roh Kudus yang teguh di tengah berbagai goncangan dan bencana kehidupan.

Ketiga, kini perang Rusia dan Ukraina yang berdampak pada perekonomian global. Harga bahan pokok melonjak di pasaran. Misalnya, harga beras yang biasa dibeli dengan harga Rp . 10.000 di pasar kini Rp . 15.000, dll.

Akibat dari keterbatasan pasokan barang karena rantai pasok terhambat, banyak negara yang justru melakukan pembatasan ekspor. Setiap negara ingin mengutamakan pemenuhan pasokan domestiknya di tengah carut marut rantai pasok. Akibatnya, supply bahan baku impor untuk industri terancam langka.

Di tengah – tengah harga barang melonjak GMIT harus melakukan persidangan sinode sesuai amanat Sinode. Sidang ini penting karena salah satu agendanya menentukan pelayanan GMIT satu periode ke depan (HKUP). Tuhan baik. Ia menyediakan berkatNya. Laporan panitia persidangan bahwa sidang ini menelan biaya milyar rupiah. Dari mana GMIT mendapat uang sebanyak itu untuk melaksanakan persidangan? Tuhan baik, Ia menyediakan berkatNya. Ia mencukupkan, bukan karena dari kelebihan tetapi kekurangan.

Bacaan Alkitab hari Minggu, terambil dari 2 Raja-raja 4:1-7, tentang Tuhan menolong kesulitan ekonomi seorang janda melalui nabi Elisa. Situasi politik-ekonomi pada waktu itu membuat rakyat jelata sangat menderita. Rakyat harus berhutang dan menjual harta milik untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Nabi Elisa hadir dalam konteks yang demikian. Di saat tak ada jalan hidup bagi mereka yang tak berdaya. Ia hadir memberikan solusi serta menunjukkan jalan hidup bagi mereka. Mengutip khotbah Pdt. Dina Dethan, saat penutupan sidang sinode di aula serba guna Sabu Raijua (20/10), bahwa setiap pemimpin hadir (terpilih)dalam konteksnya. Majelis Sinode yang terpilih dalam konteks terkini.

Masalah yang dihadapi saat ini adalah harga bahan pokok yang melonjak dan krisis lingkungan, human trafficking, kekerasan terhadap ibu dan anak, dll.

Dari teks ini kita belajar:

Pertama, Elisa hadir tidak langsung menawarkan solusi tetapi membangun dialog – penyadaran dan pemberdayaan. Tema kita adalah membangun komunikasi yang melahirkan solusi. Kata

Elisa kepada janda itu: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apa pun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak” (ay.2).

Pertanyaan Elisa, apa yang kau punya di rumah, mau menyadarkan perempuan itu dari keadaannya. Apa yang dimiliki oleh perempuan itu. Mukjizat tidak turun dari langit. Mukjizat terjadi dari kekurangan. Perempuan itu berkata bahwa ia tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah buli-buli, tetapi menarik, apa yang ada pada perempuan itu yang digunakan.

Seperti konteks yang telah disebutkan. Gereja hadir berdialog dengan jemaat, menyadarkan akan apa yang ada pada mereka untuk memberdayakan.

Sebuah cth. Ketika menjadi pendeta di pedalaman Timor, saya hendak menanam sayur-sayuran di samping Pastori, mereka mengatakan “pak pendeta, tanam tidak hidup.” Namun kenyataannya berbeda. Mereka datang mengambil sayur di halaman Pastori, dll.

Saling tolong menolong, kerja sama adalah salah satu nilai yang kita peroleh dari teks ini. Elisa, menyuruh perempuan itu meminjam bejana dari tetangga.

Bejana adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada wadah atau tempat untuk menampung atau menyimpan sesuatu. Dalam Alkitab bejana memiliki berbagai makna……

Menariknya adalah ketika perempuan itu menaati apa yang dikatakan Elisa mukjizat itu terjadi. Mukjizat itu terjadi karena ketaatan. Ketaatan melakukan kehendak Tuhan dan memberdayakan apa yang ada.

Gereja bersama warga jemaat menyiapkan wadah, lumbung, tempat, sumber daya untuk mengelola berkat yang ada. Kini saatnya gereja membangun lumbung, tempat persediaan makanan di jemaat -jemaat. Hal itu salah satu cara untuk menghadapi krisis ekonomi dan lingkungan. Kita percaya bahwa berkat Tuhan ada tempat di mana kita berusaha.

Kedua, kita berada dalam bulan keluarga. Kita belajar dari cerita ini, bahwa Tuhan tidak membiarkan anak-anak kelaparan. Perempuan ini adalah istri seorang nabi. Tuhan mempunyai banyak cara untuk menolong anak-anakNya. Ia mengutus Elisa hadir untuk menolong keluarga ini. Menyadarkan keluarga untuk menggunakan apa yang ada, menyiapkan wadah tempat untuk mengelola berkat Tuhan. Kita belajar dari kesaksian gereja kita melalui laporan MS periode 2020 s/d 2023.

Ketiga, kita belajar bahwa masalah ekonomi keluarga, membuat banyak anak-anak kita “dijual” (human trafficking ). Banyak anak-anak kita warga GMIT yang menjadi korban. Kita belajar dari cerita ini, anak dari si janda hendak diambil oleh penagih hutang (ay. 1). Elisa hadir membawa solusi. Gereja adalah Elisa. Siapa gereja? Anda dan saya.

Keempat, Tuhan memberikan sesuai dengan kebutuhan kita bukan keinginan. Setelah bejana penuh minyak itu pun berhenti. Lalu kata Elisa, “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *