KRISTUS DASAR PENCIPTAAN ALAM SEMESTA – Ibrani 1:1-4

KRISTUS DASAR PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Ibrani 1:1-4

PENGANTAR

Dalam teori etika ekologi ada beberapa pandangan tentang alam, misalnya pandangan antroposentris, biosentris, ekosentris, teosentris, dst.. Untuk kepentingan renungan ini, kita hanya menyebutkan dua pandangan, yakni antroposentris dan teosentris. Pandangan antroposentris merupakan paradigma yang melihat manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta ini. Segala kebutuhan dan urusan manusia dianggap sesuatu yang paling penting. Manusia berkuasa, “tuhan” atas alam semesta.

Pandangan teosentris memandang Allah sebagai pusat dari alam semesta. Nilai dan ciptaan lainnya hanya memiliki nilai dalam lingkung ciptaan Allah. Borrong mengatakan bahwa seluruh ciptaan yang ada berada dalam suatu hubungan yang harmonis dan berpusat pada Allah. Alam merupakan ciptaan yang baik dan juga telah dikuduskan di dalam penebusan Kristus serta tetap berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan. Manusia merupakan bagian dari alam. Manusia dibentuk dari alam, yaitu tanah (Kej. 2:7).

Di minggu terakhir bulan lingkungan tema renungan kita adalah Kristus adalah Dasar Pencipta Alam Semesta

PEMBAHASAN TEKS

Surat Ibrani ditujukan kepada orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Ada beberapa alasan mengapa surat ini ditulis. Dalam renungan ini kita hanya mencatat dua hal:

Pertama, Ada ajaran yang muncul dari kelompok Kristen Ebionit. Kaum ebionit adalah orang-orang Kristen-Yahudi yang setia pada banyak tradisi purba dari gereja mula-mula tetapi di bawah pengaruh Yahudi dan Gnostik. Nama “Ebionit”, berarti “yang miskin”, adalah nama yang mula-mula diberikan kepada Gereja purba di Yerusalem (band. Gal. 2:10; Rom. 15:26). Kemudian ajaran ini dikembangkan oleh golongan Monarkism Dinamis pada abad ke-2 dan abad ke-3.

Kelompok ini menganut pandangan Adopsionism yang mengajarkan bahwa Kristus sebagai manusia yang diangkat sebagai anak Allah, tatkala Yesus dibaptis, Roh Kudus turun atas diri-Nya dan Allah mengatakan “Inilah Putera yang kukasihi,” pada saat itu Kristus menjadi anak angkat Allah. Kuasa Tuhan ada pada diri-Nya hingga saat Ia tersalib dan berseru “Eli, Eli Lamasabatani,” maka kuasa Allah telah meninggalkan diri-Nya, karena Tuhan tidak dapat disalib. Yesus menjadi Anak Allah dalam dunia, kuasa yang Ia dapat ketika dibaptis telah lenyap tatkala Ia disalib. Beberapa ayat dalam Alkitab dikutip seperti dalam (Maz. 2:7; Yes. 42:1; Mrk. 1:11), dan dianggap sebagai formula landasan paham Adopsionisme. Oleh karena itu, Yesus diadopsi oleh Allah dan dipersatukan dengan Roh Allah. Yesus diangkat menuju tingkat Ilahi sebagai Anak Allah. Setelah itu, Yesus disembah sebagai Tuhan.

Kedua, ada pandangan bahwa Musa lebih tinggi dari Yesus. Orang Yahudi sangat mengagunkan Musa dan dibandingkan dengan Yesus Kristus. Sehingga penulis surat Ibrani mengatakan bahwa Musa memang setia sebagai seorang pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang diberitakan, tetapi Yesus Kristus adalah Anak Allah yang mengepalai rumah-Nya yakni umat-Nya. Yesus Kristus statusnya sebagai Anak (Ibr 1:2), sedangkan Musa memiliki status sebagai hamba. Istilah “Anak’ di sini tidak mempunyai arti harafiah (yaitu kekeluargaan). Sedangkan hamba bukan termasuk keluarga. Bukan hanya itu saja, Yesus dijadikan sebagai pewaris dari segala yang ada (Ibr 1:2).

Penulis memberikan alasan teologis untuk menjawab kedua pandangan tersebut. Beberapa ahli Perjanjian Baru berpendapat bahwa Ibrani 1:1-4 merupakan sebuah pengakuan iman daripada jemaat mula-mula, dan pengakuan ini disebut sebagai hymne.

Pertama, dalam PL Allah berbicara lewat nabi-nabi-Nya, dan di masa PB Allah berbicara atau berfirman lewat Yesus Kristus. Allah menggunakan model komunikasi yang berbeda, bukan berarti penyataan dalam PL yang tidak mulia melainkan penyataan yang mulia tetapi tidak sempurna. Yang sempurna melalui Yesus Kristus. Penyataan Allah pada zaman dahulu dan telah disempurnakan melalui Yesus Kristus. Penyataan itu mempunyai kesinambungan. Sebab Yesus Kristus adalah pemilik segala sesuatu, Dia adalah pewaris semua yang ada, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, dan di bawah bumi. Dia juga yang menciptakan semuanya itu, dan Dia sendiri yang memberi kehidupan.

Di dalam PL memakai tiga kata untuk menunjuk nabi, yaitu nabhi, ro’eh, dan chozeh. Artinya dari kata nabhi tidaklah diketahui dengan pasti, tetapi terbukti dari ayat-ayat seperti (Kel. 7:1; Ul. 18:18) bahwa kata itu menunjuk arti seorang yang datang dengan sebuah berita dari Allah kepada umat-Nya.

Kedua, Yesus Kristus, Tuhan, atas seluruh kosmos, termasuk kuasa-kuasa supranatural yang dianggap menguasai kehidupan dan nasib manusia. Segala sesuatu di dalam dunia ini memperoleh eksistensinya melalui karya Allah, kreatif Allah di dalam Kristus. Dalam Kejadian 1 kita membaca bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan firman (maka berfirmanlah Allah jadilah…….). Firman Allah itu menjadi manusia di dalam Yesus Kristus (Yoh. 1:1-3).

Di mana segala sesuatu yang ada di bumi dan ada di surga, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, semuanya tanpa terkecuali diciptakan di dalam Dia, melalui Dia, dan di dalam Dia. Di sini terlihat dengan jelas fungsi atau peran agensi Kristus di dalam seluruh proses penciptaan dan pemeliharaan (keberlangsungan), sekaligus Ia menjadi tujuan (akhir) semua ciptaan. Yesus Kristus dalam ayat 2 “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” Tertuang dalam Kitab Yohanes 1:3 “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada seorang pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”. Sedangkan seorang nabi (Musa) hanya seorang manusia ciptaan, yang hidupnya bergantung penuh kepada sang pencipta.

Yesus Kristus juga digambarkan sebagai ahli bangunan dan Musa digambarkan sebagai bangunannya (Ibr 3:3). Ini jelas penggambaran bahwa Yesus Kristus pencipta dan nabi adalah ciptaan dari pencipta.

Ketiga, Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah. Yesus Kristus juga disebut sebagai cahaya wujud Allah dan gambar Allah (Ibr 1:3). Dia merupakan cerminan kemuliaan yang bersifat kekal sedangkan nabi memancarkan cahaya kemuliaan yang bersifat sementara. Yesus Kristus memberikan terang bagi dunia ini sehingga umat-Nya tidak hidup di dalam kegelapan. Semua kehidupan ada di dalam genggaman tangan-Nya. Dialah yang mengatur segalanya, dan Ia berkuasa atas mereka.

Bahkan Dialah yang dapat menyelamatkan manusia yang berdosa. Dia adalah Allah yang penuh kasih dan keadilan berinisiatif sendiri untuk menyelamatkan manusia dengan dengan kematian di kayu salib untuk pendamaian dan penyucian dosa manusia.

PENUTUP

Renungan:

Pengakuan orang Kristen bahwa Yesus Kristus adalah dasar penciptaan merupakan pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Raja alam semesta (Minggu Kristus Raja).

Pengakuan tersebut seharusnya membuat manusia tidak merasa superior, yakni “tuhan” bagi ciptaan yang lainnya. Ketika manusia merasa bahwa ia berkuasa di atas alam, maka dengan sesuka hati dan nafsunya untuk merusak alam. Mahatma Gandi mengatakan bahwa isi alam bisa mencukupi kebutuhan manusia tetapi alam tidak cukup memenuhi kerakusan manusia. Pengakuan  tentang Kristus adalah Raja, maka menekankan aspek kehambaan manusia di bumi ciptaan-Nya. Sikap hamba adalah melayani bukan menjadi tuan. Ia mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuannya.

Sang Raja, Kristus, dalam penciptaan telah meletakan dasar ciptaan. Kejadian 1:31 menyatakan bahwa setelah Allah selesai penciptaan, Ia melihat “sungguh amat baik”. Setelah itu Ia menciptakan manusia untuk mengusahakan dan merawat (Kej. 2:15).

Kita adalah hamba yang bekerja di dalam rumah (Bumi ini) Tuan kita, yaitu Allah, sesuaikan dengan aturan yang berlaku dalam rumah tersebut. Apa aturannya dalam penciptaan? Kejadian 1 memberi tahu kepada kita bahwa Allah menciptakan dalam keteraturan, ketertiban. Bumi yang kacau balau ditata dan diatur dengan sangat baik.

Tidak ada hamba yang bekerja semaunya, merubah dan merusak aturan dalam rumah tuannya. Kerusakan alam karena manusia merasa berkuasa atas alam semesta. Ia dengan sesuka hatinya mengelola alam.

Pertanyaan adalah: bagaimana selama ini sikap kita terhadap alam, seperti seorang hamba atau tuan? Apakah kita membangun terus di atas dasar ciptaan? Jika kita merusak alam sama dengan kita merusak dasar yang telah diletakan dalam penciptaan. Jika kita menebang pohon sembarangan, membakar hutan, cara bertani yang tidak ramah terhadap tanah (menggunakan pestisida) membuang sampah di laut, dst., maka kita bersikap seperti Tuhan. Manusia memberhalakan dirinya, itu adalah dosa yang sangat menjijikan. Bertobatlah!.

Alam semesta mencerminkan kemuliaan Allah. Di dalam alam kita melihat gambar Allah. Seorang kawan saya dari pulau Jawa datang di Timor lalu ke Fatumnasi dan melihat keindahan alam, cagar alam, lalu berkata, “wah, sorga ini!”. Ketika ia melanjutkan perjalanan ke Fatukopa, pada waktu itu bulan Maret, hampir pagi kami ke sana, kabut mengelilingi lereng itu dan bukit batu hanya terlihat dataran di atas, dia berkata, “negeri di atas langit, Tuhan maha dasyat!”. Keindahan alam merupakan gambar Allah.

Bukan hanya itu saja Alkitab mengabarkan bahwa Allah seperti seorang manusia yang berjalan-jalan di taman (Kej. 3:8). Allah juga sebagai seorang panjunan. Allah sebagai seorang petani menyemburkan tanah, berjalan-jalan di kebun sehingga jejak kaki-Nya meninggalkan kesuburan (Maz. 65:10-13). Tuhan Allah sebagai seorang peternak yang keluar dari kediaman untuk memberi makan dari tangan-Nya(Maz. 147:8-9).

Alam semesta menjadi takhta Allah. Kata Matthew Fox, “biarlah Allah betah bertakhta di alam, sehingga doa Yesus tergenapi datanglah kerajaan-Mu seperti di bumi dan di sorga.” Yesus adalah dasar penciptaan dan dia telah meletakan dasar penciptaan dengan keagungan-Nya. Mari kita merawat alam kita.

Kristus cahaya kemuliaan Allah. Suku-suku di pedalaman Timor, misalnya suku Tetun, melihat alam semesta penuh dengan rahasia dianggap memiliki daya-daya rahasia yang melampaui kemampuan manusia. Daya atau kekuatan-kekuatan itu bisa mengancam manusia jika manusia melanggar kesepakatan yang ada. Juga suku Dawan, percaya bahwa hutan itu adalah tempat kegelapan berada. Ada banyak makhluk halus dan banyak binatang buas di sana.

Dari bacaan ini kita belajar terang Kristus telah menyinari alam semesta maka kegelapan yang seperti dipahami oleh suku-suku telah diterangi oleh Kristus.

Fox yang mengatakan bahwa pada inkarnasi Kristus, kosmos dikaruniai keilahian oleh Allah (cosmic Christ). Oleh karena itu kita mengelola alam dengan penuh rasa hormat dan syukur kepada Sang Pencipta.

Kita mengelola dalam terang cahaya Kristus. Maka  sikap etis kepada manusia untuk tidak melakukan penebangan hutan sembarangan, pencurian, pencemaran laut, dll, karena segala sesuatu kita lakukan tidak tersembunyi di hadapan Sang Pencipta. Amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *