KUALIFIKASI SEORANG PELAYAN

Foto tahun 2018 pawai Paskah Klasis Amanuban Timur

Foto : Pawai Paskah tahun 2018

KUALIFIKASI SEORANG PELAYAN

Seorang pemuda ikut tes tentara. Dia telah melewati berbagai tahapan tes dengan baik. Namun sampai tahap yang terakhir dia dinyatakan tidak lulus. Ia langsung menghadap panitia.

Pemuda : “Pak, kenapa saya tidak lulus? Padahal dari awal saya mengikuti semuanya dengan baik?”

Komandan :”Coba buka mulut!” Kemudian Pemuda ini buka mulutnya.

“Saya foto supaya anda lihat,” kata komandan ini. Kemudian komondan mengarahkan kamera ke mulut si pemuda ini. “Lihat, gigi rahangmu ompong,” ujar komondan sambil menunjuk gambar kepada si pemuda.

Pemuda : “Emang perang itu baku tembak atau baku gigit?”

Komandan :”ehmmmm…?”

Seseorang dipercayai memikul satu tugas pasti ada kualifikasinya. Bukan asal tunjuk.

Rerefleksi kami akan diambil dari 1 Timotius 3:1-7. Surat ini merupakan surat Pastoral Paulus kepada Timotius yang masih sangat muda. Timotius yang masih sangat muda sebagai seorang pelayan jemaat diperhadapkan dengan banyak masalah. Ada ajaran sesat, aturan-aturan, etika dalam berjemaat, dst.

Ada beberapa catatan.

Pertama, Pelayanan bukan diterima sebagai sesuatu yang memberatkan tapi pekerjaan yang menyenangkan yang penuh sukacita. Pelayanan harus diterima didasarkan pada kerinduan yang sungguh-sungguh bukan sekedar sebuah tugas. Paulus menyebut jabatan penilik jemaat sebagai pekerjaan yang indah. Pelayanan itu sesuatu yang indah dan menyenangkan apabila orang yang mengerjakan sungguh menyadari itu sebuah kepercayaan dan hak istimewa yang luar biasa, yang hanya dapat diterima karena anugerah Tuhan. Sungguh indah kita dipercayakan menjadi duta-duta Kristus. Dalam 1 Tim. 1:12 Paulus bilang begini, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku”. Ayat 13 & 14 merupakan alasan mengapa ia begitu bersyukur karena kepercayaan Tuhan. “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.

Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus”.

Kedua, kualifikasi seorang pelayan menurut bacaan ini.

Tak bercacat, suami dari satu Istri, dapat menahan diri, bijak sana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar, bukan peminum, bukan pemarah tapi peramah, pendamai, bukan hamba uang, kepala keluarga yang baik, dewasa rohani dan nama baik.

Ketiga, kualifikasi kita dapat kategorikan sbb;

a) Morality

Tak bercacat = tak bercela, berkaitan dengan Kekudusan hidup. Bukan peminum berkaitan dengan kebiasaan minum sopi. Bukan hamba uang = cinta uang, berkaitan dengan cara pandang terhadap uang – budaya konsumerisme.

b) Character

Dapat menahan diri = Penguasa diri

Bijaksana = hikmat dalam mengambil keputusan. Sopan = hidup teratur. Suka memberi tumpangan, berkaitan dengan kemurahan hati dan keterbukaan terhadap sesama. Pemarah vs Peramah bukan orang yang suka memukul/menggertak. Pendamai berkaitan dengan sikap tenang, kepala dingin dalam menghadapi pertentangan/perselisihan. Dewasa rohani, tidak sombong rohani.

c) Ability

Cakap mengajar orang lain, bukan hanya berbicara tentang kemampuan berbicara di depan umum tapi keterampilan hidup.

d) Relationship

Suami dari satu Istri/istri dari satu suami. Bertanggung jawab terhadap rumah tangganya, menghormati isteri dan menganggap istri atau suami seperti dirinya sendiri. Setia kepadanya, dst. Kepala keluarga yang baik, menyangkut kepemimpinan dalam rumah tangga dan berdampak pada kepemimpinan yang lebih luas, rayon, gereja, dst. Nama baik menyangkut hubungan dengan orang lain (FN).

(Bahan diskusi bersama Majelis jemaat Paulus Taebone).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *