MANUSIA DAN TANAH

MANUSIA DAN TANAH

Pdt. Frans Nahak

Beberapa hari yang lalu ada yang datang di rumah Pastori menjual tanah kepada saya. “tanah kelas satu, pak pendeta, di pinggir jalan umum,” katanya. Lalu saya bilang kepada mereka bahwa saya belum ada uang untuk beli.

Bulan November setiap minggu berbicara tentang lingkungan. Salah satunya adalah tanah. Jangan jual tanah. Mengapa?

Hubungan manusia dan tanah adalah tanah sebagai ibu bagi manusia, tanah melahirkan manusia, memangku manusia, merawat  manusia dan akhirnya manusia mati dan tanah menerima kembali.

Manusia harus ingat bahwa, tampa tanah manusia tidak ada tampa manusia tanah tetap ada. Dari tanahlah kita hidup, manusia diciptakan dari tanah dan tanah memberi kita makan. Perlu juga kita ingat bahwa manusia terus bertambah (beranak cucu) tetapi tanah tidak bertambah. Manusia melahirkan manusia tetapi tidak melahirkan tanah.

Orang Timor suku tertentu memakai dua kata untuk menyebut tanah, yaitu afu dan nain/naijan. Kata afu (tanah) berhubungan dengan afa, lemak, lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Sedangkan konsep kedua, nain memiliki akar kata yang dekat dengan kata nai (leluhur) nai (periuk) dan nain (kerabat). Dalam pandangan orang Timor, tanah, leluhur, periuk dan kerabat saling berhungan satu dengan yang lain. Tanah adalah warisan nenek moyang, milik leluhur yang diberikan kepada keturunan mereka dari generasi ke generasi.

Mengacu pada pengertian kedua sebagai nai, periuk, bagi kominitas. Tanah adalah tempat kita menimba makanan untuk dibagi kepada seluruh anggota. Tanah adalah periuk kehidupan, tempat kita mengelola hidup. Di atas tanah manusia bergumul untuk hidup. Serampak dengan itu tanah adalah kerabat manusia (nain). Konsep ini mau menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari alam. Manusia bukanlah tuan atas alam, tetapi adalah saudaranya. Hubungan antara manusia dengan tanah, bagi orang Timor bukanlah relasi hirarkis-dominatif, tetapi mutual-equalis. Tanah memilihara manusia, namun manusiapun harus memilihara tanah. Kesejateraan manusia ditentukan oleh kesejahteraan tanah di atas mana manusia hidup (Dr. Mery L. Y Kolimon: Teologi Ramah Tanah di Timor).

Cerita penciptaan menekankan dua segi hubungan dunia dengan Allah dan manusia. Pada satu pihak, Allah sebagai Pencipta adalah Tuhan dan pemilik terakhir segala sesuatu yang diciptakan. Karena itu setiap klaim pemilik apapun oleh manusia (secara bersama-perorangan) ditempatkan di bawah pemilikan Allah yang menjadi sumbernya.

Manusia sendiri adalah bagian dari ciptaan Allah yang tidak mempunyai hak milik yang mutlak atas ciptaan yang lain. Manusia diciptakan maka ia tahu bahwa semua yang ada bukan miliknya. Salah satu rencana Allah menciptakan manusia dalam rupa dan gambar-Nya supaya kepada manusia dipercayakan kuasan untuk memilihara tanah, merawat, dan mengolah untuk kebutuhan (Kej. 1 : 26, bdk. 2 : 15).

Dalam konteks penguasaan atas bumi yang diberikan oleh Tuhan maka hak milik bumi dan sumber-sumbernya oleh manusia secara teologis dan secara moral adalah sah. Manusia hanya diberi hak yang sah untuk kelola atau hak pakai oleh Allah sebagai ciptaan.

Kebutuhan manusia misalnya makan, minum, pakaian, perumahan dan semua kebutuhan tergantung pada alam. Barang siapa yang rajin mengurus tanah hidup tercukupi karena alam mampu memberi kecukupan. Namun datang para penjajah memperkenalkan uang pajak, kemudian datang juga pasar menjual sesuatu yang tidak ada di alam, sehingga muncul rasa kurang dan mengukur orang dengan uang yang dimiliki. Akibatnya manusia tidak mau lagi bertani, mengurus tanah. Manusia memandang tanah itu kotor yang perlu dihindari. Karena kotor maka dianggap bertani itu pekerjaan yang rendah, tidak bermartabat.

Kita harus mengakui bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor namun salah satunya adalah kapitalisme global.

Akibatnya anak-anak zaman sekarang tidak mau menjadi petani. Pekerjaan yang bermartabat ialah PNS, Polisi, dll. Atau dengan kata lain pekerjaan yang terhormat duduk di belakang meja.

Imajinasi masyarakat tentang kesejahateraan pun sedang berubah. Imajinasi kesejahteraan tentang sosial-ekonomi yang berkait erat dengan tanah dan sumber daya alam lokal digantikan kini oleh uang dan pasar kerja di luar komunitas. Bertani di kampung di pandang lebih rendah gengsinya dari pada menjadi buruh di luar daerah, apalagi di luar negeri (Dr. Mery L. Y. Kolimon. Teologi Ramah Tanah di Timor)

Di dalam Alkitab khususnya Perjanjian Lama kita menemukan bahwa pekerjaan bapak-bapak leluhur Israel adalah bertani dan gembala, misalnya pada masa prasejarah Adam dan Kain seorang petani, Habel seorang gembala, dll.

Pada masa sejarah, Abraham dan Lot memiliki banyak ternak, Daud seorang gembala, dll. Mereka hidup dengan mengurus tanah dan hidup mereka cukup bahkan banyak harta.

Berarti bertani bukan pekerjaan yang rendah, pekerjaan sebagai petani bekerjaan yang terhormat. Siapa yang memandang rendah hasil tanah memandang rendah Tuhan.

Segala kekayaan manusia pada dasarnya bergantung pada apa yang telah dipercayakan oleh Allah kepada manusia di dalam lapisan kerak bumi yang berkelimphan. Pada akhirnya segala kerumitan ilmu ekonomi berasal dari apa yang tumbuh, hidup atau digali dari tanah.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *