MEMENUHI PANGGILAN UNTUK MENJADI BERKAT

MEMENUHI PANGGILAN UNTUK MENJADI BERKAT

KEJADIAN 12:1-9

PENGANTAR

Pada saat memilih studi di Fakultas Teologia UKAW Kupang, setiap calon mahasiswa harus melewati beberapa tes, salah satunya ialah wawancara. Saya masih ingat salah satu pertanyaan, yaitu mengapa memilih masuk di Fakultas Teologia? Ada beberapa jawaban dari calon-calon mahasiswa. Ada yang mengatakan bahwa dipanggil oleh Tuhan. Mau melayani Tuhan. Ada juga yang mengaku anak nazar, dst. Menarik adalah ketika seorang calon mahasiswa Fakultas Teologi mengatakan bahwa “dipanggil Tuhan”. Karena itu akan memunculkan pertanyaan lanjutan: kapan anda mendengar suara Tuhan memanggil anda? Apakah melayani Tuhan hanya sebagai pendeta? dst. Jawaban dari para mahasiswa adalah jawaban Iman karena “merasa terpanggil” baik secara pribadi maupun keluarga yang mendukung anak untuk menjadi belajar di Fakultas Teologi.

Panggilan tidak jatuh sama dengan keinginan diri sendiri maupun cita-cita pribadi, tetapi betul-betul karena pemahaman Alkitab yang menyingkapkan panggilan Allah. Bekerja karena demi panggilan Allah tidak memberi tempat kepada interes-interes, kepada imbalan besar, apalagi profit. Menurut Pdt. Dr. Benyamin Fobia (alm.), “perjumpaan seorang pendeta yang makin intensif dengan pemeran-pemeran profesi yang lain (interprofessional relations), sering mengecoh seorang pendeta sehingga menafsirkan perannya secara keliru. Pemahaman tentang tugas kependetaan makin mengandung interens menjual jasa. Dan karena itu tidak jarang kita menemukan gejala bahwa pusat pilihan seorang pendeta sudah bergeser kepada materi”. Tentu saja motivasi material diungkapkan sebagai contoh saja. Masih banyak pilihan yang terbentang di hadapan kita sebagai calon pelayan.

PEMBAHASAN TEKS

Kejadian 12:1-9 memberikan penjelasan tentang panggilan Abraham yang merupakan dasar dan penopang bangsa Israel dalam posisinya sebagai bangsa. Abraham dipanggil untuk meninggalkan tanah nenek moyangnya dan pergi ke tanah yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Di sana Tuhan melindungi dan memberkatinya.

Kita dapat membaginya dalam dua bagian, yaitu Ayat 1-3 adalah berita panggilan Abraham dan janji Tuhan yang akan diterima Abraham dan Ayat 4-9 adalah jawaban atau respon Abraham terhadap panggilan Tuhan.

Pertama, panggilan Tuhan dan janji penyertaan-Nya

Sebelum Allah memanggil Abraham, keluarga Abraham hidup dalam kepercayaan agama suku mereka (Yos. 24:2). Mengapa Abraham menuruti panggilan Tuhan? Alkitab tidak memberikan informasi kepada kita tentang hal itu. Bukankah Abraham berasal dari keluarga yang tidak kenal Allah Israel? Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa ahli berpendapat bahwa Abraham adalah seorang imam, sehingga dia biasa mempersembahkan korban di kuil, karena di mana pun ia berada selalu membangun mezbah. Ia seorang imam, maka ketika mendengar suara Ilahi pasti ia menurutinya. Kemudian janji itu dikuatkan dengan berkat dan penyertaan. Suara Ilahi yang memanggil Abraham adalah Allah Pencipta langit dan bumi. Allah itu telah bekerja di suku-suku bangsa sebelum ada Israel. Alasan yang lain yang membuat Abraham mengikuti panggilan tersebut adalah mencari padang baru bagi ternak-ternaknya serta keamanan. Allah yang memanggil Abraham adalah Allahnya agama-agama “Abrahamic” yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Ada pendapat dari Erastus bahwa Allah memanggil Abraham keluar dari Ur- Kasdim karena Allah menghendaki pola berpikir dan gaya hidup Abraham berubah secara total. Kalau Abraham masih di Ur- Kasdim, ia masih terbelenggu dengan gaya hidup orang Ur-Kasdim yang menyembah berhala. Allah memanggil dan merencanakan untuk membangun suatu bangsa dengan pola pikir yang berbeda.

Allah berfirman kepada Abraham menggunakan kata amar (dalam bahasa Ibrani), kata kerja imperfek. Hal ini menjelaskan suatu tindakan, proses, atau kondisi yang belum rampung dan memiliki makna yang luas. Kata kerja imperfect ini digunakan untuk menyatakan pekerjaan yang belum selesai, termasuk pekerjaan yang hendak dilakukan, yang sedang dilakukan, dan juga yang berulang- ulang dilakukan. Jadi kata amar dalam nas ini menjelaskan suatu perintah yang berasal dari Allah yang harus dilakukan oleh Abraham tanpa harus mempersoalkannya.

Perintah itu dilakukan segera namun pelaksanaan dari perintah itu belum selesai di situ saja, tetapi perintah itu akan digenapi seiring dengan ketaatan Abraham akan firman Allah yang akan memimpin dia sampai kepada penggenapan janji-janji yang telah diberikan Allah kepadanya. Dengan kata lain, perintah Allah kepada Abraham untuk pergi merupakan seruan yang penuh dengan otoritas yang harus dilakukan dan ditaati oleh Abraham, meskipun ia belum mengetahui ke mana tempat yang Allah maksudkan. Perintah dari Allahlah yang mendasari Abraham untuk merespon panggilannya. Perintah atau firman Tuhan yang datang kepadanyalah yang meneguhkan hati Abraham untuk rela meninggalkan kampung halamannya dan keluarganya.

Aspek lain dari keyakinan panggilan Abraham adalah mengimani janji Allah. Pengertian janji dalan PL diungkapkan dengan rupa-rupa istilah: berkat, sumpah, warisan, tanah yang dijanjikan, dan lain-lain. Dalam PB dari kata “epangelia”’ yang berarti: “pemberitahuan, proklamasi, pengumuman. Kata berkat dalam Yunani diungkapkan dengan kata:eulogeo dan makarizo yang lebih menekankan sifat si penerima berkat itu, yaitu berarti yang diberkati berbahagia, diterjemahkan dengan blessed (diberkati). Janji Allah kepada Abraham adalah janji tentang keturunan, tanah dan hubungan yang khusus dengan Allah.

Janji itu digenapi dalam sejarah Israel mula-mula, tetapi tidak pernah digenapi sepenuhnya dalam PL. Mereka yang beriman kepada-Nya telah menjadi keturunan Abraham dan menikmati hubungan yang diperbaharui dengan Allah. Dalam istilah bahasa Ibrani yang diterjemahkan “iman” sebenarnya berarti “menyokong” atau “meneguhkan”. Perkataan Yunani yang diterjemahkan “iman” atau “percaya” berarti “berharap kepadanya” atau “bersandar padanya”. Abraham menjadi “bapak orang percaya”. Kepadanya mula-mula diberikan janji bukan hanya untuk dirinya dan untuk Israel, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain

Kedua, panggilan bersifat pribadi dan hanya karena anugerah Allah.

Alkitab tidak mencatat jelas mengenai bagaimana cara Allah memanggil Abraham. Abraham tidak melakukan diskusi, tawar menawar, keberatan dengan Tuhan. Tidak seperti nabi-nabi lainnya, Yesaya, Yeremia, dll. Sedangkan Musa melihat Allah dalam bentuk semak yang menyala, atau seperti tiang api dan tiang awan tatkala bangsa Israel sedang berjalan di padang gurun. Dalam kisah panggilan Allah kepada Abraham ini, kita hanya dapat menemukan “berfirmanlah TUHAN kepada Abraham.” Maka dapat disimpulkan bahwa panggilan ini bersifat pribadi bukan kolektif dan sebuah penyerahan diri secara total kepada panggilan Allah.

Panggilan ini hanya semata-mata anugerah Allah, artinya bukan manusia yang mencari Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu mencari manusia; bukan manusia yang memanggil Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu memanggil manusia; bukan manusia yang berseru kepada Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu berseru kepada manusia; bukan manusia yang memilih Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu memilih manusia. Dalam hal inilah terlihat konsep anugerah yang erat berkaitan dengan panggilan Allah kepada Abraham yang bersifat pribadi atau personal. Allah sendiri yang berinisiatif untuk memanggil Abraham dan mengadakan perjanjian dengan Abraham. Allah yang berinisiatif memanggil dan mencari manusia itu terlihat dalam pelayanan Yesus. Di mana Ia yang memanggil dan mencari murid-murid-Nya.

Ketiga, respon Abraham ketaatan dalam iman.

Abraham melakukan apa yang Allah firmankan dan menuruti akan apa yang diperintahkan kepadanya. Mengapa demikian? Abraham tidak tahu dia bersama keluarga hendak ke mana sebagai orang asing. Bahaya bisa mengancam keluarga yang dibawah beserta harta miliki.

Menurut pandangan L Bakker, bahwa iman yang dimilki Abraham adalah hal yang utama, yaitu penyerahan secara totalitas kehidupan kepada yang Maha Kuasa. Rasa bimbang tidak ada pada diri Abraham itu terlihat dari kisah dan apa yang dilakukan Abraham dalam menaati firman Tuhan. Abraham juga tidak ragu melepaskan apa yang dipunyainya. Ketika Allah berfirman kepada Abraham untuk mengadakan perjanjian, Abraham meresponsnya dengan cara mendengar dan percaya. Abraham tidak menolak panggilan Allah atas dasar ketidaklayakkannya atau ketidakberdayaannya, melainkan sebaliknya, ia merespons panggilan Allah dengan keluar, pergi dari kampung halamannya.

Keempat, respon Abraham bentuk ungkapan persembahan syukur (ayat 7-8).

Mezbah adalah tempat persembahan kurban kepada Allah dan juga tempat berdoa bagi mereka. Dalam PL ketika seorang Imam datang menghadap Tuhan selalu ada mezbah karena mereka menghadap Tuhan tidak pernah “tangan kosong” harus membawa korban persembahan.

PENUTUP

Renungan :

Pertama, pekerjaan sebagai pelayan jemaat bukan pekerjaan menjual jasa, melainkan pekerjaan karena panggilan. Panggilan adalah sebuah penyerahan hidup secara total kepada kedaulatan Allah. Karena itu, butuh ketenangan hati untuk berdoa mendengar suara Tuhan karena itu, “memperbanyak tim doa” bukan “memperbanyak tim sukses.”

Abraham berjalan karena panggilan. Panggilan tidak jatuh sama dengan keinginan diri sendiri maupun cita-cita pribadi. Abraham juga tidak memiliki ambisi dan cita-cita atau mengadakan tawar menawar, menolak, tetapi menyerahkan diri secara total kepada kehendak Tuhan. Jika panggilan adalah sebuah keinginan dan cita-cita, maka orang menawarkan diri, kampanye dan kalau bisa menggunakan berbagai cara untuk memperolehnya.

Kedua, pelayan adalah salah satu jabatan pelayanan yang diyakini oleh gereja, jabatan yang bersumber dari panggilan khusus dari Allah. Menjadi presbiter melalui penahbisan dan peneguhan penumpangan tangan disertai pengukuhan dan janji. Panggilan ini bukan bersumber dari manusia atau pemberian manusia, bukan pula hasil usaha manusia melainkan bersumber dari panggilan Allah.

Dalam tata ibadah peneguhan penatua, diaken dan pengajar ada pertanyaan-pertanyaan untuk calon penatua, diaken dan pengajar sebagai berikut:

1. Apakah saudara dengan segenap hati percaya bahwa Allah sendiri telah memanggil kamu untuk pekerjaan yang kudus ini?

2. Apakah saudara/i berjanji untuk melayani Tuhan melalui jemaat-Nya dengan setia dan percaya kepada Yesus Kristus selaku Kepala Gereja sesuai dengan kesaksian Alkitab dan taat kepada peraturan-peraturan gereja yang ada?

Maka dengan lantang para calon mengaku dan berjanji untuk melaksanakan panggilan Tuhan.

Demikian juga dalam tata ibadah penahbisan pendeta, ada pengakuan dan janji calon pendeta. Beberapa kata kunci yang kita catat, misalnya “mengaku percaya bahwa Allah sendiri yang memanggil”, “berjanji bahwa senantiasa bertekun dalam iman” dan “berjanji akan menjalankan tugas dan tanggungjawab.”

Janji ini merupakan janji pribadi atas dasar iman. Imanlah yang membuat seseorang yang memberikan dirinya untuk melayani.

Panggilan itu personal dan dalam sebuah proses yang akan menyatakan pekerjaan yang belum selesai, termasuk pekerjaan yang hendak dilakukan, yang sedang dilakukan, dan juga yang berulang-ulang dilakukan. Jadi, ketika diteguhkan menjadi presbiter, setiap hari Allah memanggil kita untuk melayani, artinya kita selalu siap ketika diminta untuk melayani. Ketika ada jemaat di rayon atau gugus yang membutuhkan pelayanan lalu kita mengatakan tidak siap maka kita menolak panggilan Tuhan. Tuhan memanggil kita melalui sesama kita yang membutuhkan pelayanan.

Ketiga, seorang yang menjawab panggilan Tuhan, ia bersedia di tempatkan di mana saja. Abraham dipanggil Tuhan untuk keluar dan pergi ia taat secara total karena yang memanggil dia adalah Tuhan yang menjanjikan perlindungan dan berkat.

Kempat, mengikuti panggilan Tuhan dalam pelayanan adalah bukti syukur kita kepada Allah yang memilih kita tanpa melihat latar belakang keberdosaan kita. Teruslah “berjalan” dalam panggilan Tuhan karena semakin anda dan saya jauh berjalan, maka melihat bakat-bakat penyertaan-Nya.

Abraham tidak pernah berpikir untuk kembali ke kampung halamannya ketika mengalami kesulitan berupa kekeringan, kelaparan, bahkan mendapat keturunan pun menjadi sesuatu yang mustahil karena Sara, isterinya sudah lanjut usia. Seorang yang dipanggil Allah dalam pelayanan ketika menghadapi kesulitan ia tidak pernah menyangkal panggilannya, imannya, meninggal panggilan pelayanan karena kebutuhan makan minum, pakaian, dll..

Abraham setia pada panggilan Tuhan sehingga ia memperoleh janji itu. Ia dan keluarganya dipelihara oleh Allah. Janji itu tidak hanya kepada Abraham tetapi kepada keturunannya, Israel, bahkan lahirlah umat-umat dari Ibrahim. Ia dikatakan bapa segala orang percaya. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *