MENGAPA SAYA BAPTIS PERCIK?

MENGAPA SAYA BAPTIS PERCIK?

PENGANTAR

Tulisan ini saya buat sebagai pendeta Gereja Masehi Injili di Timor yang yakin bahwa baptisan percik benar. Kebenaran yang saya anut ini tidak berarti saya menganggap baptisan yang lain salah. Tidak. Persolan kita ada pada interpretasi masing-masing tentang isi kitab suci dan latar belakang gereja di mana kita menjadi warganya. Sebagai pendeta yang menjalankan baptisan percik, saya meletakannya dalam interpretasi teologis-eklesiologis saya dengan segala keterbatasannya. Ada ruangan untuk kita berdialog tentang baptisan namun dengan tidak menghakimi dan merendahkan cara baptisan gereja lain. Jika kita masih dalam ruangan debat tentang mana baptisan yang benar dan mana yang salah, maka bagi saya kita mengalami “gangguan” identitas keberagamaan.

MENGAPA BAPTISAN PERCIK?

Gereja bukan terdiri dari orang-orang suci, sempurna dan tak bercela, melainkan terdiri dari orang-orang berdosa yang dikuduskan oleh Allah dan dipanggil supaya menguduskan dirinya juga. Oleh karena itu, kehidupan orang beriman penuh dengan pergumulan. Di dalam pergumulan itu orang beriman membutuhkan sarana guna menguatkan imannya. Sarana itu adalah firman dan pelayanan sakramen (Harun Hadiwijono: 2006). Sakramen adalah tanda dan meterai yang ditetapkan oleh Allah guna menandai dan memeteraikan janji Allah di dalam Injil.

Gereja Protestan hanya mengenal dua sakramen, yaitu baptisan kudus dan perjamuan kudus. Baptisan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu selam dan percik. Baptisan selam, yaitu baptisan orang dewasa dan itu dilakukan oleh gereja-gereja baptis, sedangkan baptisan percik adalah baptisan anak-anak, dan biasa dipakai oleh gereja-gereja yang beraliran Calvinis termasuk GMIT. Namun, gereja yang beraliran Calvinis juga membaptis orang dewasa, yaitu mereka yang baru menjadi Kristen dengan baptisan percik.

Alkitab menceritakna bahwa Tuhan Yesus dibaptis secara selam oleh Yohanes Pembaptis. Gereja yang melakukan baptisan selam mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang memerintahkan baptisan selam, dan orang yang tidak melakukan baptisan selam berarti tidak taat pada otoritas Tuhan. Untuk membuktikan penekanan ini orang baptisme menerjemahkan kata bapto dan baptize hanya terbatas pada arti “mencelup”, “menenggelamkan” (Louis Berkhof: 2003). Akan tetapi ada arti lain seperti “membasuh” “memandikan” dan juga memurnikan dengan cara membasuh. Pemurnian ini dimungkinkan dengan cara pemercikan (Rom. 6:3; I Kor. 13:13; Ibr. 9:10).

Alkitab tidak menyebutkan dan menetapkan cara tertentu dalam hal membaptis, baik percik maupun selam. Yesus tidak memberikan resep untuk cara melakukan baptis tertentu. Tidak pernah terjadi suatu peristiwa pun yang di dalamnya kita diberi tahu secara jelas bagaimana baptisan harus dilakukan, walaupun baptisan itu merupakan perintah Tuhan Yesus sendiri (Yoh. 3:5; Mat. 28:19; Kis. 8:13 dan Kis. 10:37). Baptisan dalam jemaat PB hanya menyebutkan rumusan “dalam nama Tuhan Yesus”. Sejak akhir abad pertama baru baptisan menggunakan rumusan Trinitas, yaitu dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (F.D Wellem: 2003) .

PB hanya menceritakan cara baptisan Yohanes Pembaptis, yaitu baptisan selam, di mana Tuhan Yesus juga dibaptis dengan cara demikian. Namun, dalam keempat Injil tidak menceritakan bahwa orang banyak yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes dibaptis dengan cara menyelam atau dicelupkan dalam air satu persatu, tetapi hanya dikatakan bahwa mereka diperingati oleh Yahanes Pembaptis untuk bertobat dan memberi diri dibaptis di sungai Yordan (Mat. 3:6 Mar. 1:5 Luk. 3:21). Berkhof mengatakan bahwa, apakah Yohanes Pembaptis harus melakukan sesuatu pekerjaan yang berat untuk menyelamkan sedemikian banyak orang itu satu persatu ke dalam sungai Yordan, dan mungkinkah dia melakukannya, atau apakah ia sekedar mencurahkan air atas mereka? Apakah para rasul membaptis 3.000 orang yang percaya pada hari Pentakosta dengan mencelupkan mereka dalam air? Tidakkah cerita tentang baptisan Kornelius (Kis. 10:47-48) memberi kesan bahwa air yang dibawa dan mereka yang hadir dibaptiskan dalam rumah mereka? Adakah bukti bahwa kepala penjara di Filipi tidak dibaptis dalam penjara atau di suatu tempat dekat penjara itu? Apakah pada waktu itu kepala penjara membawa para tawanannya ke sungai agar ia dibaptiskan di sungai? Beranikah kepala penjara itu membawa tawanannya ke luar kota ketika ia diperintahkan untuk menjaga mereka jangan sampai lari (Kis. 16:32-33).

Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis berpangkal pada upacara pembersihan hal-hal yang haram menurut agama Yahudi. Upacara menghalalkan diri itu dilakukan dengan cara membenamkan seluruh tubuh seorang ke dalam air yang mengalir. Upacara itu mencerminkan harapan yang tertulis dalam Yehezkiel 36:24-26. Dalam ayatnya yang ke- 25 mengatakan bahwa “Aku mencurahkan (Ibrani = memercikkan) kepadamu air jernih yang akan mentahirkan kamu…”. Akan tetapi pada hari itu Yohanes mendasari baptisan tersebut pada datangnya sebuah zaman baru yang memanggil orang untuk menanggapinya. Ia berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 3:2). Kemudian ia melihat Yesus datang lalu Yesus menerima baptisan (Andar Ismail: 2010).

Baptisan Yesus di sungai Yordan tidak bisa dijadikan model bagi pelaksanaan baptisan di dalam gereja. Ada tiga alasan untuk hal itu (Ebenhaizer I. Nuban Timo: 2006). Pertama, baptisan dalam gereja merupakan penyatuan seseorang ke dalam gereja. Melalui baptisan seseorang diterima sebagai anggota atau warga dari umat Allah. Baptisan Yesus di sungai Yordan tidak menunjuk kepada hal itu. Peristiwa di mana Yesus disatukan dalam persekutuan umat Allah sebagai anggota umat perjanjian bukanlah baptisan di sungai Yordan melainkan sunat di Bait Allah pada waktu Ia berumur delapan hari (Luk. 2:22). Kedua, baptisan Yesus di sungai Yordan menunjuk kepada penugasan khusus untuk menjalankam tugas kemesiasan yang Ia terima dari Allah. Baptisan Yesus di sungai Yordan merupakan saat pelantikan-Nya ke dalam jabatan Mesias yang menderita sebagai tebusan bagi banyak orang. Dalam gereja, seseorang dibaptis bukan untuk menjadi mesias, melainkan menjadi tanda dan meterai sebagai warisan yang sudah dikerjakan oleh sang Mesias. Ketiga, baptisan yang diterima Yesus menunjuk kepada peristiwa penyaliban-Nya di Golgota. Di bukit itulah Allah membuat sebuah perjanjian yang baru, yaitu rekonsiliasi atau perdamaian hubungan Allah dan manusia.

Baptisan Yahanes Pembaptis adalah baptisan pertobatan. Apakah Yesus perlu bertobat sehingga Ia memberi diri dibaptis? J. H. Bavinck mengemukakan tiga alasan mengapa Yesus memberi diri dibaptis, yaitu:

a. Yesus menyamakan diri-Nya dengan kita. Ia tidak berdosa, tidak perlu bertobat, tidak perlu menanggalkan hidup yang lama sebagaimana kita harus perbuat. Tuhan Yesus tidak memerlukan keampunan dosa karena itu baptisan tidak perlu bagi-Nya, namun Ia meminta diri-Nya dibaptiskan, karena dalam segala hal Ia hendak menyamakan diri-Nya dengan kita. Dosa kita dipikul-Nya, Ia meninggalkan asal-Nya semula, dalam segala hal Ia hendak sama dengan kita.

b. Baptisan berarti suatu kematian dan kebangkitan. Kalau seorang masuk ke dalam air sampai air itu sungguh-sunguh meliputinya, ia seakan-akan sudah mati. Jadi kalau ia timbul kembali dari dalam air, itu berarti ia bangkit lagi menempuh hidup baru. Tuhan Yesus pun harus mati. Ia harus turun ke lembah maut, karena Ia hendak sama dengan kita, Ia mau memikul dosa kita. Kemudian barulah Ia bangkit dalam kemuliaan. Jadi pembaptisan Tuhan Yesus itu berarti kematian-Nya, atau bayangan dari kayu salib. Tuhan Yesus pernah mengumpamakan kematian-Nya dengan baptisan-Nya (Mat. 20:22). Pembaptisan itu adalah tanda Penjanjian Baru, sekalipun tidak ada darah yang mengalir namun artinya sama saja.

c. Hendaklah jelas bagi kita bahwa Yesus memenuhi pembaptisan itu. Artinya sakramen itu dipenuhi oleh karena Dia. Dalam arti yang sedalam-dalamnya Dialah manusia yang satu-satunya dibaptiskan. Segala manusia dari segala abad telah “dibaptis dalam kematian-Nya”. Kristus adalah satu-satunya manusia yang telah turun ke dalam lembah maut dan telah bangkit dari antara orang mati. Pembaptisan kita berarti perpaduan dengan Dia.

Baptisan yang diterima oleh Yesus mempunyai arti asasi untuk sakramen baptisan kudus yang dilangsungkan oleh gereja Kristen (G. C. van Niftrik, B. J. Boland: 2005). Baptisan Yesus di Sungai Yordan menunjuk kepada kematian-Nya, yang menghasilkan pengampunan dosa bagi segenap dosa umat manusia. “lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Baptisan yang sesungguhnya sudah terjadi satu kali untuk selama-lamanya. Gereja melakukan sakramen baptisan kudus, sebagai tanda dan meterai bahwa hasil baptisan di Golgota sungguh-sungguh berlaku bagi kita semua. Gereja melakukan baptisan kudus supaya oleh baptisan itu kita dimasukan ke dalam tubuh Kristus di dunia, yaitu merupakan cap orang-orang beriman dan anak-anak-Nya selaku jemaat yang dikuduskan untuk menjadi milik Kristus secara khusus (I Kor. 7:14).

Pada umumnya gereja-gereja yang beraliran Calvinis melakukan baptisan kepada seseorang dengan cara percik atau baptisan anak. Baptisan itu harus dilakukan di dalam gereja dan diperkenalkan kepada jemaat agar menjadi saksi baptisan yang diserahkan kepada Allah (Cristian de Jonge: 2006). Ada tiga hal yang mengatakan keabsahan sebuah pelayanan baptisan. Pertama, baptisan harus dilakukan di dalam pertemuan jemaat. Kedua, upacara baptisan dilayani oleh pejabat yang diakui dan ditetapkan oleh gereja. Ketiga, pelaksanaan baptisan dilakukan dengan formulasi yang tepat, yakni dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Calvin sendiri mengatakan bahwa baptisan anak sangat penting, karena melalui baptisan anak, iman para orang tua diperkuat. Baptisan terhadap anak dinyatakan dengan tanda yang kelihatan bahwa kesetiaan Allah berlaku juga untuk anak-anak mereka, bahkan turun-temurun. Penting bagi mereka untuk sedini di masukan dalam persekutuan gereja karena dengan demikian iman mereka dapat dibina sejak awal. Lebih lanjut pada saat menjadi dewasa ada kesadaran bahwa mereka telah terima oleh Allah sebagai anak-Nya. Calvin bertolak dari Markus 10:13-16 sebagai bukti bahwa kasih karunia meluas sampai mereka juga. Oleh karena itu, menolak baptisan anak berarti sama saja dengan menyepelekan perjanjian Allah dengan anak-anak.

Anak kecil dibaptis karena mereka termasuk dalam perjanjian dan dalam jemaat-Nya. Mereka seperti orang dewasa, melalui darah Kristus mereka tidak kurang dari orang dewasa, mereka juga menerima janji kelepasan dari dosa-dosa dan Roh Kudus yang bekerja menciptakan iman. Mereka perlu dimasukkan dalam gereja Kristen dan dibedakan dari anak-anak agama lain melalui baptisan sebagai tanda perjanjian. Dalam PL dilakukan melalui sunat, sedangkan dalam PB dibaptis.

Baptisan adalah perjanjian antara dua pihak, namun kedua pihak itu sama sekali tidak sederajat. Tuhanlah yang membuat prakarsa, manusia yang menerimanya. Seseorang dibaptis bukan karena prestasi iman. Baptisan bukan hasil pertobatan melainkan hasil anugerah Tuhan. Isi perjanjian itu pun bersifat anugerah. Allah mau berdamai dengan manusia. Contohnya, dalam Yeremia 31:31-33 dikatakan bahwa “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku”. Perjanjian ini bersifat komunal. Perjanjian dengan Nuh berlaku bagi seluruh keluarganya. Demikian juga perjanjian dengan Abraham. Sebab itu baptisan berlaku bagi anak-anak yang orang tuanya menerima perjanjian, walaupun anak itu belum percaya atau belum mengenal pokok-pokok iman Kristen.

Seorang anak kecil yang sudah dibaptiskan akan dibimbing dalam pertumbuhan iman oleh kedua orang tuanya, orang tua saksi dan gereja. Mereka harus mengikuti pengajaran katekisasi bertahun-tahun baru ia menyatakan tanggapannya sendiri kepada Tuhan. Inilah yang disebut peneguhan sidi. Secara harafiah sidi berarti genap, penuh atau sempurna. Peneguhan sidi merupakan tindak lanjut dari penggenapan baptisan yang diterima di bawah usia (pada waktu kecil).

Gereja beraliran Calvinis juga membaptis orang dewasa, yaitu mereka yang non-Kristen, mereka percaya kepada Yesus Kristus dan kemudian menjadi warga gereja. Baptisan orang dewasa harus diawali oleh sebuah peryataan pengakuan iman (Mrk. 16:16; Kis. 2:41; 8:37; 16: 31-33). Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa ketika murid-murid Yesus meberitakan Injil dan orang-orang tersebut percaya, maka mereka dibaptis. Untuk itu sebelum membaptis orang dewasa, gereja menekankan pengakuan iman dan pertanyaan-pertanyaan mengenai kesungguhan seseorang. Jika seseorang telah menyatakan pengakuan imannya dan menjawab pertanyaan, maka gereja menerimanya sebagai sesuatu yang bernilai, dan dibaptis menjadi warga gereja.

Ada syarat utama yang diterapkan bagi orang dewasa yang mau dibaptis. Syarat itu adalah kepercayaan akan kasih Allah yang menyelamatkannya di dalam Yesus Kristus yang telah dikabarkan dalam pemberitaan firman Tuhan, dan keinginannya dengan penuh sukacita untuk menjadi murid Yesus serta mulai hidup baru bersama Dia. Selain itu, ada syarat yang kedua, yaitu orang yang dibaptis harus merasa membutuhkan pembebasan yang sungguh-sungguh dari ikatan-ikatan yang lama, dan mempunyai kemauan untuk menyerahkan serta mempercayakan seluruh jiwanya kepada Kristus.

Gereja harus mendapat kepastian bahwa orang yang diizinkam menerima baptisan sungguh-sungguh memaknai iman. Karena itu gereja harus mengajarkan kepada calon baptisan pokok-pokok iman Kristen dan kehidupan bersusila yang timbul dari perkembangan iman itu. Zaman sekarang berbeda dengan zaman rasul-rasul. Pada zaman rasul-rasul, jika ada orang non-Kristen yang percaya maka ia akan segera dibaptis. Akan tetapi, pada masa sekarang diperlukan masa persiapan yang sungguh-sungguh sebelum seseorang dibaptis.

Jadi dapat dikatakan bahwa membaptis anak kecil merupakan akta objektif, karena sekalipun mereka masih kecil dan belum mengetahui pokok iman Kristen tetapi mereka dimasukkan ke dalam perjanjian Allah melalui iman orang tua. Sedangkan baptisan orang dewasa merupakan akta subjektif, di mana orang tersebut mengaku percaya baru ia dibaptis.

MENOLAK BAPTIS ULANG

Gereja tidak perlu melakukan baptisan ulang. Bagi mereka yang pindah dari denominasi Kristen lainnya yang sudah dibaptis, tidak perlu dibaptis lagi karena mengajar orang untuk dibaptis ulang merupakan dosa dari sudut pandang teologis dan gereja (eklesiologi). Dari sudut pandang teologis baptisan ulang berarti penyangkalan terhadap kesetiaan Allah pada perjanjian, dan mempermainkan perjanjian Allah. Dari sudut pandang gereja, baptisan ulang merupakan dosa karena dengan melakukan hal tersebut berarti gereja menganggap diri berkuasa menentukan keselamatan. Demikian juga dengan menolak baptisan anak. Dari sudut pandang teologis berarti menolak kesetiaan Allah dan perjanjian Allah terhadap anak-anak. Menolak baptisan anak dari sudut pandang gereja berarti gereja sepertinya membatasi keselamatan hanya kepada orang dewasa.

(Pdt. Frans Nahak pelayan di GMIT Paulus Taebone, Klasis Amanuban Timur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *