MENGHORMATI ALLAH DAN MENAATI FIRMANNYA- KELUARAN 20:1-17

MENGHORMATI ALLAH DAN MENAATI FIRMANNYA

KELUARAN 20:1-17

 Apakah ada anak yang menganggap pekerjaan dan aturan-aturan yang berlaku dalam rumahnya sendiri sebagai sebuah beban? Bagi Saya tidak, sebab anak itu lahir, bertumbuh dan dibentuk dalam keluarga. Aturan dalam rumah merupakan standar yang berlaku dalam rumah itu dan diikuti anggota keluarga di dalam rumah tersebut. Jika Anda dan Saya merasa terbeban berarti bukan seorang anak dari dalam rumah.

Anda dan Saya menyetir sepeda motor diwajibkan untuk tertib berlalu lintas, salah satu syaratnya harus menggunakan helm standar. Dalam perjalanan Anda dan Saya harus menaati aturan lalu lintas: apakah hal itu merupakan sebuah beban? Aturan lalu lintas berlaku bagi setiap pengendara. Aturan untuk menjaga keselamatan kita, keselamatan sesama dan juga tidak mengganggu orang lain.

Secara garis besar kita membagi bacaan dalam beberapa pokok:

Pertama, Kesepuluh Perintah Allah dikenal juga dengan kesepuluh Firman. Perintah-perintah ini singkat dan jelas, yang meringkaskan tuntutan-tuntutan hukum serta mewakili hukum moral. Kemudian membedakannya dari hukum sipil atau hukum ritual. Namun, perlu diingat bahwa kesepuluh hukum ini, muncul setelah hubungan Israel dengan Allah telah terjalin. Pemberian Sepuluh Perintah itu adalah merupakan suatu babak pembukaan yang menunjukkan bahwa Israel “telah” diselamatkan melalui hubungan pribadi dengan Allah, yang ditunjukkan melalui pernyataan: “Akulah Tuhan…”(Kel. 20:2). Dalam Kel. 20:2-6, Allah menyebut diri-Nya dalam bentuk orang pertama tunggal (Aku), sedangkan dalam Kel. 20:7-17 sebutan untuk Allah dinyatakan dalam bentuk kata ganti atau orang ketiga tunggal (Dia/Nya).

Josephus, menyatakan bahwa dari sepuluh hukum ini, bagian pertama berisi lima perintah yang secara eksklusif berhubungan dengan bangsa Israel, sementara kedua berisi lima perintah yang sifatnya universal. Ayat 7-17 kita dapat membagi lagi menjadi dua bagian, yaitu ay. 7-11 meliputi perintah-perintah yang berhubungan dengan keagamaan, dan ay. 12-17 menyangkut masalah-masalah sekular.

Kedua, kalimat yang menyatakan bahwa “yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”, menjadi suatu rumusan yang luar biasa di dalam Alkitab dan muncul nantinya sebanyak seratus dua puluh lima kali. Dengan pernyataan tersebut, menunjukkan bahwa “anugerah” muncul sebelum perintah, hukum, ataupun kewajiban lainnya. Dan juga Allah berfirman kepada seluruh umat Israel secara kolektif sebagai bangsa sekaligus kepada setiap individu. Tuhan Allah sendirilah yang telah memilih mereka dan membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Dengan demikian mereka harus merespons kepada Allah untuk memenuhi panggilan dalam hubungan dengan-Nya secara pribadi tanpa ada allah yang lain. Kebebasan yang Allah berikan pada Israel adalah kebebasan untuk menyembah-Nya (Kel 4:23). Oleh karena itu, orang Israel melakukan dengan ucapan syukur atas apa yang telah Allah lakukan pada mereka. Tuhan telah memilih dan melepaskan umat-Nya dari tuan yang lain (Mesir), karena itu Dia menuntut kesetiaan mereka kepada-Nya tidak bercabang.

Ketiga, Ayat 3 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” merupakan dasar semua perintah yang lain. Pernyataan mengenai tuntutan untuk tunduk dan menyembah hanya kepada TUHAN. Melanggar perintah ini berarti menyangkali seluruh hubungan perjanjian. Di sini terdapat tuntutan kesetiaan kepada Allah. Bahkan loyalitas menjadi pusat seluruh kehidupan serta kelakuan mereka. Mereka beribadah kepada Tuhan saja dan dilarang beribadah kepada allah lain. Perintah ini diperintahkan kepada Israel untuk membangun suatu hubungan yang khusus antara diri-Nya dengan umat-Nya.

Perintah Allah bukan dimaksudkan untuk membangun hubungan dengan Tuhan, sebaliknya Perintah Allah dimaksudkan untuk mengatur hubungan Israel dengan Allah dan sesama. Selain itu, Sepuluh Perintah juga dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi mereka yang telah “diselamatkan.” Perjanjian Israel dengan Allah tidak terjadi karena mereka baik, karena sesungguhnya, mereka adalah orang yang keras kepala (Ul. 9:6). Perjanjian itu juga tidak dilakukan karena mereka hebat, tetapi semata-mata karena Allah mengasihi mereka (Ul. 7:7-9). Hubungan itu sendiri menyangkut anugerah bukan hukum.

Keempat, Perintah sebagai suatu anugerah kasih setia Tuhan. Sebagai tanda bukti bahwa Ia memelihara umat-Nya. Kemudian hari muncullah Torah, yang dibagi dengan berbagai cara, sesuai dengan bentuk kesusastraannya. Mengenai isinya, terdapat tiga golongan hukum-hukum dan perintah-perintah. Pertama, dekalog atau Sepuluh Perintah, yakni kesepuluh perintah Tuhan. Kedua, misypatim, yakni undang-undang hukum sipil yang mengatur kehidupan umat Tuhan sebagai ”warganegara” (peraturan-peraturan tentang janda dan yatim piatu, orang-orang miskin, budak belian, orang-orang asing, orang-orang sakit). Ketiga, khuqqim, yakni undang-undang yang berisi ketetapan-ketetapan tentang kebaktian.

Renungan:

Pertama, orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pelayanan mengikuti aturan-aturan, ketetapan dari lembaga darinya ia diutus. Kemudian mengikuti standar aturan etis moral yang berlaku secara umum dalam masyarakat. Aturan dan ketetapan bukan sebagai sebuah beban tetapi sebagai “alat kontrol” untuk merawat keselamatan. Perenungan kita tentang Firman ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita. Oleh karena itu, sebagai orang percaya melaksanakannya dengan gembira dan syukur kepada Allah. Sepuluh Perintah Allah merupakan anugerah Allah bagi umat manusia sehingga diresponi oleh kita semua. Sepuluh Perintah Allah bukan untuk membebani umat namun mengatur hubungan orang Israel dengan Tuhan dan sesama. Dengan Sepuluh Perintah Allah, orang Israel beribadah kepada Tuhan dengan tertib dan juga menjalani kehidupan bersama secara tertib. Mereka bisa menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain. Firman Allah melalui sepuluh hukum ini mengingatkan kita agar kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan sesama kita.

Kedua, keselamatan adalah anugerah Allah. Anugerah itu datang setelah perintah Allah. Orang Israel telah diselamatkan dari perbudakan, setelah itu baru diberikan sepuluh hukum. Oleh karena itu, keselamatan bukan karena perbuatan baik kita, bukan berbuat baik supaya selamat tetapi karena kita telah diselamatkan sehingga kita berbuat baik. Itulah yang membedakan kekristenan dengan ajaran agama lain.

Kita menaati perintah Tuhan karena kita telah diselamatkan. Orang tua melahirkan kita bukan karena kita baik sehingga dilahirkan, tetapi setelah kita dilahirkan baru dibentuk menjadi orang baik. Lalu apakah ketika kita nakal, kita tidak lagi menjadi anak? Tidak. Kita akan tetap dididik menjadi anak yang baik sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku dalam rumah dan secara umum di masyarakat. Saat kita menyetir sepeda motor, lalu kedapatan oleh pihak berwajib bahwa kita melanggar peraturan lalulintas: apakah kewargaan negara kita dihapus? Tidak. Kita dikenai tindakan disiplin dan aturan yang berlaku secara umum. Itulah makna sepuluh hukum, bukan untuk menghukum kita tetapi membentuk, mendidik dan mengatur kita hidup sebagai anak-anak Allah dalam dunia ini.

Ketiga, dalam Perjanjian Baru Yesus menyimpulkan sepuluh hukum bahkan seluruh isi hukum Taurat dalam Hukum Kasih, yakni mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (Mat. 22:37). Artinya, bahwa mengasihi dengan segala totalitas hidup kita dan dinyatakan dalam bentuk kesetiaan kita kepada-Nya. Oleh karena itu tidak ada ruangan dalam hati untuk allah yang lain.

“Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu…”, kata “cemburu” digunakan istilah ‘e^l qanna^’ dipakai untuk Allah, yang menunjukkan; pertama, kualitas dari karakter-Nya yang menuntut pengabdian penuh agar dapat mengenal secara benar siapa yang mereka sembah, kedua, menunjukkan sifat Allah yang tegas kepada setiap orang yang melawan-Nya dan ketiga, menunjukkan kuasa yang Dia gunakan untuk menghakimi umat-Nya. Dengan demikian, kecemburuan Allah adalah suatu ungkapan emosi yang olehnya Allah tergerak atau terdorong untuk bertindak atas apa saja karena kasih-Nya. Oleh karena itu orang Kristen diminta untuk mengabdi dengan segenap hati kepada Tuhan.

Hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mar. 22:39). Bagaimana kita memperlakukan diri kita, demikian juga kita memperlakukan orang lain. Sesama tidak menunjuk kepada kelompok tertentu tetap kepada semua manusia, jadi mengasihi bukan hanya sesama orang Kristen tetapi kepada sesama manusia dari berbagai latar belakang. Amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *